Maaf, Sesal, Maklum

by membualsampailemas


Bintaro, 19 Oktober 2013

Setyoko Andra Veda

Maaf adalah sebuah kata yang digunakan untuk menampung segala makna yang berkaitan dengan rasa penyesalan akan sesuatu yang telah terjadi, penyesalan yang tidak diharapkan. Memang mana ada yang mengharapkan sebuah penyesalan, oleh karenanya tatkala penyesalan itu telah terlanjur hadir, diucapkanlah kata ‘maaf’ untuk mengungkapkan penyesalan dengan berbagai pengharapan agar kesalahan yang sama tiada terulang pada subyek yang sama pula, bahka subyek lain. Begitulah sebuah kata dapat memerangkap makna-makna yang sebenarnya tiada dapat diungkapkan secara verbal sahaja.

Belakangan ini di dalam dada masing-masing dari kita mungkin ada terdapat rasa penyesalan akan sesuatu hal yang telah terjadi di masa silam. Maaf adalah salah satu senjata ampuh untuk menghilangkan rasa penyesalan tersebut, tapi tetap saja maaf hanyalah sebuah kata, sedangkan makna yang berusaha diungkapakan ternyata lebih besar dari segala kata yang pernah terucap. Maaf hanya menjadi sebuah retorika.

Penyesalan itu mungkin bisa jadi adalah ketika kita tak dapat mengendalikan perasaan dengan segala logika yang ada. Tatkala rasa sudah begitu menyesak di dada, ketika itu pula logika begitu tertekan dan semakin tiada bergua. Semua gelap di mata, semua gelap tanpa bulan dan tanpa bintang, layaknya malam yang kelam, begitu kelam, sangat kelam, bagaikan tiada lagi kekelaman yang mengalahkan malam tanpa bulan dan tanpa bintang, tanpa sedikitpun penerangan.

Dari hal-hal semacam itu pulalah kita dapat mengambil pelajaran tentang sesuatu, yaitu: pemakluman. Pemakluman terhadap orang lain yang sedang dirundung rasa berlebihan sehingga bertingkah tak sewajarnya, bertingkah terlalu emosional, atau bisa saja terlalu sentimentil. Menggunakan perasaan dan logika dengan berimbang adalah sulit untuk orang-orang demikian. Seperti yang telah digambarkan bahwa penyesalan telah menjadi santapan yang biasa karena tidak siapnya diri menerima risiko atas keputusan yang telah diambil di depan.

Tapi jika ditilik dari sisi lain, kata ‘maaf’ hanyalah sebuah kata benda untuk seseorang yang melakukan kesalahan yang menimbulkan penyesalan, sedangkan jika kata ‘maaf’ itu diberi awalan me- dan akhiran –kan akan menjadi sebuah kata kerja yang memerangkap makna lain pula: memaafkan. Memberikan maaf konon lebih sulit ketimbang meminta maaf. Seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari, kadangkala kita lebih sulit untuk memberi daripada meminta.

Beberapa orang memberi tanpa dipinta, beberapa yang lain dipinta lebih dahulu baru memberi. Apapun entah itu untuk kata ‘maaf’ maupun untuk sesuatu yang kasat mata seperti materi. Sebaik-baik memberi adalah yang dilakukan dengan keikhlasan. Memberikan maaf juga dilakukan dengan keikhlasan, sedangkan ikhlas adalah sesuatu yang abstrak karena berkaitan dengan rasa. Siapa yang menilai? Tuhan.

Sesal adalah perasaan wajar, tapi jika terlalu sering datang tentu saja tak baik untuk kesehatan. Agar tak menyesal? Tentu harus menimbang-nimbang perbuatan sebelum dilakukan, dan tak setiap perbuatan memiliki cukup waktu untuk ditimbang-timbang. Hidup itu rumit, tapi dengan pemakluman semuanya menjadi ringan, dan dengan terlalu banyak pemakluman tentu tak baik pula untuk kesehatan.

Selamat sore.. J

Iklan