Franky

by membualsampailemas


Setyoko Andra Veda

9 September 2013

 

Lampu neon kecil menggantung di langit-langit ruangan yang sempit, pengap, dan lembab. Satu-satunya sumber penerangan di sana itu berkedip-kedip seolah hendak sirna cahaya putih yang menyilaukan mata itu. Seperti bandul yang bergoyang kesana-kemari, neon kecil itu tampak tak tenang menghadapi tekanan malam. Malam telah terlalu malam, sedangkan ruangan itu terasa semakin sempit untuk seseorang yang sedang bersemayam di dalamnya, lebih tepatnya bersembunyi.

Nafasnya yang memburu itu sekuat tenaga ia pertahankan embusannya agar tak terlalu keras terdengar. Ia atur nafasnya sepelan mungkin, sebisanya, sampai-sampai tak terdengar itu embusan. Butir-butir kecil air keringat telah membuat kulitnya mengilap terciprat cahaya neon kecil menggantung. Matanya nanar, melotot, ada sedikit takut tertera di sana. Tangannya itu masih memegang sebuah pistol dengan sangat erat.

Ia adalah Franky, seorang buronan, penjahat kelas kakap, bandar narkoba. Kini ia menanti saat-saat dimana ia akan mati tertembak peluru atau tertangkap dan dijebloskan ke dalam jeruji besi. Satu regu polisi telah mengepungnya, dan sekarang ia bersembunyi hanya untuk menanti tertangkap.

Sesaat sebelum semua hal itu terjadi, Franky sedang berada di sebuah motel bersama kekasihnya, Anne. Mereka berdua bercumbu tanpa dosa, sebelum akhirnya segala arah memperdengarkan sirine mobil polisi. Sebuah tindakan terbodoh Franky untuk keluar malam itu di sebuah motel bersama sang kekasih. Buru-buru ia pergi dari motel itu dan menyetir mobil Chevroletnya bersama Anne. Beberapa kali ia harus berakting seolah tak terjadi apa-apa dan berperan sebagai warga biasa, hingga di suatu traffic light seorang polisi yang menghampirinya karena mungkin agak mengenal wajahnya.

“Selamat siang. Bisa tunjukkan rubuwesnya, Pak?” tanya si polisi itu. Franky hanya tersenyum dan tiba-tiba meraih pistol dari balik bajunya dengan cepat untuk kemudian ditembakkannya di dada polisi itu 2 kali.

Dor! Dor!

Maka tersungkurlah sang polisi tanpa sempat mengeluh meregang nyawa. Tak cukup sampai di situ, ia keluar mobil cepat-cepat dan menjarah pistol polisi yang terselip di samping tubuh tak bergerak itu untuk ditembakkannya lagi 3 kali ke jasad yang telah terbujur di aspal itu.

Semua orang yang melihat itu lari ketakutan. Anne melihati sang kekasih yang begitu kejam dengan pandangan takut, mungkin ia tak pernah menyangka kekasihnya itu adalah seorang pembunuh keji pula. Franky buru-buru masuk mobil untuk melarikan diri. Entah panik atau gila, dia melakukan itu semua di dalam kota.

Hingga akhirnya kini ia terpepet di sebuah ruangan sempit di gedung kecil malam itu. Semua orang seperti perlu untuk menyaksikan tertangkapnya penjahat keji yang telah membunuh seorang polisi.

“Hidup atau mati, ia harus diseret kemari!” teriak seseorang tua dari balik meja. Tampangnya garang, ia adalah seorang petinggi polisi. Hampir-hampir seluruh polisi di kota ikut mengepung tempat itu, tempat dimana Franky mencoba bersembunyi.

Di sisi lain kota, tempat Franky terkepung terdengar sudah jeritan-jeritan toa.

“Keluar, Franky! Anda sudah terkepung!”

Betapapun, polisi yang berteriak dengan toa itu pasti telah tahu kalau Franky tak akan dengan mudah menyerahkan diri hanya dengan teriakan seperti itu. Maka seluruh polisi satu regu itu menyerbu ke dalam gedung itu.

Semua orang pasti mengetahui akhir cerita ini. Franky tertangkap tapi hanya jasadnya, ruhnya melarikan diri bersama malaikan maut.

Dua orang telah meninggal, seorang polisi dan seorang lagi bandar narkoba. Dunia memaklumi, hanya saja beberapa manusia tak habis pikir ketika menggeledah jaket Franky yang masih menempel di jasad yang melotot itu. Di sana terselip sebuah kertas kecil bertuliskan: “Di balik dada ini terdapat hati seorang yang baik.”