Tatkala Belajar

by membualsampailemas


Setyoko Andra Veda.

Juli-Agustus 2013

Syahdan, ada sedikit kisah tentang seorang mualaf(orang yang baru masuk Islam). Ia benar-benar mualaf, artinya baru saja memeluk agama Islam. Namanya Parto, dia orangnya lugu dan polos. Orang desa tulen. Tadinya bisa dibilang ia tak beragama, tapi kelamaan karena di desanya hampir semua penduduk memeluk Islam, lantas dia pengen ikut berislam.

Suatu ketika, dia itu mendatangi rumah pak Kyai Amat Bashori, beliau itu adalah Kyai di sebuah pesantren di dekat tempat tinggalnya Parto. Maka datanglah si Parto itu ke rumah Kyai Bashori di sore hari, sekitar menjelang maghrib. Bertemulah Parto dengan Kyai.

Pak Kyai, kulonuwun..’

monggo..’ sahut pak Kyai. Parto pun disilakan untuk duduk. ‘duduk sini, nak.’

Nama saya Parto, Pak Kyai.’

Aku dah tau kamu, Le. Dari desa sebelah, to? Bagaimana? Ono opo?’

Saya sudah bersyahadat, Pak Kyai. Asyhaduan laailahaillalloh, wa asyhaduanna muhammadurrosululloh. Nah, masalahnya, saya itu belum tahu caranya sholat. Katanya ada sholat segala kalau di Islam. Saya pengen diajari sholat, pak Kyai.

Pak Kyai hanya manggut-manggut, beliau mengelus jenggot putihnya sambil memandang mata si Parto. Mncoba menelusuri niat si mualaf ini.

Ketika itu, tiba-tiba adzan maghrib berkumandang. Maka Pak Kyai Bashori mempersilakan si Parto untuk ikut berjamaah di masjid.

Ayo kita langsung praktik saja di masjid, To.’

Lah??! Ta..tapi saya belum bisa gerakannya, Pak Kyai. Nanti salah?’

Soal gerakan, nanti kamu ikuti saya saja. Kalau soal bacaan, nanti selepas sholat, kamu saya ajari. Yang penting sekarang jamaah dulu di masjid.’

Maka mereka pun berangkat ke masjid di dekat rumah Pak Kyai. Parto mengikuti di belakang Pak Kyai.

Tatkala Pak Kyai wudhu(bersuci), ia ikut wudhu. Gerakan-gerakan wudhu itu ditirunya pelan-pelan sambil memperhatikan pak Kyai. Tangan, berkumur, hidung, muka, dan seterusnya hingga kaki. Pak Kyai berdoa setelah wudhu dengan menengadahkan tangannya ke atas, ia pun ikut. Pak Kyai melepas sandal ketika hendak masuk masjid, ia ikuti.

Hal mengejutkan datang menghampiri Parto, ternyata banyak sekali jamaah di masjid Pak Kyai Bashori itu. Santri-santri pondok pak Kyai pada sholat di situ semua. Tak ayal Parto bingung karena saking banyaknya orang. Sementara itu, Pak Kyai harus menjadi imam di depan dan menempatkan dirinya di depan sendiri, makmum di belakang. Sedangkan Parto yang gelagapan hendak mengikuti Pak Kyai malah tidak kebagian sof di belakang Pak Kyai.

Parto berdesak-desakan dan hendak maju ke barisan depan, tapi tak bisa. Akhirnya ia hanya mendapat barisan sholat ke 6, lumayan jauh dari pak Kyai yang ada di paling depan.

Allohuakbar..!’ takbir pak Kyai menggema. Suasana khidmat. Santri-santri mengangkat tangan lalu bersedaku. Parto teringat kata pak Kyai tadi, beliau bilang kalau ia disuruh menirukan gerakannya. Karena tak bisa melihat pak Kyai yang ada di depan, Parto ikut gerakan santri-santri di sekelilingnya. Mengangkat tangan lalu bersedaku, gerakan takbir.

Lalu takbir lagi, dan ruku. Parto masih bisa mengikuti. Lantas I’tidal, Parto masih lancar. Namun begitu gerakan sujud dan Parto ikut, ternyata secara tak sengaja ada santri yang berada di depan Parto menjejak kepala parto karena saking dempetnya. Parto berpikir sejenak: ooh, gerakan sholat itu ada menjejakkan kaki ke belakang to?.

Maka dari itu, gerakan sujud selanjutnya Parto menjejakkan kaki ke belakang. Dikiranya gerakan menjejakkan kaki itu adalah gerakan sholat, maka dijejakkanlah. Santri yang ada di belakang Parto kontan kaget karena dijejak dengan keras, lantas santri tersebut membalas dengan merogoh sarung Parto.

Woeei!!!’ celetuk Parto kaget. Dengan sigap, si Parto pun ikut merogoh sarung santri yang berada di depannya, dikiranya gerakan merogoh sarung itu juga gerakan sholat. Santri tersebut hanya menjengkelit kaget.

Selesai sholat, Parto dilihati oleh para santri dengan pandangan sinis.


“Belajar itu pakai akal, belajar itu tidak diterima mentah-mentah, belajar itu diproses, belajar itu disaring, belajar itu tak dipaksakan, belajar itu dipikir, belajar itu hidup.”