Ketika Rantai Motor Gareng Pedhot

by membualsampailemas


Gareng baru saja pulang kerja. Semenjak ia dan Petruk menjadi komika di Jakarta, semuanya berubah, dandanan, makanan, pakaian, tak lagi sama seperti dulu tatkala mereka main kethoprak di desa. Beberapa hal yang tidak berubah adalah muka mereka, tetap seperti itu-itu saja, selain itu komunikasi mereka dengan keluarga di desa juga tetap. Tiap minggu pasti mereka menghubungi Pak Semar dan Bagong dengan telepon, sekedar menyambung rasa, menyampaikan kerinduan karena lama tiada pertemuan.

Satu hal yang unik sore itu, tangan Gareng terlihat belepotan hitam-hitam seperti baru memegang rantai motor. Bekas-bekas kehitaman itu masih terlihat di telapak tangannya. Sudah sewajarnya pejuang kerja di Jakarta ini berkendara motor, selain lebih cepat dan bisa slanang-slonong mengisi ruang kosong seperti air, memakai motor ternyata lebih hemat, lebih irit, apalagi pakai premium. Coba saja bandingkan dengan naik angkutan umum yang suka ngetem, belum lagi harus oper di beberapa tempat, sudah rugi waktu, rugi uang pula. Sekali ngangkot sekarang 3000-4000, kalau naik commuter line mungkin agak murah, tapi tak semua tempat kerja itu dekat dengan stasiun. Pokoknya hidup di Jakarta itu mengubah kehidupan Gareng dan Petruk.

Motor Gareng diparkirkan di teras kostnya, Petruk yang sudha pulang terlebih dahulu melihat keanehan pada wajah Gareng yang tampak cemberut, ditambah tangannya kotor sangat.

“Kamu kenapa, Reng?”, tanya Petruk sambil memegang sapu, ia hendak menyapu teras rupanya.

“Nggak apa-apa..!”, celetuk Gareng dengan nada sewot.

“Lhah, kok sewot?”

Gareng mlengos begitu saja ke dalam kost. Hari sudah candekala, kelelawar sudah waktunya untuk keluar, senja kali ini meski tak seindah biasanya yang menyajikan pemandangan matahari bundar, tapi tetap saja memerah bagai pipi seorang wanita. Petruk yang mendapat tanggapan sedemikian dingin dari Gareng tak ambil pusing, ia memulai kegiatannya menjelang maghrib itu, menyapu teras sambil sesekali melihati motor Gareng.

Beberapa saat Petruk manggut-manggut lalu mafhum kenapa Gareng sewot. Ternyata rantai motor Gareng baru. Petruk langsung bisa berasumsi bahwa Gareng baru saja ganti rantai motor, penyebabnya pasti rantainya lepas atau patah. Dasar Gareng, memang dia tak pernah merawat motornya sendiri, bisa dibilang sangat jarang. Jarang diberi gemuk alias oli rantai, boro-boro dicuci, dilap saja jarang.

Setelah selesai menyapu teras, Petruk masuk kostnya.

“Ciyee..rantainya baru ni yee..”, kata Petruk sambil nyelonong menghidupkan televisi.

“Baru gundulmu..! Aku kesusahan tadi, mana putus di flyover pejompongan, bengkel ternyata jauh juga dari situ. Sempet juga rantainya nyleseb di sela-sela gear roda belakang itu, untung ada bapak-bapak baik yang mau nolongin ngeluarin rantai itu.”

“Yo alhamdulillah to?”

“seket limo ewu, dab..! (55000)”, tukas Gareng.

“lah untungnya bawa duit cukup to?”

“Lah kalau enggak? Modyaar aku. Tapi ya sudahlah, mau gimana lagi, Truk.” Gareng duduk dekat Petruk yang nonton tivi.

“Tadi pagi hujan, Reng. Kamu udah bawa mantel juga kan tadi pagi?”, tanya Petruk.

“Iya. Kenapa?”

“Gimana sekarang rasanya bawa mantel?”

“Yaaaa..lebih tenang aja sih, Truk. Kamu gak kehujanan po tadi?”

“Enggak. Orang aku numpang mobilnya temanku tadi.”

Sejenak mereka berdua diam dan menonton berita di televisi. Pemilu sebentar lagi bakal digelar, katanya. Tidak boleh golput, katanya, bolehnya goltam, golongan hitam.

“Reng, hidup itu asyik kan? Kita bisa menikmati tiap-tiap peristiwa, baik itu menyenangkan atau tidak, masih bisa kita nikmati kalau kita senantiasa bersyukur sama GustiAlloh.”

“Iya je, Truk. Bener juga.”

“Kemarin-kemarin, pas kamu belum punya mantel hujan, kalau pagi hari mendung mesti udah males banget rasanya mau berangkat kerja. Belum kalau harus macet-macetan di jalanan. Tapi sekarang? Coba cerita..”

“Sama aja sih, Truk. Eh tapi, tadi aku ya agak tenang juga kalau udah bawa mantel, walau mendungnya itu bikin males, tapi aku jadi lebih percaya diri buat ngantor. Udah gak takut kehujanan gara-gara punya mantel. Itu aja sih. Beda dulu, pas belum punya mantel, kalau mendung kayak tadi pagi itu dan belum sampai ke tempat tujuan, rasanya pengen nggeber motor secepat-cepatnya, hati gak tenang karena takut kehujanan.”

“Begitulah manusia, Reng. Bawa mantel di musim begini itu ibarat bawa amal menjelang kematian. Kalau semasa hidup, manusia selalu beramal baik, berhubungan baik sesama manusia dan kepada Tuhan Yang Maha Esa, pasti ia bakal tenang ketika ajal menjemputnya kapan saja, atau paling tidak ketika ia mati, ia ‘pede’ menghadapi kematian. Terserah mau diapakan di alam baka, tapi manusia yang demikian sudah berbuat baik selama hidupnya. Tuhan Maha Tahu, Maha Membalas.”

Gareng manggut-manggut mendengarkan Petruk.

“.. Beda halnya sama orang yang gak pernah berbuat baik, atau sangat jarang berbuat baik sesama manusia. Cuma memikirkan dirinya sendiri, seolah hidup itu hanya tentang dirinya. Apalagi kalau ia gak pernah bersyukur atas apa-apa yang ada pada dirinya. Pasti tatkala ajal sudah dekat, ia bakal gak siap, gak tenang. Rasa-rasanya mesti takut. Takut disiksa, takut mati, takut sama sang pencabut nyawa. Masih nggondheli dunia saja. Itulah, hanya dari pelajaran kamu bawa mantel ketika berkendara motor di musim begini.”

“Kamu kok sok bijak gini ada apa?” celeuk Gareng, kali ini sambil mengeluarkan racikan mbako andalannya.

“Gak ada apa-apa, Reng. Mumpung lagi inget aja.”

“Syukurlah.”

“Eh tapi, walau sudah bawa mantel, kadang-kadang pengendara motor masih punya kendala lain selain cuaca. Misalnya kayak kamu tadi, bisa rantainya putus, atau ban bocor, atau kalau lebih parah malah kecelakaan. Yah, namanya juga hidup, segala hal bisa terjadi. Siap atau tidak, hal kayak gitu pasti bakal datang suatu saat. Itulah yang disebut ‘tes’ dari Tuhan. GustiAlloh pengen ‘ngetes’ kamu apakah kamu tetap berjuang atau malah marah-marah. Atau GustiAlloh pengen ‘guyon’ sama kamu, apakah kamu sudah bener-bener menerima atau kamu masih ‘kecu’. Heuheu.”

“Nyindir aku to, Truk?”

“Lhoo..enggak, Reng. Aku hanya pengen kamu tau, bahwa baru saja mungkin GustiAlloh ‘nggleweh’ kamu dengan cara demikian. Pengen tahu apakah kamu istiqomah atau enggak. Hehehe. Ternyata kamu jadi sewot.”

“Astoghfirulloh. Yen ngono saiki aku tak mesem wae (senyum).”, sahut Gareng. Lantas mereka berdua melanjutkan nonton tivi, lihat berita tentang kesemarakan pemilu yang serba ‘guyon’ ini.

 

*guyon= bercanda

*candekala= waktu menjelang senja

*nggondheli= menarik-narik, menyeret-nyeret, membawa-bawa

“nggleweh= membecandai/menggoda

*kecu=*******************

*mbako= tembakau

Bintaro, 10 Maret 2014

Setyoko Andra Veda

Iklan