[CAPING] Arab

by membualsampailemas


Ini adalah tulisan ulang dari Catatan Pinggir (Caping) yang biasa terbit di Majalah Tempo:

Minggu, 07 Juli 2013

Apakah kita, bangsa Arab, sebuah dusta besar? – Nizar Qabbani

Bukan, bukan dusta. Tapi kepedihan. Penyair Arab-Suriah ini menyaksikannya dari dekat. 

Kakak perempuannya bunuh diri karena dipaksa menikah dengan orang yang tak dicintainya. Istrinya, seorang guru Irak yang ia kenal pertama kali dalam sebuah pembacaan puisi di Bagdad, tewas di bawah puing Kota Beirut yang dibom. Taufiq, anaknya lelaki, meninggal pada umur 22 tahun karena serangan jantung.

Andai kata Qabbani masih hidup kini, ketika Damaskus, kota kelahirannya, dikoyak-koyak perang saudara, baris pertama sajaknya ini mungkin akan seperti jerit, bukan nostalgia: “Suaraku berdering, kali ini, dari Damaskus, berdering dari rumah ayah-ibuku.”

Nizar Qabbani lahir di ibu kota Suriah itu pada 1923. Ia jadi diplomat yang menulis puisi. Sajak-sajaknya disebut melanggar semua kaidah puisi Arab, baik bentuk maupun apa yang diungkapkannya. Tapi ia tetap tak bisa meninggalkan pertaliannya dengan sastra yang memakai bahasa ibunya. Dalam dirinya tersimpan sebuah tanah air yang akrab, tapi pada saat yang sama ia “berkeliling dunia dengan sepeda kemerdekaan/lewat jalan-jalan ilegal”.

Dengan kata lain: ambivalen. Di satu sisi, ia mencintai sebuah tempat (juga sebuah sejarah), atau setidaknya tak tega melepaskan tempat itu. Di sisi lain, ia merasa terjepit dalam sebuah ruang politik tempat iman dan kekuasaan jadi pengekang. Ia ingin melintasi batas terdekat. 

Ambivalensi itu umum di dunia Arab. Qabbani pernah menyebut Damaskus-lah tempat “Arabisme” menemukan bentuknya. Tapi apa arti “Arabisme” selain melintasi batas-batas lokal “Suriah, Mesir, atau Libanon”dan menjangkau yang universal, misalnya cita-cita pembebasan?

Apa yang disebut al-Qawmiyya al-`arabiyya dari dorongan itu? 

Istilah itu diterjemahkan sebagai “nasionalisme Arab”, dengan catatan: qawmiyya, berasal dari kata qawm, “kaum”. Kata ini sering dibaca dalam pengertian etnis. Sejarah dan geografi yang berbeda-beda “juga agama” tak masuk dalam kesatuan “bangsa” yang diproyeksikan itu. Di dunia tempat Islam diwahyukan dan disemaikan, “nasionalisme Arab” ditandai oleh bangkitnya Baathisme yang tak meletakkan Islam sebagai faktor penentu. Paham ini menghendaki satu negara Arab yang tak menganggap perbedaan ini selamanya berarti: Islam, Kristen, Syiah, Sunni, Mesir, Tunisia, Libanon, Arab Saudi. Semua itu akan luruh, kata kaum Baathis. Bangkitnya “ke-Arab-an” akan mempercepat proses itu.

Juga “Nasserisme”. Di Mesir, Nasser ingin jadikan dunia Arab sebuah kekuatan yang bersatu. Maka ia tindas gerakan Al-Ikhwan al-Muslimun yang menampik nasionalisme dan memilih solidaritas yang berdasarkan agama, bukan qawm. Pemikir utama gerakan Islam ini, Sayyid Qutb, digantungnya di penjara. Bukan hanya Qutb dan pengikutnya yang jadi korban. Dalam proyek “nasionalisme” itu pula Nasser memojokkan negeri-negeri Arab lain yang ia anggap melemahkan persatuan.

Sementara Qabbani, sang penyair, mengarungi dunia dengan “sepeda kemerdekaan”, para pemimpin nasionalis merengkuhnya dengan mobilisasi massa dan senjata, darah dan besi. 

Dan kepedihan memudahkan mobilisasi itu: kepedihan karena kalah oleh “Barat”. Daulat Usmani yang berpusat di Turki, yang berabad-abad jadi penopang identitas “Islam”, runtuh. Lalu datang kolonialisme Inggris dan Prancis. 

Sejak itu, Arab dan modernitas berhadapan, saling menolak, saling membujuk. Lingkungan kebudayaan lama terbelah. Adat makin terasa mengekang: rakyat, terutama perempuan, tak bebas memilih; otokrasi dan kediktatoran berkuasa; agama jadi pembungkam.

Di masyarakat yang menolak yang beda,
dan memaksa mulut diam dan pikiran diharamkan,
dan bertanya adalah dosa,
maaf, akan tuan izinkankah saya?

Tapi bukan cuma yang lama yang menakutkan. Yang baru, modernitas, juga jadi jahanam. Maka “Barat”, asal-usul modernitas itu, tampak mengancam, kukuh, monolitik, dan tak berubah. Untuk menghadapinya, pengertian “Arab” pun mengeras. Ia identitas yang dibangun ibarat candi selesai, tertutup, bukan sebuah proses dalam waktu. 

Zaman “Arabisme” berlalu, tapi kepedihan belum. Al-Ikhwan al-Muslimun, lawan nasionalisme Arab, ikut terkena imbas kepedihan sejarah itu. Maka pemikiran Qutb tak berbeda jauh dengan kaum nasionalis Arab. Ia pandang “Barat” secara esensial negatif. Contoh-contoh buruk dari kehidupan di “Barat” baginya bukan kebetulan; mereka sesuai dengan hakikat “Barat” itu.

Dalam alam pikiran ala Qutb, sejarah hanya sebuah kronologi. Masyarakat tak dianggap lahir dari perjuangan hegemoni dari masa ke masa. Masyarakat dianggap sebagai produk nilai-nilai tertentu dan bukan masyarakat itu yang mengolah dan menumbuhkan nilai-nilainya.

Dalam pandangan yang a-historis itu, “Islam” diletakkan sebagai sehimpun norma yang tak pernah tersentuh konflik dan kekuasaan. Ia suci murni sejak awal. Qutb menganggap “jaahiliyyah” berkembang karena orang tak berpedoman ke masa suci itu. Baginya masa depan yang sempurna harus sama dengan masa lalu yang sempurna.

Tapi sayangnya manusia hidup di antara masa lalu dan masa depan. Artinya, ia hidup di masa kini dengan luka dan cacatnya. Ia hidup seperti Qabbani: saudara sekandung bunuh diri, istri terkubur dalam puing, anak mati muda, di dunia Arab dan dunia Islam yang tak bebas, tak damai, tak pasti. 

Itu semua masih berlanjut ke hari ini, ketika dari bawah orang bergerak untuk demokratisasi. Demokratisasi berarti masuk ke jalan raya sejarah, menghadapi yang tak pasti, mengatasi yang tak sempurna.

Jika tuan tanyakan alamat saya,
saya akan berikan alamat semua kaki lima

Goenawan Mohamad