Terlena Hafalan

by membualsampailemas


Setyoko Andra Veda

30 Agustus 2013

 

Samiono, biasa dipanggil “Sam” oleh teman-temannya supaya kelihatan keren.

“Hei, Sam!” sapa orang lain.

“Haloo..!”

Begitulah kira-kira yang akan terjadi ketika Sam disapa oleh teman-temannya. Mereka mengingat Sam dan melupakan Samiono, mereka mengingat yang modern dan melupakan yang tradisional.

Sam adalah seorang yang pelupa, sangat pelupa sehingga ia harus berusaha lebih keras daripada teman-temannya yang lain untuk belajar. Bukan hanya itu, untuk beraktivitas dalam keseharian pun. Meski demikian, Sam adalah orang yang baik dan tidak munafik. Ia tak pernah menampik kesalahannya yang dikarenakan sifat kepelupaannya. Ia tak pernah menyalahkan orang lain atas kesalahannya.

Ia pun selalu membawa catatan kecil dan pena kemana saja pergi untuk sekadar mencatat-catat segala yang perlu diingat. Satu yang ia tak lupa adalah tentang catatan kecil itu sendiri yang harus ia tengok sewaktu-waktu agar tak ada sesuatu yang terlupakan.

Oleh karena itu, ia lebih sering mengingat-ingat sesuatu daripada melakukannya. Satu kelemahannya sebagai orang yang baik. Kan bagaimanapun, manusia tetap memiliki kekurangan, entah itu akan dimaklumi atau tidak oleh yang lainnya. Kan saling menerima dalam batas toleransi adalah naluriah alami manusia.

Suatu waktu, ia hendak berperjalanan untuk sekedar bersenang-senang mengisi waktu liburan. Sam memilih untuk naik kereta api karena layanan kereta api kini makin apik dan perjalanannya pun cepat. Satu yang pasti, yaitu jadwal kereta api. Maka ia mencoba mencari tahu jadwal keberangkatan kereta api pada hari yang telah ia tentukan untuk berperjalanan.

“Mbak, saya ingin tahu jadwal kereta api untuk besok.”

“Maaf, nama Bapak siapa?” kata si penjaga loket kereta.

“Sam.”

Dan didapatinya tiket kereta untuk besok beserta jadwal yang tertera. “Jaya Ekspress 7.15 pagi.”, begitu kata-kata yang selalu ia ulang-ulang untuk mengingat-ingat jadwal keberangkatan kereta api itu.

Terus menerus ia mengulangi frasa itu untuk mengingatnya. Setelah ia pulang dari stasiun, ia mengucapkan frasa itu berulang-ulang agar tak lupa. Menjelang makan dan setelahnya, ia terus mengucapkannya. Tatkala berdoa pada Tuhan, ia meminta agar tak lupa tentang frasa itu. Selepas ia berdoa, masih saja ia mengucapkan frasa itu: Jaya Ekspress 7.15 pagi.

Frasa itu rasa-rasanya menjadi indah untuk dirinya, bak langgam, ia begitu melenakan. Satu yang tak disadari Sam bahwa bahasa atau nama-nama baru berfungsi dengan baik bila ada kekuatannya, sedangkan kekuatan bahasa bukan terletak pada langgamnya, tapi apa yang terdapat di balik langgam atau nama itu[*]

Hingga menjelang tidur, ia terus saja mengucapkan frasa itu berulang-ulang.

“Jaya Ekspress 7.15 pagi, Jaya Ekspress 7.15 pagi, Jaya Ekspress 7.15 pagi, Jaya Ekspress 7.15 pagi.. “, dan seterusnya, sehingga dalam tidurnya ia mengucapkannya demi menghafalkan frasa tersebut agar benar-benar terpateri di dalam ingatannya.

Tatkala pagi mendatangi dirinya di keesokan hari yang telah ditentukan sebagai jadwal, ia telah benar-benar hafal dengan frasa itu. Namun karena tak puas, ia terus saja mengulanginya terus menerus karena betapapun, ia adalah seorang pelupa. Mandi pagi pun ia ulang-ulang frasa itu, setelah mandi pun. Hingga jam yang menempel di dinding seperti cicak itu menunjukkan waktu 8.00 pagi, ia baru menyadari betapa bodohnya ia karena terlalu sibuk menghafalkan frasa daripada bertindak untuk frasa itu. Kata-kata itu menjadi tak banyak artinya bagi Sam karena ia hanya mengulang dan menghafalnya ribuan kali sehingga melepas frasa itu menjadi nama tanpa kekuatan[*]

Sam mengetahui betapa bodoh dan kurangnya ia dalam menghafal sesuatu, tapi kali ini ia menyadari hal lain lagi bahwa ia juga keliru karena terlena akan hafalan itu tanpa melakukan apa yang dihafalkannya itu.

Mereka mengembara di tiap-tiap lembah dan suka mengucapkan apa yang mereka sendiri tidak akan melakukannya – QS Asy Syu’araa’ (penyair-penyair) : 225.

 

[*]Makna Kembali Kepada Al Qur’an dan Sunnah, – Quraish Shihab.