Pencurian Kain Kafan

by membualsampailemas


Kemarin kamis malam sekira pukul 8 malam, tetanggaku meninggal dunia. Entahlah betapa hidup itu ternyata sungguh singkat. Dia adalah seorang ibu penjual bensin eceran di warungnya yang kecil. Anaknya yang paling kecil masih kelas 3 SMP, kakaknya sudah berkeluarga. Suaminya juga berjualan bersama dia di warung itu. Mereka berdua adalah orang yang ramah, selalu memberi senyum kepada para pembeli bensinnya.

Bensin yang mereka jual adalah bensin biasa, di dalam botol kaca bekas minuman keras yang ditutup gabus padat, hanya saja takarannya tak seperti pada umumnya penjual bensin eceran karena mereka menambahi 1 liter bensin itu hingga botol penuh. Dan soal harga pun tetap sama dengan bensin eceran lain. Tujuh ribu rupiah. Maka dari itu bensin eceran mereka lebih laris, karena dengan harga yang sama, para pelanggan bisa mendapat takaran lebih.

Ibu itu meninggal dengan ‘perantara’ yang tak pada umumnya. Dia meninggal lantaran tertabrak sepeda, ya, sepeda biasa, lantas di jatuh.

Banyak orang tewas di jalan setelah tertabrak sesuatu yang besar seperti mobil maupun motor, tapi ini hanya sebuah sepeda biasa dan ibu itu meninggal. Jika dipikir-pikir, memang Tuhan Maha Berkehendak. Ada orang yang selamat dari tabrakan antar motor, dan ada orang yang mati gara-gara tertabrak sepeda biasa.

Istimewanya dari kisah ini adalah, ibu tadi meninggal pada hari Kamis malam pukul 8. Menurut kalender sonar/masehi, itu masih hari Kamis, tapi menurut kalender lunar/jawa/hijriah, itu sudah masuk hari Jumat. Tepatnya Jumat kemarin, Jumat Kliwon.
Ada yang istimewa daripada kematian seseorang di hari Jumat Kliwon. Konon, kain kafan dari sang mayit yang meninggal di hari itu bisa digunakan sebagai jimat untuk menghilang atau menjadi tak terlihat, semacam jubah Harry Potter yang membuat tak terlihat orang yang memakainya. Oleh karena itu kain kafan sang mayit rawan dicuri oleh orang-orang ‘hitam’, tepatnya maling, supaya tidak ketahuan ketika melakukan aksi malingnya.

Hal itulah yang menyebabkan di desa saya sejak dulu orang yang meninggal pada Jumat Kliwon, makamnya akan ditunggui oleh keluarganya tatkala malam sampai 7 hari berturut-turut agar kain kafan sang mayit tidak dicuri orang. Mengerikan memang kedengarannya, tapi ini nyata.

Hal yang mengejutkan baru saja terjadi siang tadi, seisi RT di sini gempar karenanya. Dalam sekejap kabar itu menyebar ke seluruh desa. Bahwa kuburan si ibu yang meninggal kemarin sudah rusak dan acak-acakan. Yang mengetahui pertama adalah 2 keponakannya menjelang sore tadi tatkala hendak bersiap jaga kuburan malam ini. Mereka mendapati kuburan itu sudah tidak semestinya, tanahnya tidak seperti biasanya, acak-acakan. Akhirnya sore tadi, keluarga memutuskan untuk menggali kembali kuburan itu dan para warga menyaksikannya.
Betapa terkejutnya semua, termasuk aku, bahwa kain kafan sang mayit itu memang benar sudah tidak ada, mayit sudah tidak memakai apa pun di tubuhnya. Kain kafan itu hilang tak tersisa, termasuk tali-talinya! Aku berpikir bahwa ini semua benar-benar gila! Masih ada di tahun 2014 ini yang berlaku demikian?!
Keluarga hanya bisa pasrah dengan mengafani ulang mayit ibu itu dan menguburkannya kembali sore tadi. Kain kafan mayit yang meninggal Jumat Kliwon masih menjadi daya tarik untuk para pencari harta haram dengan cara memaling, demi ‘tidak kelihatan’, maling rela mengeduk kuburan dan mencuri, di siang bolong pula! Dan tidak ada yang tahu akan perbuatan itu dalam artian memergoki perbuatan siang bolong begitu. Penjagaan malam pada kuburan mayit itu tidak cukup, harus dengan penjagaan siang pula rupanya. Di saat orang berpikir hal buruk terjadi tatkala malam tiba, ternyata ia lengah bahwa di siang hari kejahatan tak kalah banyaknya.

Setyoko Andra Veda
Minggu Pahing.
+cerita ini jangan terlalu dianggap serius+