Kimia

by membualsampailemas


Chem is try. Itu adalah kalimat yang saya dapatkan pada saat pelajaran kimia. Saya baru benar-benar mengenal kimia itu apa adalah sejak saya SMA di SMA N 1 Purworejo, dan orang yang berjasa mengenalkan saya pada kimia salah satunya adalah Bapak Drs. Suroto. Tiga tahun berturut-turut beliau mengajar kelas saya, dan selama tiga tahun itu jujur saya merasa tertarik pada kimia, meskipun nilai saya tidak sebagus teman-teman yang lainnya dan jurusan saya ketika saya kuliah bukanlah jurusan ilmu sains.

Pak Roto adalah sosok yang pandai, sangat pandai dan sangat memahami kimia. Bukan itu saja, cara beliau dalam mengajar juga cukup ‘memudengkan’ dan menarik. Tentu itu karena beliau guru kimia, dan sehari-hari beliau mengajarkan itu. Hal yang tidak saya lupakan dari perkataan beliau adalah “kita tidak pernah bisa lepas dari kimia”, karena pada dasarnya ilmu kimia adalah ilmu yang meliputi segala sesuatu. Jadi kimia tidak bisa diartikan terbatas pada bahan-bahan buatan, seluruh bahan baik itu buatan maupun natural, terdiri dari unsur-unsur kimia. Begitu pula saya, tidak bisa lepas dari kenangan bahwa saya pernah diajar oleh beliau selama 3 tahun berturut-turut dan selama itu pula banyak sekali ilmu yang telah beliau ‘transfer’ ke otak-otak para siswanya.

Suatu kesedihan adalah mengetahui bahwa beliau terkena tumor otak dan menjalani operasi pada pertengahan Januari 2014 kemarin. Kala itu kebetulan saya sedang ‘nganggur’ sebulan dan berencana main ke Jogja bersama teman-teman untuk mengisi ‘liburan’ panjang. Menjelang acara liburan itu, saya mendapat kabar bahwa Pak Roto sakit dan dirawat di RS Bethesda. Itu sangat mendadak, karena sebelumnya beliau sehat-sehat saja dan sekarang belaiu sudah di rumah sakit. Seketika itu saya dan teman-teman berencana untuk membesuk setelah acara main-main kami ke Jogja.

Kalau tidak salah hari itu Sabtu, 18 Januari 2014, saya dan teman-teman membesuk Pak Roto di RS Bethesda. Bersama teman-teman saya, Bingkas Satrio Aji, Adhika Nandiwardhana, Arif Wibowo, Anang Ferdi Kusuma, Gisca Ajeng Widya Ninggar, Rahayu Asriani, Tantri Kurniasari, dan Atikah Dinarti, kami sampai pada waktu maghrib. Ketika kami sampai di ruang beliau di rawat, saya sempat berbincang-bincang dengan Pak Roto dan membesarkan hati beliau (meski saya tahu ilmu saya dalam soal berbesar hati mesti masih dibawah orang seperti Pak Roto), dan tak disangka ternyata itu adalah bincang-bincang saya yang terakhir kalinya dengan beliau, seorang guru yang telah sangat baik dan berjasa pada banyak siswa di SMA N 1 Purworejo. Suatu kesedihan yang mendalam adalah mengetahui bahwa beliau telah berpulang, telah meninggalkan kita semua dari dunia ini, pada pagi hari ini, Rabu, 5 Maret 2014. Suatu kesedihan pula bahwa ternyata saya tidak dapat pergi untuk takziah ke Purworejo karena masalah jarak. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan sekarang adalah mendoakannya semoga beliau mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah.

Tidak dapat dipungkiri, seluruh warga SMA N 1 Purworejo yang mengenal beliau sangat berbela sungkawa atas peristiwa ini. Namun lagi-lagi, Allah telah menentukan segalanya, rejeki, jodoh, dan mati. Satu hal yang harus kita sadari, bahwa kematian orang-orang di sekitar kita, musibah yang menimpa, maupun sakit dalam bentuk apa pun, adalah sebuah pelajaran yang disampaikan oleh Allah pada orang yang menderita dan juga orang-orang di sekitarnya. Betapa perpisahan itu sebenarnya adalah hal yang biasa, namun menjadi luar biasa tatkala manusia memberikan makna yang beragam tentang perpisahan itu. Tentu akan lebih mudah jika manusia tak usah memberi makna yang terlalu pada kata “pisah”, tapi apa daya, kita adalah makhluk yang lebih besar sisi sentimentilnya dan perasaan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari sesosok manusia, seperti apa pun bentuk manusia itu.

Ketika kita berhadapan dengan manusia, kita sedang berhadapan dengan sesosok makhluk yang sama dengan diri kita, harga diri, perasaan, dan sekelumit jiwa yang kompleks dan rumit.

Bagaimanapun, ‘yang meninggalkan’ tentu telah terlepas dari ikatan keduniawian, dan ‘yang ditinggalkan’ masih memiliki peran di dunia, baik peran untuk diri sendiri maupun peran untuk orang lain. Allah Maha Berkuasa. Ada seseorang yang hidup sampai tua sekali tapi tak kunjung dicabut nyawanya, tapi ada juga seseorang yang masih sangat muda dan telah berjumpa dengan kematian.

Sudah selayaknya, saya sebagai seseorang yang pernah diajar dan pernah merasa mendapat kebaikan dari beliau memiliki ‘utang rasa’ pada beliau. Selamat jalan, Pak Roto, semoga diberi kelapangan dan keberkahan setelah keberpulanganmu. Amin.

Allah meliputi segala sesuatu.

 

Rabu, 5 Maret 2014

Yang berutang rasa, Setyoko Andra Veda