Sentimentil

by membualsampailemas


Tak disangka ternyata saya memang orangnya sedikit sentimentil, atau mungkin beberapa orang akan menganggap terlalu berlebihan dalam ke-sentimentil-an itu sendiri berdasarkan pengalamannya.

Sentimentil. Mungkin kata ini kurang akrab di telinga anak-anak muda jaman sekarang. Pernah dengar alunan lagu “I Love You (For Sentimental Reason)”? kurang lebih seperti itulah yang namanya sentimentil, tapi itu hanya dari satu sisi. Sentimentil kurang dapat diungkapkan secara langsung, tapi dia bisa dirasakan dengan tuturan kata yang terucap maupun ekspresi wajah yang terungkap.

Ceceran kata-kata dalam sebuah prosa maupun puisi bisa membuat orang menjadi sentimentil. Sudah sewajarnya, karena memang kata-kata itu terrangkai sebegitu indah dan emosional. Meskipun mereka tidak dapat seratus persen mewakili perasaan dan pikiran penulisnya, tapi kata-kata yang tercecer dalam dunia sastra itu mampu membuat orang lain terbawa suasana sedih maupun senang sesuai yang diharapkan penulis. Nah, ketika itulah jika orang membaca sastra hingga perasaannya ikut melaju mengikuti alur arus sungai kata, ia dapat dikatakan sentimentil.

Sentimentil tidak hanya berkaitan dengan hal itu. Dalam kehidupan sehari-hari, segala tindak-tanduk antar manusia akan menimbulkan emosi dalam diri yang akan membentuk perwatakan daripada manusia itu sendiri. Sebuah lingkungan yang mendukung, akan membuat orang menjadi demiikian sentimentil. Bukan hanya lingkungan, tapi juga faktor keturunan.

Kesentimentilan yang membentuk pribadi saya bisa berasal dari mana saja. Hal paling sentimentil dalam hidup ini mungkin adalah perasaan cinta dan segala yang berkaitan dengannya.

Di dalam keluarga saya ada suatu kebiasaan yang sudah 9 tahun rutin dilakukan, yaitu berziarah ke makam bapak. Hal tersebut biasanya dilakukan tiap bulan Ruwah/Sya’ban dalam penanggalam sistem jawa atau secara hijriyah. Ruwah/Syaban adalah bulan sebelum bulan Pasa/Romadhon. Karena rutin, acara tersebut menjadi suatu acara besar keluarga kami. Simbah kakung dan putri serta adik-adik bapak –om dan bulek sekeluarga dari Purworejo dan Wonogiri– datang bebarengan untuk berziarah ke kampung halaman saya di Kebumen. Kadang saya merasa sedih, bukan karena dikunjungi, tapi berpikir hingga kapan acara seperti ini akan berlangsung. Simbah kakung sudah semakin tua, pendengaran beliau sudah semakin berkurang, keriput telah terukir makin jelas, langkahnya semakin lamban. Om dan bulek sudah semakin tua pula, sepupu-sepupu sudah beranjak dewasa, beberapa sudah masuk masa kuliah. Bandingkan dengan 9 tahun lalu, kami masih anak kecil yang belum tahu banyak hal tentang kehidupan.

Hingga saya sadari bahwa ternyata ibu telah ikut tua pula, dan adik-adik telah beranjak besar. Ketika saya bercermin, ternyata sudah ada kumis, jenggot dan jambang yang tumbuh selalu di wajah sendiri. Saya pun semakin tua.

Kamarnya kini teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi
– Di Beranda, Banda Neira.

Sesuatu yang indah sudah layaknya dijaga, tapi sekeras apapun kita mencoba segalanya tetap akan ada akhirnya. Dulu sewaktu saya masih SMP dan adik-adik masih begitu kecil, rumah selalu berantakan karena kami bermain seenaknya, ibu tentu akan mengomel jika saya dan adik laki-laki saya main mainan dan tidak dirapikan kembali. Senyum tergurat diwajah sendiri. Dulu pula, saya memiliki satu kardus besar mainan. Tiap kali saya bermain, akan sulit sekali untuk merapikannya. Sekarang barang-barang itu entah kemana. Kamar-kamar di rumah kini memang lebih rapi. Ibu sudah jarang mengomel lagi. Faktor umur memang berpengaruh terhadap kami.

Acara rutin itu kini datang lagi, tiap tahun selalu begini dan ini membahagiakan. Saya hanya bisa berharap hal ini akan lestari hingga kapan pun, meski saya sadar Tuhan selalu menciptakan akhir untuk tiap-tiap awal. Malam minggu ini saya isi dengan berbahagia bersama keluarga besar, di rumah, di kampung halaman, di tempat saya tumbuh besar.

Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi
Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu, dia pasti
Pulang ke rumah”
– Di Beranda, Banda Neira

 

Setyoko Andra Veda

13 Sya’ban 1434 H