Cahaya Bintang di Malam Hari

by membualsampailemas


Dia selalu menjadi yang diperhatikan, karena dia memang patut untuk diperhatikan. Bukan hanya aku seorang, tapi semua orang baik pria maupun wanita patut dan perlu untuk memerhatikannya. Dia hanya sangat indah, begitu indah, bagaikan tiada lagi yang mampu untuk menyaingi keindahannya di dunia ini. Dia adalah wanitaku, orang yang selalu ada untukku dan selalu menjadi perhatianku yang utama. Begitu lemahnya aku di depannya.

Entahlah bagaimana awalnya, tapi semua ini tidak terjadi begitu saja.

Setiap seminggu sekali aku mengunjungi rumahnya, malam minggu, bercerita dengan bapak dan ibunya, memandanginya di depanku dari sofa di depan televisi sambil menikmati teh, atau sekadar menikmati bersama alunan musik dari vinyl 7″ yang diputar dari gramophone milik ayahnya. Lagu yang biasa kami dengar adalah dari Nat King Cole, I Love You For Sentimental Reason, atau Patty Page dengan Tennesse Waltz-nya, yang betapa jeniusnya lirik dari lagu itu sampai-sampai membiusku. Entahlah, tiap kali aku ke sana, dia selalu memakai rok yang panjangnya sampai di bawah lutut, tapi tetap melihatkan betisnya yang anggun itu. Atau bibir merahnya yang selalu ia pertunjukkan padaku. Atau matanya yang lebar dan senantiasa menatapku dengan pandangan semacam: “Aku mencintaimu”. Semua ini seperti halnya mimpi yang menjadi nyata. Dia ada di sisiku.

Cahyaning Kartika Ratri, itulah namanya. Kurang lebih berarti cahaya bintang di malam hari. Jika aku keluar berdua bersamanya di malam hari, bintang-bintang tidak ada yang nampak. Mungkin karena bintang di langit bersepakat agar hanya ada satu bintang yang berpendar di malam hari, dialah kekasihku, yang sedang cantik-cantiknya sampai-sampai bintang tiada nampak malam ini. Rambutnya hitam, lebat, bergelombang, dan mungkin panjangnya sekitar sampai siku? Entahlah, ia selalu mengucirnya. Sejujurnya aku terlalu mengaguminya, seakan-akan aku ingin memeluknya senantiasa. Tapi dibalik kecintaanku itu, sebenarnya bertengger di hati ini sebuah kekuatan untuk selalu bersiap dengan kepergiannya sewaktu-waktu. Bagaimanapun aku ini manusia dan tidak bisa menghindar dari suatu perpisahan yang bisa jadi begitu menyakitkan. Tapi betapapun menyakitkannya sebuah perpisahan, akan lebih sakit tatkala ketidakrelaan merangkul kenyataan itu. Maka sekarang aku rela untuk merelakannya pergi justru ketika dia sedang begitu dekat denganku. Pergilah, kapanpun engkau mau, kataku di dalam hati.

Ah, Ratri, mengapa kau begitu membinasakanku. Tuhan telah merasuk ke dalam kecantikan wanita, dan Tuhan telah merasuk pada keperkasaan pria. Tuhan menjadi pria dan wanita sekaligus. Sekarang, apa yang tidak diliputi oleh Tuhan? Tidak ada. Maka semua ini adalah Tuhan. Oh, Tuhan, mengapa Engkau begitu berkasih sayang pada hambaMu yang nista ini, dengan memberinya keindahan berupa seorang wanita yang berada di sisinya sekarang ini.

 

25 Maret 2013

Setyoko Andra Veda

Dalam permenungan tentang semesta,

Fiksi, sering dibebani tafsir yang tak diniatkannya sendiri, entahlah.