Hujan di Mimpi

by membualsampailemas



Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah 

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari 

Semesta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan
Atau perlahan menjadi lautan 

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari 

Gila meeen, waktu denger ini lagu rasanya syahdu banget hati ini. Gak tau kenapa lagu Hujan di Mimpi malem ini begitu menghipnotis alam bawah sadar gue buat nulis. Nulis tentang sesuatu yang belum pernah gue tulis sebelumnya (ya iya lah gue belum pernah nulis ini). Maksudnya tuh gue jadi berasa ada sesuatu udara sejuk masuk lewat rongga hidung dan menelusup ke dalam paru-paru, terus tuh udara kayak nyempil di dada untuk beberapa lama dan ngebuat badan kerasa adem.

Lo kudu denger ini lagu, tapi ada syarat-syaratnya: suasana sekitar lo cukup sepi dan syahdu, gak lagi chatting sama siapa pun lewat media apa pun (dalam kesendirian gitu deh). Seperti yang tertulis di lirik lagu itu: “Sepi itu indah, percayalah. Membisu itu anugerah“. Rasain bener-bener deh kalimat itu.

Emang perjalanan paling jauh adalah perjalanan ke dalam diri kita sendiri. Tulisan Elo-Gue cukup sampai di sini malam ini dan cukup banget buat merasakan satu lagu yang syahdu dari Banda Neira: Hujan di Mimpi. J