Entahlah Yang Mana Yang Bodoh

by membualsampailemas


Dalam perjalanan yang panjang dengan sebuah kereta api, para penumpang ada yang tidur, ada pula yang mengobrol. Perjalanan menggunakan kereta api memang lain dibandingkan dengan perjalanan menggunakan kendaraan yang rodanya menggelinding di jalan raya, karena sekali penumpang naik ia akan menuju ke satu arah yang pasti dengan tujuan yang pasti. Jalan yang dilalui kereta api adalah rel, bukan jalan raya yang banyak cabang-cabang, pertigaan, perempatan, bahkan simpang lima, sehingga mustahil untuk mengubah arah dan tujuan daripada kereta api itu sendiri.

Namun agaknya hal tersebut tidak dipahami oleh sebagian penumpang kereta api ini. Bahwa naik kereta api memiliki risiko, yaitu sampai di satu tujuan yang dilintasi rel: stasiun. Kita tidak bisa berhenti seenaknya, tidak bisa mengubah arah tujuan seenaknya, tidak bisa naik seenaknya. Sudah sejak awal, tertera di tiket, bahwa tujuan yang akan dicapai oleh kereta api jelas tertera di selembar kertas berharga itu.

Kereta api terus melaju dengan pasti, dengan kecepatan yang konsisten. Rangkaian gerbong yang mengular itu melewati celah-celah bukit alami maupun buatan, melewati terowongan maupun jembatan, juga membelah lebatnya hutan. Asapnya mengepul dan meninggalkan jejak di udara dingin pagi. Roda-rodanya yang kokoh menggelinding dengan percaya diri tanpa takut ada yang menghalangi.

Beberapa penumpang mengobrol, sebagian dari mereka memengaruhi sebagian lain, menanamkan pemikiran mereka tentang tujuan itu sendiri. Tujuan yang sedang dicapai oleh kereta api, bahwa mereka dapat mengubah tujan itu sebelum sampai.

“Kita semua belum terlambat untuk berubah arah.”, kata seorang berkacamata tebal. Hidungnya seperti paruh burung elang, menukik tajam ke bawah.

“Berubah arah? Maksudmu?”, tanya seorang perempuan muda yang rambutnya dikuncir ekor kuda.

“Setelah kupikir mendalam, kita ini salah arah. Seharusnya tujuan kita bukanlah ke X, tapi ke Z!”

“Anda bercanda? Bung, anda sudah beli tiket bersama kami, dan kita akan pergi ke X. itu sudah jelas.”, celetuk seorang tua yang memakai topi ala detektif.

Mereka mendiskusikan mengenai tujuan akhir kereta yang hendak ke X. Seorang dari mereka bersikukuh bahwa kereta api telah salah tujuan, seharusnya ke Z. Entah apa yang ada di dalam benak pria itu.

“Tapi X itu adalah tujuan yang salah. Tujuan sejati kita adalah Z. Kereta api ini masih ada kesempatan untuk berganti arah menuju ke sana.”, si pria berkacamata menjelaskan.

“Kenapa X salah?”

“Karena X tidak sesuai dengan tujuan kita yang sebenarnya.”

“Tujuan yang sebenarnya?”

“Iya. Tujuan kita yang sebenarnya adalah mencapai kebahagiaan dan ketenangan. Dan itu hanya akan kita dapat di Z. Bukan X!”

“Gila ya?! Cucuku ada di X, bukan di Z!”, pria tua yang memakai topi ala detektif itu kesal. Ia tak habis pikir kenapa si pria berkacamata tebal itu menyalahkan tujuan X dan malah bersikukuh ke Z. “Bagaimana aku akan ke Z jika cucuku ada di X?!”

“Salah cucu anda berada di X. Kebahagiaan itu adanya di Z.”

“Lantas, apa mau anda? Kereta tidak bisa berubah arah seperti yang anda kehendaki.”, kata perempuan muda.

“Saya akan memengaruhi sebanyak-banyak penumpang kereta ini sebelum sampai di tujuan untuk protes ke masinis agar mengubah arah ke Z, kota kebahagiaan. Kalau perlu, saya akan mengkudeta masinis!”

“Bukankah sebaiknya sejak awal anda membeli tiket untuk ke Z, bukan ke X?”

“Iya, tapi saya terlanjur membeli tiket kereta api ini.”

“Anda gila. Mengorbankan kepentingan orang lain untuk kepentingan anda sendiri!”, kata perempuan itu dengan tegas. Sementara pria berjenggot itu tersenyum.

“Lihat saja, anda akan sadar bahwa di X itu tidak ada kebahagiaan. Anda akan menyesal. Percayalah pada saya. Saya berani bersumpah anda akan menyesal jika anda ke X.”, kata pria itu dengan berani. Ia berusaha meyakinkan si perempuan dan kakek tua agar lebih memilih tujuan kebahagiaan, yaitu ke Z.

Sementara kereta api masih menggantungkan asapnya ke langit dan berjalan dengan kecepatan pasti, pria itu telah memiliki banyak pengikut yang yakin bahwa tujuan kereta ke X adalah salah, dan yang benar adalah ke Z. Padahal tiket mereka bertuliskan tujuan ke X. Sebagian besar penumpang menganggap mereka yang ingin berubah arah adalah orang gila, sebagian lain tak acuh, dan sisanya adalah pengikut pria berjenggot dan berkumis tebal. Mereka terus mencari massa sebelum kereta api mencapai X, dan itu terus berlangsung sampai sekarang. Mungkin mereka belum tahu bahwa di Z tidak dilewati rel kereta api.

Setyoko Andra Veda

Purworejo, 6 Juli 2013