Nyaris Mati di Jalan

by membualsampailemas


Peristiwa itu mungkin tak lebih dari 5 detik. Tapi dalam masa 5 detik itu saya menjadi tahu betapa berartinya hidup ini.

Pagi hari ini, Sabtu, 29 Juni 2013, saya pulang dari Purworejo ke Gombong dengan motor supra 125 yang sering dipakai adik saya. Sebenarnya saya lebih biasa pakai motor satunya yaitu scoopy, tapi ibu meminta saya pakai motor supra saja karena si scoopy mau dipakai ibu buat wira-wiri.

Sudah jadi rahasia umum, jalan Purworejo – Gombong itu jeleknya minta ampun. Banyak tembelan aspal yang membuat jalan jadi tidak rata, atau bukan tembelan malah lubang menganga yang terang-terangan menghadang dan siap mengejutkan pengendara motor. Seolah-olah entah itu tembelan atau lubang atau apa pun yang membuat jalan aspal tidak rata, mereka dapat membunuh siapapun pengendara. Namun bukan tembelan maupun lubang yang menjadikan saya menulis ini.

Adalah salah satu bus pariwisata, Golden Trans, yang hampir-hampir membuat saya celaka. Rasa-rasanya seperti mau mati. Serius.

Ketika saya melewati jalan lingkar luar Kebumen, saya sempat mengikuti sepeda motor Vixion yang tak terlalu cepat. Di depan kami ada bus Pariwisata itu. Selagi mau memasuki daerah yang agak sepi, si pengendara Vixion dan saya berusaha mendahului si bus tadi, alhasil ditariklah gas sekencangnya oleh Vixion dan saya mengikuti dari belakang. Tidak disangka-sangka, ternyata malah si Bus Pariwisata itu seperti enggan didahului dan malah menambah kecepatan saat kami sudah berada di pinggir badan bus untuk mendahului. Si pengendara Vixion tetap saja meneruskan gas nya dan kuat, sedangkan supra saya ternyata tidak bisa menyamai kekuatan Vixion itu, sementara di arah berlawanan sudah ada mobil Terios Putih.

Saya sudah memperkirakan jika si bus itu tidak melakukan percepatan, pasti saya bisa mendahului. Namun ternyata bus itu melakukan percepatan dan tentu saya tidak bisa mendahului. Mobil terios semakin mendekat dan sudah mengedip-ngedip lampu. Saat itu adalah saat masuk pada detik pertama peristiwa yang menegangkan itu. Saya hanya berpikir:

  1. Saya tak mungkin bisa menyalip bus di samping saya seperti si pengendara Vixion, meskipun saya menambah kecepatan. Memang salah satu kunci utama dalam mengendarai motor itu jangan kebanyakan ragu, tapi saya sudah betul-betul putus asa untuk mendahului bus.
  2. Saya harus mengerem segera. Rem belakang lalu rem depan, hampir bersamaan. Hal itu bisa membuat motor ngepot, dan saya harus jaga keseimbangan penuh.
  3. Saya bakal kecelakaan, kalau tidak nabrak si Terios berhadap-hadapan, ya bisa juga nyrempet pinggir badan bus atau parahnya malah masuk kolong dan ketelindas jika ngepot. Mati ini. Mati.

Reflek saya, langsung injak rem belakang dan tarik rem depan. Posisi sudah sangat dekat berhadap-hadapan dengan terios sedangkan saya masih di pinggir badan bus. Motor saya langsung ngepot, ban belakang berhenti tapi ban depan masih berputar. Saya sempat mengira saya pasti bakal kecelakaan parah, motor rusak, atau mungkin bisa juga mati. Tapi saya benar-benar mengira saya bakal mati.

Allah masih berkehendak untuk menyelamatkan saya. Motor yang ngepot ban belakangnya masih bisa saya kendalikan dan tidak terjatuh di celah sesempit itu, meski sempat oleng dan saya kira saya bakal masuk kolong bus di samping lalu terlindas. Astoghfirullohaladzim. Kalau diingat-ingat malah merinding sendiri.

Ini seperti mendapatkan kesempatan hidup lagi setelah nyaris celaka seperti itu. Setelah peristiwa yang beberapa kejap itu, saya merenung seharian ini dan terus merenungi apa yang telah terjadi. Kalau saja saya tadi mati, saya tak sempat menuliskan ini.

Ingat-ingatlah, kalau berkendara motor yang hati-hati. Khususnya ketika berurusan dengan truk atau bus besar. Nyawa ini cuma satu, tubuh ini cuma satu, pastikan sudah termanfaatkan dalam hidup ini untuk sesuatu yang berguna. Jadilah berguna bagi banyak orang.

Setelah peristiwa ini sebenarnya saya jadi malas naik motor, kalau pun harus maka akan terlalu pelan daripada biasanya. Padahal besok sore harus balik ke Purworejo. Entahlah.

 

29 Juni 2013

Setyoko Andra Veda