Bosan dengan Ceramah

by membualsampailemas


Kisahnya begini, waktu itu Bejo sedang suntuk karena waktu telah sangat lambat berlalu. Di kantor, semua serasa membosankan karena pekerjaan yang begitu-begitu saja. Tiba-tiba ada sebuah suara yang bergema dari speaker kantor, meraung-raung mengumumkan bahwa nanti sore setelah shalat Ashar akan diadakan sebuah pengajian. Mendengar itu, Bejo pun tak terlalu acuh. Ah pengajian, ceramah, ustadz, bulan puasa, paling yang diceramahkan ya itu-itu saja. Biasanya jika sedang bulan puasa ini, yang dibahas pasti ya seputar puasa yang sudah lebih dari 20 tahun suasana tersebut Bejo alami. Pasti ayat 183 surah Al-Baqoroh: Yaa ayyu halladzina aamanu kutiba’alaikummushshiyam..kamaa kutiba’alalladzina min qoblikum la’allakum tattaquun..

Dengan pongahnya, tebakan Bejo pasti akan seperti itu dan akan terjadi. Bukan hanya saat puasa, ketika “rajaban” di bulan Rejeb/Rajab, yang dibahas ya soal shalat, lalu kisah isra wa mi’raj. Lantas ketika Iedul Adha, yang dibahas ya tentang kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Dan sebagainya. Semua itu, Bejo memandangnya sebagai suatu peristiwa yang monoton dan agak membosankan. Ceramah agama isinya ya itu-itu saja.

Namun kemudian beberapa jam pada hari itu, Bejo merenungkan segalanya tentang ceramah-ceramah yang dinilainya agak membosankan dan monoton. Lama Bejo berpikir perihal ceramah keagamaan, mengapa isinya kebanyakan itu-itu saja? Apakah diri ini sudah ditutupkan pintu hidayah oleh Alloh? Apakah Bejo ini salah karena berpikir demikian? Ataukah para penceramah memang tak ada bahasan lain? Benarkah diri ini sudah cukup berilmu dan sedang merasa jumawa atas keilmuannya itu? Sudah cukupkah ilmu Bejo? Berbagai pertanyaan berkecamuk dan bergerak cepat secepat putaran elektron pada inti atom, kadang keluar dari lintasannya dan membentur dinding tengkorak kepala, membuat kepala sakit karena hanya memantul-mantul tiada dapat keluar.

Syahdan, Bejo sebenarnya adalah orang yang pendiam lagi pemalu. Namun ia suka berpikir dan berkelana ke dalam diri. Tatkala ada sesuatu yang mendesak pada dinding ketidaktahuan dan menimbulkan berbagai pertanyaan yang bergerak maha cepat di dalam kepala, Bejo harus segera menemukan penawarnya, jawaban atas segala ketidaktahuan dan rasa penasaran di dalam diri. Terkadang, rasa ketidaktahuan itu sungguh menyiksa diri Bejo. Kali ini, Bejo dihadapkan dengan satu masalah: Bosan dengan Ceramah. Yang ingin Bejo ungkap adalah: Mengapa Bejo bisa bosan dan seperti merasa jadi sudah tahu segalanya yang akan diceramahkan. Rasa-rasanya diri ini sudah mencapai pada titik paling tinggi dan menyundul-nyundul atap ketidaktahuan.

Biasanya, yang dilakukan oleh Bejo jika sudah seperti ini adalah bertapa, bertarak, mengasingkan diri ke suatu tempat dimana Bejo kira hanya ada Bejo sendiri sebagai manusia dan Alloh sebagai Tuhan Semesta. Selama ini Bejo menganggap tempat seperti itu adalah tempat paling syahdu untuk mencari jawaban, tempat itu menurut Bejo terletak di dalam diri sendiri. Ke dalam diri sendirilah Bejo berkelana, sejauh-jauhnya berkelana, dan tetap saja itu ada di dalam diri sendiri.

Dalam kelananya itu, Bejo mendapati sesuatu jawaban yang entah darimana terbersit begitu saja. Dalam simpuhnya, Bejo teringat suatu penggalan ayat di dalam kitab sakti (Al-Qur’an), yang bunyinya begini: Innal insaana lafii khusrin, illalladzina aamanuu wa amilushshoolihaati, wa tawaashshaubbil haqq, wa tawaashaubbis shobr. Artinya adalah: Sungguh manusia ada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shaleh, dan SALING MENASIHATI DALAM KEBENARAN, dan SALING MENASIHATI DALAM KESABARAN.

Dalam permenungan itu, Bejo tersadar dari sosok kejumawaan tak terlahirkan. Ternyata ini semua adalah maksud Alloh untuk mengingatkan Bejo tentang hakikat saling menasihati antar sesama. Bukan sekedar manasihati, tapi tentu saja nasihat yang benar. Bukan cuma soal benar, tapi juga sabar. Sabar dari sisi si penasihat maupun yang dinasihati.

Semua itu karena ada paling tidak 3 hal penting menurut Bejo:

  1. nasihat itu ada yang benar ada yang tidak,
  2. ada pula nasihat benar disampaikan oleh orang yang tidak sabar sehingga terkesan memaksakan,
  3. ada pula nasihat benar disampaikan oleh orang sabar namun diterima dengan tidak sabar oleh si pendengar.

Sore itu, Bejo memutuskan untuk ikut pengajian selepas shalat Ashar karena merasa malu. Malu karena telah merasa tahu segala topik ceramah musiman tapi ternyata mentok pada ketidaktahuan atas mengapa segala itu terjadi. Mungkin Alloh memang menurunkan surat Al-Ashr sejak mula dulu karena salah satunya bertujuan untuk menjadi pengingat bagi Bejo sekarang ini, dan Bejo-bejo lain di dunia ini yang sudah atau belum merasakan pengalaman demikian. Tiada daya dan upaya melainkan dari Alloh.