Tahta

by membualsampailemas


“Pengetahuan (informasi) adalah kekuatan”, itulah yang dikatakan Lord Baelish tatkala pada suatu kesempatan berbincang berdua bersama Ratu Carsei Lannister. Carsei langsung menimpalinya dengan, “Kekuasaan adalah kekuatan yang sebenarnya”, sambil menunjukkan raut muka mengancam.

Baelish datang dari bukan siapa-siapa menjadi seorang Master of Coin sedang Carsei adalah seorang keturunan Lannister yang kaya raya dan memiliki kuasa dalam cerita epik A Song of Ice and Fire karangan George RR Martin yang sekarang sedang diwujudkan dalam sebuah drama serial Game of Thrones. Baru seminggu yang lalu saya memulai menonton Game of Thrones mulai dari sesi pertama dan betapa saya mengagumi George RR Martin yang telah membuat cerita ini begitu epik. Dalam benak saya, ini adalah satu kisah “Mahabarata” lain selain Mahabarata itu sendiri.

Kekuasaan, seperti yang dikatakan Carsei, adalah memang menjadi daya tarik bagi sebagian manusia di muka bumi ini sejak peradaban pertama, terlepas seberapa luas lingkup kekuasaan itu. Kuasa memberikan sebuah kelegaan bagi yang memilikinya, memberikan suatu sensasi tersendiri untuk para pengejarnya. Betapa kekuasaan yang paling awal dari manusia adalah menguasai dirinya sendiri untuk berlaku.

Bagi orang-orang yang menyukai Game of Thrones dan Mahabarata, mengikuti jalan cerita adalah sebuah sensasi tersendiri tatkala diri orang tersebut mendapati pengetahuan bahwa cara apapun, entah baik atau buruk, adalah sah untuk menggapai suatu kekuasaan. Kekuasaan menjadi begitu menggoda karena hal itu memberi kekuatan. Kekuatan untuk apa? Entahlah, setiap orang yang mengejarnya pasti memiliki alasan sendiri.

Politik, dalam pengertian saya yang awam ini, adalah cara atau tunggangan menuju suatu “tahta”. Tahta bukanlah melulu suatu puncak, melainkan sebuah kedudukan tertentu yang diinginkan manusia itu sendiri. Namun yang paling kentara dan sangat jelas, Tahta terletak untuk digapai ke atas, tahta ada di atas, bukan di bawah. Keinginan, nafsu, keperluan, keharusan, bahkan keterpaksaan atau ketidaksengajaan bisa menuntun seseorang ke tahta itu. Dan daripadanya, politik menggeliat mengisi tiap-tiap celah kosong, melicinkan jalan menuju ke tahta. Kadang orang tergelincir, kadang melesat mulus.

Semua tergantung pada pilihan. Dalam berpolitik untuk meraih suatu tahta yang diinginkan, manusia harus memilih. Pilihannya tidak terpaku pada perbuatan yang mesti dilakukan, bisa jadi bagaimana memilih kawan, bagaimana memilih lawan.

Di Indonesia sekarang ini, pada masa ini dimana pemilu presiden-wakil presiden akan terlaksana bulan depan, orang-orang yang ingin menggapai tahta harus berlaku sebagaimana mestinya: memilih lawan dan memilih kawan. Kawan dan Lawan terkadang sulit dibedakan dalam dunia politik karena bukan hanya istilah “Tiada kawan sejati, yang ada hanya kepentingan”, tapi betapa kesementaraan itu benar-benar berwujud likuid, mudah berubah.

Dalam pandangan saya, di sebuah sistem kenegaraan, orang yang bermain di dunia politik selalu saja menjadi orang subjek, sedangkan rakyat adalah sekumpulan orang yang menjadi objek, sedangkan birokrat adalah alat/mesin yang juga berperan sebagai objek yang tidak boleh memihak. Jika digambarkan dalam Game of Thrones, Subjek adalah para keluarga Lannister, Stark, Baratheon, Targaryen, dan beberapa klan lain; sedangkan Objek adalah para rakyat jelata; di sisi lain yang menjadi mesin/alat adalah orang-orang semacam Lord Varys, Baelish, para Maester, dan yang sejenisnya. Jika dalam Mahabarata, Subjek adalah Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Duryudana serta seratus saudaranya, Sangkuni; sedangkan objek adalah rakyat jelata penduduk Astina, Amarta, dan negara-negara sekutu mereka; di sisi lain sebagai mesin/alat adalah Begawan Durna, Bhisma, Kresna, dan yang sejenisnya.

Satu kesamaan yang pasti, Subjek berjumlah lebih sedikit dari Objek, sedangkan alat pada akhirnya akan selalu memihak pada kesetiaannya terhadap suatu sistem/negara, bukan pada subjek, meski subjek yang menguasai suatu sistem itu berganti-ganti, ia akan setia terhadap yang berkuasa padanya.

“Lord Varys, kepada siapa kau memihak?”, tanya Lord Ned Stark suatu waktu ketika ia dipenjara di ruang gelap. Lord Varys dengan enteng menjawab: Kepada negara.

Kepada siapa birokrat memihak? Tentu pada penguasa yang memiliki kuasa. Apakah birokrat itu lemah? Tidak, sama sekali tidak. Karena mereka adalah alat, mereka berada di tengah-tengah. Mereka merupakan suatu irisan dari himpunan Objek dengan dunia politik. Birokrat memiliki kuasa namun sedikit, tapi dengan banyaknya jumlah birokrat maka para Subjek tergoda untuk menguasai jumlah yang banyak itu, untuk mengatur Objek, untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Birokrat adalah kuda, Politisi adalah si penunggang, sang koboi, sedangkan Rakyat adalah sapi-sapi.

Namun apakah selalu konsep di atas berlaku di tiap-tiap perkumpulan masyarakat/negara? Adakah perkumpulan manusia yang terdiri dari rakyat kesemuanya? Atau birokrat semuanya? Atau politisi semuanya?