Bangsa Jawa yang Kompromis

by membualsampailemas


Setyoko Andra Veda

29 Agustus 2013

 

Rumah Kaca, rangkaian terakhir Tetralogi Pulau Buru karya besar sang maestro novel Indonesia, alm. Pramoedya Ananta Toer telah sedikit membuka mata saya mengenai bangsa Jawa yang kompromis. Benarkah demikian?

Jika dipikir-pikir lagi, mungkin ada benarnya juga. Mari sejenak tengok percakapan antara Tuan Jacques Pangemanann dengan Tuan L. yang bekerja di gedung s’Landscharcief (tempat penyimpanan arsip negara era kolonial). Di Rumah Kaca, Pramoedya mengambil sudut pandang yang berbeda dari 3 novel sebelumnya yang bersudut pandang Minke. Ia mengambil sudut pandang Jacques Pangemanann, seorang Manado, Komisaris Polisi era kolonial.

Di restoran Tong An menjadi jelas padaku. Tuan L. pecinta makanan Tionghoa pada satu pihak, dan pecinta segala pengetahuan tentang Jawa pada lain pihak.

“Dan dengan dokumen-dokumen sebanyak itu,” kataku (Jacques Pangemanann) membari komentar, “dalam abad ke duapuluh pula, pasti Tuan akan melampaui karya Raffles dan Veth.”

“Mereka tak perlu dilampaui, Tuan Pangemanann, mereka guru-guru klasik yang tetap hidup. Pada suatu kali, kalau bangsa Jawa sudah mengerti berterimakasih, mereka akan mematungkan dua orang penyuluh Jawa itu.”

“Juga mematungkan Tuan.”

“Puji-pujian yang terlalu tinggi, Tuan. Aku bukan pelopor, paling banyak penyempurna. Raffles dan Veth tetap abadi dalam bidang ini.”

“Apa sebab Tuang mengambil Jawa sebagai pokok?” tanyaku.

“Ada rahasia yang sampai sekarang belum juga dapat aku pecahkan, Tuan. Membuat hipotesa sederhana pun aku belum mampu. Cobalah temukan Jawabannya: Apa sebab dengan kesempatan yang sama, dengan syarat-syarat alam yang sama, jumlah bangsa Jawa jauh lebih tinggi daripada bangsa-bangsa lain di Hindia? Mengapa Jawa punya latar belakang sejarah lebih panjang dan lebih kaya? Meninggalkan warisan-warisan kebudayaan lebih banyak, pada suatu kurun sejarah tertentu? Malahan dalam suatu jaman yang sama pernah melebihi bangsa-bangsa Eropa tertentu dalam bidang-bidang tertentu? Ha, Aku lihat Tuan terheran-heran.”

“Tidakkah itu,” tanyaku, “disebabkan karena kekuasaan Belanda di Hindia memusat di Jawa sejak semual?”

“Kenyataan justru sebaliknya, Tuan Pangemanann. Administrasi Hindia Belanda dipusatkan di Jawa, justru karena sebab tersebut. Jawa sebelum datang orang Eropa sudah punya organisasi sosial yang menyebabkan mungkinnya kesejahteraan sosial-ekonomi dan kebudayaan.

“Kalau setinggi itu puji-pujian Tuan pada bangsa Jawa, mengapa mereka toh dapat dikalahkan oleh bangsa-bangsa Eropa?”

“Panjang persoalannya, Tuan,” ia angkat gelas brendinya dan disentuhkan pada gelasku, “Semoga Tuan akan sukses sebagai ahli kolonial!”

“Dan sukses untuk Tuan sebagai ahli Jawa,” jawabku.

Kuliah tetang Jawa itu diteruskan di gedung s’Landscharcief keesokan harinya sebelum aku mulai mempelajari kertas-kertas.

Dengan masih ada sesuatu yang mengganjal aku bertanya, “Apa puji-pujian Tuan termasuk juga tari serimpi yang dibesar-besarkan itu?”

“Ya, juga termasuk. Serimpi tentu bukan contoh terbaik, mungkin juga sebaliknya. Ia lahir dalam masa kemerosotan feodalisme Jawa. Dia diciptaan bukan untuk memuji para dewa atau leluhur atau kemenangan atas kejahatan, atau kedalaman ataupun ketingggian perasaan manusia. Memang tidak ada dramatik pada serimpi, dramatik menurut ukuran Eropa. Diciptakan oleh kemerosotan itu sendiri untuk memberikan peluang bagi penguasa Pribumi, besar atau kecil, untuk memilih teman tidur sehabis wanita-wanita itu berserimpi memperagakan tubuh.”

“Tuan mengada-ada,” kataku, “sudah sejauh itu pengetahuan Tuan? Padahal Tuan barangkali tidak pernah beranjak dari gedung ini.”

Setiap pendapat bisa saja dibenarkan. Tergantung dari mana memandangnya. Dan Veth itu, Tuan, ahli Jawa yang gilang-gemilang, tidak pernah menginjakkan kaki di bumi Jawa. Tuan sendiri pun sedang merintis jadi ahli kolonial Hindia, bukan hanya belajar dari keluar-masuk gedung-gedung? Tidak terjun sendiri di tengah-tengah bangsa Hindia?” Ia menggeleng-geleng tanpa aku ketahuo maksudnya, dan: “Soalnya memang kertas-kertas yang lebih bisa dipercaya. Lebih bisa dipercaya daripada mulut penulisnya sendiri.”

Aku menganggung-angguk mengiyakan. Dan sejak itu aku bersahabat dengannya dan istrinya dengan istriku.


Kalau setinggi itu puji-pujian Tuan pada Jawa, mengapa dia bisa dikalahkan oleh Eropa?” aku ulangi pertanyaanku.

“Pertama-tama karena bangsa ini mempunyai watak selalu mencari-cari kesamaan, keselarasan, melupakan perbedaan untuk meghindari bentrokan sosial. Dia tunduk dan taat pada ini, sampai kadang tak ada batasnya. Akhirnya dalam perkembangannya yang sering, ia terjatuh pada satu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsip. Ia lebih suka penyesuaian daripada cekcok urusan prinsip”

“Tuan mengada-ada lagi,” kataku memancing lebih lanjut.

“Sebaiknya Tuan belajar tentang Jawa. Setiap ahli kolonial Hindia memulai persoalan bangsa yang luar biasa ini. Tentu aku tidak mengada-ada, Tuan. Bangsa Jawa ini sendiri yang meninggalkan jejak-jejaknya, bukan sekedar dalam batu dan tembaga atau cerita-cerita omong-kosong. Bagaimana watak seperti itu muncul tentu disebabkan karena perang ke perang tak habis-habisnya. Orang merindukan perdamaian, maka orang pun meninggalkan prinsip. Penyair besar di masa Hayam Wuruk, abad empatbelas, Mpu Tantular, Tuan, telah merumuskan watak penyesuaian ini dalam sebuah bait dari syair-syairnya.”

“Syair?!” seruku tak percaya.

“Ya, Tuan, syair tertulis dalam abad ke empat belas. Begini kira-kira terjemahannya: Buddha yang dimuliakan tiada berbeda dengan Shiva, yang tertinggi di antara dewa-dewa. Buddha yang dimuliakan adalah alam semsesta. Bagaimana mungkin menceraikannya? Wujud Jina dan wujud Shiva adalah satu. Mereka berbeda, namun mereka satu, tak ada pertentangan.” Ia pandangi aku untuk melacak perhatianku. Ia meneruskan, “Penyair lain dalam masa yang sama, Prapanca, yang pada waktu itu juga superintendent gereja Buddha Jawa, menulis syair Negarakeartagama, menulis dalam kedudukannya yang tinggi itu, kedudukan bertanggung jawab. Dia juga mempersatukan Shiva dengan Buddha. Itulah arus umum ke arah kompromi, melupakan prinsip-prinsip.”

“Tapi itu persoalan agama, Tuan,” bentakku.

Pada jamannya, Tuan, agama itu adalah juga politik, soal kekuasaan. Bukankah demikian juga di Eropa dalam jaman yang lebih muda? Bukankah 80 tahun di Nederland melawan Spanyol adalah Protestantisme bertahan terhadap Katolisisme, yang melahirkan Nederland menjadi negara merdeka? Juga di Jawa, raja yang satu digulingkan oleh raja yang lain karena kelainan agama, yang satu pengikut Visnu, yang lain Shiva dan seterusnya.”

**

Dialog tadi adalah rumusan Pramoedya tentang bangsa Jawa yang secara halus ia kemukakan pendapatnya tentang ketidakberprinsipan bangsa Jawa itu sendiri dikarenakan perang yang tiada henti dahulu kala. Jika dipikir-pikir memang benar demikian adanya, bahwa kompromi-kompromi telah membuat bangsa Jawa tak berprinsip kuat. Tercampurnya budaya Hindu-Buddha-Islam, menunjukkan adanya kompromi soal itu di tanah Jawa. Kenduri adalah salah satu peninggalan kompromi itu hingga sekarang, pitungwulanan(7 bulanan) pun, dan masih banyak tradisi-tradisi khas Jawa yang merupakan peninggalan bentuk kompromi tersebut.

Ketidakkonsistenan bangsa Jawa terhadap bahasanya sendiri juga merupakan bentuk hilangnya prinsip-prinsip. Bahasa Jawa kuno dengan bahasa jawa modern memiliki jarak yang cukup jauh. Jarang ada orang jawa jaman sekarang yang mengerti dan paham tentang bahasa Kawi (Bahasa Jawa pertengahan) apalagi bahasa jawa kuno. Semakin maju zaman, bangsa Jawa terjajah oleh ketidakpberprinsipannya sendiri terhadap identitasnya. Identitas bangsa Jawa berubah dari waktu ke waktu, baik dari segi bahasa, tradisi, dan lain sebagainya, semua itu berdasarkan kompromi dengan zaman dan kebudayaan lain yang masuk secara halus. Hal ini juga dapat dilihat dari banyaknya keluarga (masyarakat) Jawa yang mendidik anaknya tidak dengan bahasa Jawa sejak semula, tapi dengan bahasa nasional, bahasa Indonesia. Bukanlah sebuah kekeliruan dalam mendidik anak, melainkan hal ini memang sebuah keniscayaan zaman.

Jaman dulu mungkin ketika abad pertengahan di Jawa pernah ada orang yang menyadari hal ini. Sebuah pergantian zaman terjadi, peralihan bahasa yang dipergunakan bangsa Jawa dari bahasa Jawa Tengahan ke bahasa Jawa modern seperti sekarang. Bukan soal bahasa saja, tradisi sesaji tidak bisa begitu saja hilang sejak Islam masuk, yang mana sebenarnya keduanya terdapat pertentangan yang nyata.

Kompromi adalah identitas daripada bangsa Jawa itu sendiri. Hal ini bisa juga disebut suatu adaptasi bangsa Jawa terhadap perkembangan zaman. Dengan melihat keadaan sekarang ini, saya melihat masa depan di pulau Jawa akan diisi dengan bahasa Indonesia kebanyakan, dan dipergunakan oleh hampir tiap-tiap keluarga. Bahkan bahasa pikir saya sendiri adalah bahasa Indonesia, yang mana saya adalah orang Jawa yang sejak kecil dididik dengan bahasa Jawa. Sekali lagi, ini bukanlah kekeliruan bangsa Jawa, tapi memang sebuah keniscayaan, kebutuhan zaman.

Namun semakin majunya zaman pula, masyarakat Jawa kini telah tersadar akan perlunya prinsip. Semakin modern pikiran seseorang, semakin ia berprinsip. Semakin berprinsip, semakin suka ia memaksakan kehendak. Sisi negatif selalu ada di setiap hal. Bentuk pemaksaan kehendak belakangan ini tercermin dari tidak tolerannya masyarakan di pulau ini dengan berbagai isu perbedaan, khususnya dalam hal kepercayaan. Lihat saja kasus teror bom, ahmadiyah, syiah. Kebanyakan manusia telah menjadi korban para penyambung informasi. Informasi menjadi keliru jika penyampainya memberitakan tanpa melihat langsung dari sumber, yang mendapat berita langsung bicara dan bertindak tanpa menelaah langsung dari sumber. Semua memiliki sisi negatif, tapi sekali lagi hal itu adalah sebuah keniscayaan.

Apakah kita telah benar-benar berprinsip dan tidak memaksakan kehendak? Mari bercermin pada hati.