Senja Hujan Di Jakarta

by membualsampailemas


Niatnya pulang lebih awal setelah ashar, perkiraan sampai Bintaro jam setengah 6 dari Kantor Walikota Jakarta Utara di Tanjung Priok. Namun kenyataan memang kadang bisa lebih ngenes daripada harapan, tepatnya saya sudah terlalu berharap untuk pulang lebih awal dan menikmati jumat sore lebih dulu daripada yang lain. Ban bocor, sehingga harus di tembel. Dimana tempat nembel ban terdekat dari Kantor Walikota Jakarta Utara? Yaitu di belakang gelanggang olahraga sebelah kantor. Masih di tanjuk Priok.

Setelah ditembel selesai, hujan turun tatkala motor baru digeber sampai bawah jalan layang sebelum belok ke Jalan Pramuka, hampir sampai kantor BPKP. Tak tanggung-tanggung, hujan turun begitu hebat.

Biasanya saya suka menantang alam kota, mendung saya tembus meski akhirnya kehujanan. Tapi itu sudah terlalu sering, begitu sering saya menantang alam kota jakarta yang mendung penghujan dan hujan-hujanan, maka saya pilih untuk berteduh di bawah Jalan Layang Tol Cawang-Tanjung Priok. Semua kendaraan yang berroda 2 berteduh sejenak, ada yang memang menanti hujan reda, ada pula yang sekadar memasangkan mantel ke tubuh untuk dilanjut mengembara menembus hujan jakarta. Semula saya ingin mendengarkan lagu baru Banda Neira, Senja Di Jakarta.

“Bersepeda di kala senja, mengejar mentari tenggelam, hangat jingga temani rasa, nikmati jakarta.”

Maaf Rara, Nanda, sore ini Jakarta tak bisa begitu dinikmati seperti di dalam lagu kalian. Meski biasanya saya masih bisa menikmati senja di jakarta dalam keadaan macet, tapi tidak jika hujan datang mendera. Sebenarnya sudah terlalu biasa, sudah sangat biasa, dan terbiasa dengan macet di jakarta yang begitu riuh, dengan hujan dan banjir yang menggenang di jalan pramuka pun itu sudah biasa, hanya mungkin sore ini membuat suasana hati terlalu sentimentil, tak ada sedikitpun guratan jingga di langit kota ketika senja tiba. Di langit pun terpantul lautan kendaraan di bawah sini.

Takut earphone rusak kehujanan, maka tak jadi saya mendengar lagu itu, cukup dibayangkan. Berteduhlah saya sementara di bawah itu jalan bersama-sama dengan para pengendara lain. Tanpa rasa bersalah, menepi di pinggir jalur busway. Bagaimana lagi para pengendara yang tak membawa mantel seperti saya ini harus berteduh? Semua dihalalkan.

Di sela-sela menanti redanya hujan, saya perhatikan jalan layang di atas saya, begitu kokoh dan besar membentang dari cawang ke tanjung priok sana. Setelah saya ingat-ingat, itu adalah jalan layang yang dulu pengerjaannya menggunakan teknik sosrobahu, teknik yang ditemukan oleh Ir. Tjokorda Raka S. Teknik membuat penyangga jalan tanpa membuat macet jalanan, yaitu dengan memutar lengan penyangga 90 derajat menggunakan tekanan tertentu, kalau tak salah, ada angka 78 kg/cm2 untuk menggerakkan lengan penyangga yang kokoh itu. Betapa hebatnya orang itu, Ir. Tjokorda.

Setelah redanya hujan yang dinanti-nanti tiba, maka saya melanjutkan lagi perjalanan pulang. Belum sampai manggarai, hujan sempat turun sejenak untuk menggoda para pemotor, berteduhlah lagi di sebuah kantor BRI yang sudah tutup, meski tak begitu lama.

Sampai di Manggarai, ketika waktu maghrib tiba, dan hujan masih rintik-rintik, saya memutuskan untuk maghriban dulu di sebuah mushalla kecil yang tak terlalu ramai, di dekat pintu air manggarai. Beberapa anak muda menawarkan jasa penitipan sepatu dan tas, mereka mengikuti saya sejak motor diparkirkan. Anehnya, mereka malah tidak ikut shalat maghrib berjamaah dmeski di leher mereka terbelit sarung. Macam apa mereka ini? Dunia itu menggoda ya? Meski harganya 1000-2000? Semoga mereka segera tobat.

Dan pertunjukan kemacetan jakarta dimulai dari Manggarai ke Tebet, Tebet ke Pancoran, Mampang, Tedean, jalur penuh sesak. Motor pun kalah cepat dengan pejalan kaki, saya jamin itu. Selepas maghrib sudah tak ada warna jingga maupun merah di langit jakarta. Langit biru kelabu memayungi segala penjuru, asap knalpot kendaraan berebut masuk hidung, pengap. Apalagi tatkala sampai di persimpangan Pancoran, hal tersulit untuk kebanyakan pengendara adalah menahan nafsu untuk tidak membunyikan klakson karena macetnya luar biasa. Traffic Light yang tidak selaras dan lalu lalang mobil dan motor yang semrawut, disertai jalanan basah bekas hujan, membuat makin sentimentil.

Lepas dari Pancoran setelah perjalanan yang dekat namun lama dan melelahkan dari Manggarai, masih juga ujian hidup datang di jalan Gatot Subroto. Seluruh lajur diisi kendaraan bermotor, motor sudah seperti air, mengisi sampai celah tersempit. Bernyanyi-nyanyi bisa menjadi hiburan biar gak gila.

Mampang, tendean, semua sama saja.

Tapi ketika sudah masuk wilayah Blok M, suasana lancar mulai terasa. Alhamdulillahirobbilalamiin. Blok M ke PIM meski padat, tapi itu sudah biasa. Kalau orang yang belum biasa mesti sudah marah-marah sedari tadi, atau mungkin sudah lari saja, daripada naik motor. Yah, hidup itu pilihan. Semua itu biasa, sangat biasa di Jakarta. Biasakanlah.

Sampainya di depan markas BlueBird, banjir masih terasa, dan itu membuat macet karena kebanyakan kendaraan menghindar dari banjir itu. Tapi karena saya orangnya anti-mainstream, ya diterobos saja itu banjir. Walhasil, 4 jam di jalanan Jakarta terlaksana pula. J