Lihatlah Rembulan Nanti

by membualsampailemas


Setyoko Andra Veda

Beberapa hari belakangan, aku sering memerhatikan bulan di langit malam yang bundarnya kian hari kian memudar. Hal tersebut adalah sebuah keniscayaan, sesuai dengan ukuran yang telah diberikan Tuhan kepada bulan yang sinarnya memesona di langit malam.

Bulan selalu setia menjadi penyampai rindu seseorang pada kekasihnya nun jauh di sana. Penyampai rindu yang lebih purba daripada keberadaan manusia, boleh jadi karena dia telah ada sebelum manusia dicipta. Begitulah aku yang selalu menitipkan rinduku pada bulan agar sampai di tempatmu dengan utuh.

Setahun yang lalu mungkin kita bukanlah siapa-siapa dan tiada terlalu saling mengenal, bahkan sedang menjalani takdir yang berbeda masing-masing di tempat yang berbeda pula. Setahun kemudian kita telah sampai pada masa sekarang yang telah mempertemukan kita di satu persimpangan jalan. Betapa hidup memang penuh dengan kejutan. Setahun ke depan entah apa yang akan terjadi kan tiada yang tahu, tapi manusia berhak memilih dan memang memiliki pilihan, bukan seperti bulan yang tidak bisa memilih untuk beredar lepas dari bumi, sebab Tuhan telah menakdirkan dia untuk selalu beredar pada bumi agar kita dapat menikmati indahnya cahaya keperakan darinya di langit malam hari.

Beribu kata telah kususun seperti ini dahulu, bukan hanya tertuju padamu saat ini, tapi pada orang lain. Ketika itu kita belum bertemu. Namun segalanya berlaku tandus. Semua kata telah musnah dalam kedipan takdir. Makna-makna yang terkandung di dalamnya telah rusak karena pilihan manusia-manusia yang menjalani takdirnya. Maka aku bermohon maaf pada segala.

Setahun yang lalu ada pula bulan seperti sekarang ini, penampilannya tiada berubah. Dia masih merayap di dinding langit yang sama, dengan wajah yang sama, dengan sinar serupa. Dia tiada pernah berubah mungkin sejak purba sebelum kita ada. Yang berubah adalah kita, manusia, yang dengan seiring berjalannya waktu kita memilih untuk berbuat sesuatu yang bisa menentukan masa depan kita. Hari ini adalah hasil pilihan dari hari kemarin, dan demikian seterusnya. Kebahagiaan kita adalah takdir yang telah kita pilih, berpindah dari takdir buruk ke takdir baik, begitupun sebaliknya, kesengsaraan.

Makna tersirat dalam tulisan yang dibuat oleh peradaban. Selamat untuk kita yang telah memilih satu jalan kebahagiaan. Di masa yang akan datang yang kita belum pernah tahu apa yang akan terjadi, maka memilihlah takdir yang baik.