Dalam Naungan Hujan

by membualsampailemas


Kini ia bisa berjalan seperti manusia pada umumnya, dengan kedua kaki yang diayunkan silih berganti, tangan melenggang, pandangan lurus ke depan. Dulu ia tak bisa berjalan sama sekali, dan hanya terbang mengambang, ya, sekira 30 sentimeter dari permukaan tanah dan sekarang ia harus menjalani kehidupannya dengan berjalan kaki seperti orang-orang lain. Betapa ia sudah berusaha untuk belajar berjalan dan meninggalkan terbang.

Dalam kehidupan ini, masalah-masalah selalu datang seperti gelombang ombak di tepi pantai yang tiada pernah berhenti untuk menerjang, menghempas, atau bahkan menyeret sesuatu ke tengah lautan ujian. Begitupun dengan ia yang kini sudah bisa berjalan dan tidak lagi terbang mengambang, kini ia harus berhadapan dengan masalah lain lagi: hujan. Setelah kehidupannya hampir hancur gara-gara hatinya telah habis tergerus zaman sehingga membuatnya gagal terbang dan mengharuskannya berjalan seperti kebanyakan orang, kini setiap kali ia pergi selalu saja ada hujan yang menaunginya. Tak heran, ia selalu membawa jas hujan dan payung kemanapun pergi.

Kemudian, hampir setiap orang heran mengapa ia selalu saja dinaungi hujan. Ketika ia berjalan, hujan selalu menjadi tirai pengiring, beserta atap mendung yang selalu menggantung persis di atasnya. Sesekali orang-orang menengok ke atas melihati awan yang menurunkan hujan hanya untuk ia. Awan itu tak terlalu lebar tapi juga tak terlalu sempit, cukup untuk mengguyur satu lapangan futsal, mungkin.

“Apa aku sebegitu menyedihkan sehingga hujan selalu mengguyurku kemanapun aku pergi?”, pikirnya, “apakah pertanda hujan ini?”

Terkadang memang hujan membuatnya senang karena hujan itu sejuk, membawa kedamaian yang sendu. Ia merasa tenang dan tentram jika mendengar rintik-rintik tirai hujan yang lembut jatuh mengenai genting rumahnya. Lantas dengan segala suara yang berkonspirasi pada malam hari ketika hujan itu menitiki atap rumahnya, ia akan tidur dengan lebih nyenyak. Namun, tak jarang pula ia dibuat kesal karena hujan itu begitu mengganggunya jika hendak bepergian. Setiap kali ia harus selalu membawa jas hujan dan payung, bahkan hanya untuk pergi ke warung. Belum lagi bila harus bertemu dengan orang lain, pasti orang itu akan protes tentang hujan yang menyertainya itu.

“Kok tiap ada kamu pasti hujan, ya?”, kata salah seorang temannya, “padahal ini musim kemarau.”

“Mana kutahu,”, jawabnya, “mungkin ini hujan kiriman.”

“Mending kalau hanya mendung, atau paling tidak gerimis. Tapi ini hujannya cukup lebat.”

Begitulah ia yang baru saja beberapa minggu bisa berjalan dengan kedua kakinya, kini harus menghadapi masalah baru: hujan yang selalu menaunginya. Masa-masa awal tatkala tirai hujan selalu menggantung di atasnya bisa ia maklumi, dan ia mulai terbiasa untuk suka akan hujan. Namun ketika sudah menginjak bulan ke-3 semenjak hujan selalu ikut kemanapun ia pergi, ia hampir tak tahan. Tak tahan dengan berbagai omongan orang. Bukan karena hujan itu sendiri, tapi karena hujatan dan cibiran manusia sekitarnya. Sungguh sebenarnya ia tak terlalu berkeberatan akan hujan itu secara pribadi, tapi tetangga-tetangga, teman-teman, bahkan orang-orang yang tidak ia kenal kini semua membicarakannya. Ada yang memprotes, ada yang menyindir, ada yang menghujat, meski ada juga yang memuji.

“Baiknya kamu pergi ke Gurun Sahara saja sana! Di sana lebih membutuhkan hujan daripada di sini!”

“Betul! Kami sebagai tetanggamu sudah bosan dengan hujan yang tak pernah berhenti jika kamu ada di rumah. Cucian kami tak pernah lekas kering hanya karena kamu ada di rumah.”

Begitulah kata para tetangga. Bukan hanya satu-dua yang berkata demikian, hampir satu komplek perumahan telah menasihatinya agar pindah rumah karena hujan itu dinilai telah terlalu mengganggu ketentraman warga komplek. Apabila ia berjalan keluar rumah, semua orang akan melihati dari balik jendela masing-masing dengan pandangan yang menghujam dan menyiksa. Beberapa pemuda yang sebal malah mengejarnya sembari melempari batu. Tak ayal dia selalu bersiap untuk lari dalam naungan hujan. Sementara di dalam pedalaman diri, ia masih saja bimbang sendiri.

Sore itu dari dalam rumahnya, ia bersembunyi di balik tirai dan memandangi kejauhan dari jendela. Ia mengusapi embun di jendela dengan tangan. Hujan di luar sana ia sadari sebagai bagian dari dirinya sendiri. Ia memikirkan apa yang bisa membuat hujan ini berhenti. Apa harus mendatangi dukun? Betapa sebenarnya ia tak membenci hujan, hanya saja sesuatu yang berlebihan akan selalu berdampak tidak baik untuk manusia. Hujan ini dinilainya telah berlebihan dalam mengikuti perjalanan hidupnya selama 3 bulan belakangan.

Sementara di depan rumahnya, beberapa orang berjas hujan dan berpayung terlihat berdiri dengan sebelah tangan memegang pentungan.

“Pergi!!”, kata mereka.

Clas Prrraaang!!

Kaca jendela rumahnya dilempar batu. Pecahan kaca berhamburan di lantai tak menentu. Mereka yang melempar langsung lari pergi begitu saja. Mungkin mereka adalah preman sewaan para tetangga yang merasa terganggu, atau siapapun yang pernah merasa terganggu atas hujan yang dibawanya. Membenci hujan kini adalah berarti membenci ia secara pribadi.

Demikianlah ia, kini dikenal dengan sebutan ‘si lelaki dalam naungan hujan’. Lantas, ia membuat sebuah keputusan untuk pergi pindah ke kota lain. Keputusannya itu disambut baik oleh para tetangga-tetangganya.

“Maafkan saya, pak, bu. Saya pamit untuk pindah rumah.”, katanya.

Semua orang di komplek yang dipamitinya diam tak memiliki kata untuk disuarakan. Pandangan mereka datar. Beberapa teman-temannya pun! Dan kini ia baru sadar bahwa yang setia menemaninya ternyata adalah hujan itu sendiri. “Kok jadi begini? Apa salahku?”, pikirnya, “bukan mauku jika hujan selalu ikut denganku. Mungkin ada orang yang mengguna-gunai, atau memang sengaja mengirim hujan agar aku tak pernah kepanasan.”

Pergilah ia dengan memakai jas hujan dan berjalan kaki menyusuri jalan sepi ketika sore hari di dalam sorot kemilau senja dari ufuk barat dan gantungan awan hujan di atasnya. Jalannya pelan, tangan kanannya memegang payung, dan dipunggungnya menempel tas besar. Mukanya selalu menunduk.

Ternyata beberapa langkah di belakangnya terdapat seorang perempuan dengan rambut terurai, dia memakai kaos abu-abu dan celana jeans biru. Tubuhnya basah kuyup karena hujannya. Menyadari itu, ia mempercepat langkahnya, semata-mata agar perempuan itu tak kehujanan. Namun anehnya, perempuan itu justru malah seperti mengejarnya. Lantas ia semakin cepat dalam berjalan dan akhirnya berlari.

Ia menengok ke belakang dan melihat perempuan itu sudah berhenti mengejarnya karena kelelahan. Penasaran, ia mendekatinya dengan perlahan dan ternyata perempuan itu sedang menangis.

“Tak malu kamu menangis?”, tanyanya.

“Aku tidak menangis!”

“Itu air matamu meleleh?”

“Ini air hujan!”

“Tapi matamu merah.”

“Kena debu!”

“Kan sekarang hujan?”

Lalu dia terdiam tak berkelit.

“Biarkan aku ada di sekitarmu barang sejenak, kumohon. Aku butuh hujan ini untuk menangis.”, kata perempuan itu dengan sedikit sesenggukan.

“Nanti sakit? Kalau aku bisa berikan hujan ini buatmu, akan aku beri dengan cuma-cuma. Sayangnya aku tak bisa.”

“Maka biarkan aku berada di dekatmu sekarang.”

Dan mereka berdua tenggelam dalam lautan kata tanpa suara, di sore hari menuju senja, dengan naungan hujan di atasnya.

 

 

29-31 Mei 2013

Setyoko Andra Veda

Dalam suasana hujan