Pena Tak Bertinta

by membualsampailemas


Baru beberapa hari yang lalu saya tahu tentang SEMAKBELUKAR, sebuah band indie yang tampil cerdas di jagad musik Indonesia. Kebanyakan orang mungkin tidak tahu dan tidak akan pernah tahu tentang mereka karena mereka telah membubarkan diri justru pada saat peluncuran album mereka yang bertajuk sama dengan nama mereka sendiri, justru pada saat orang-orang bertanya siapa itu SEMAKBELUKAR. Beberapa orang mengatai mereka sebagai band ‘terbangsat’ 2013. Lirik-lirik lagu dan alunan nada yang mereka buat benar-benar berbeda dengan kebanyakan band folk indie.

Musik melayu menjadi senjata utama mereka. Vokal bercengkok-cengkok yang terkadang terdengar seperti orang yang mengaji (apalagi dalam lagu Malasmarah), alunan nada dari akordion yang meliuk-liuk bak penari telanjang, menjadi ciri khas mereka yang utama. Nuansa melayu begitu kental. Jika ditinjau lebih jauh, bukan hanya persoalan nada saja yang memikat rasa, tapi juga diksi di dalam lirik-lirik mereka yang kebanyakan berupa seloka.

Untuk membuat sebuah seloka bukanlah perkara mudah, apalagi membalutnya dengan alunan nada-nada yang luar biasa. Masing-masing orang memiliki caranya sendiri untuk berbicara. Ada orang yang secara terus terang berkata, ada pula yang secara tersirat menyampaikan maksud dengan dibalut kata-kata yang indah namun hati-hati. SEMAKBELUKAR memilih cara yang kedua.

Sebagai contoh adalah lirik di dalam lagu Pena Tak Bertinta yang bisa kita tafsirkan sebagai sindiran untuk para penjual janji di kancah perpolitikan bangsa. Mereka bermain musik dengan penuh perasaan, perasaan orang-orang yang sudah ‘muak’ dengan dunia. Adapun maksud sebenarnya dari seloka bernada itu sendiri kita takkan pernah tahu, karena sebuah tulisan sering dibebani tafsir yang tak diniatkannya sendiri. Kan iya?

Sebuah pena tiada bertinta

Tulis aksara mengumbar cinta

Begitu indah rangkai cerita

Walau ternyata penuh derita

Air di mata sia-sia belaka

Air di mata hanyalah petaka

Atau kita sendiri kadang merasa tersindir lantas tersenyum menertawai diri. Benarkah diri ini bak pena tak bertinta? Walau ia tak bertinta, ia tetap berusaha menulis aksara dan mengumbar cinta. Bagaimanapun tanpa tinta tidak akan ada sebuah titik. Tanpa cinta, tidak akan ada cantik. Menggoreskan aksara tanpa berbekas di atas kertas, adalah hal yang sia-sia.

Baik-buruknya sebuah pena bukanlah dilihat dari caranya menulis aksara, tapi dari kadar tintanya. Goresan yang pas akan menghasilkan tulisan yang khas, goresan yang penuh perasaan akan menghasilkan makna yang berkesan. Pena dapat berbentuk apa saja, tapi tanpa tinta ia hanyalah sebuah benda tak berguna sebagaimana mestinya.