Bohong

by membualsampailemas


Bohong adalah sebuah kata untuk mewakili suatu kepalsuan, ketidaknyataan, ketidaksesuaian cerita dengan fakta. Kita semua hampir pernah berbohong, entah dalam hal apa dengan latar belakang apa, dengan alasan apa. Satu hal yang pasti: bohong memiliki tujuan tersendiri.

Ketika Lady Sansa Stark dihadapkan dalam persidangan Lord Baelish, ia sengaja berbohong bahwa bibinya, Lysa, telah bunuh diri. Padahal hal yang sebenarnya terjadi adalah Baelish yang mendorong Lysa hingga terjatuh di Moon Door, sebuah pintu bundar yang terletak di lantai, menghadap ke bebatuan karang yang keras yang akan menghancurkan tiap-tiap manusia yang jatuh pintu itu. Dari situ kita tahu satu hal, berbohong itu dapat menyelamatkan nyawa, nyawa sang pembunuh itu sendiri, Lord Baelish.

Kesaksian yang palsu memang merugikan keadilan, namun di sisi lain terdapat sisi kemanusiaan di dalam kebohongan itu. Perlu diingat, sisi kemanusiaan dapat bersandar pada dinding kebaikan maupun keburukan. Apalah itu keadilan jika sang penentu adil atau tidaknya adalah manusia yang (selalu) tiada mampu melihat seluruh peristiwa rentetan dari awal hingga akhir terjadinya suatu perkara.

Ketika seorang murid berbohong pada gurunya tentang alasan mengapa ia terlambat, semata-mata agar ia tak mendapat marah. Ketika seorang manusia berbohong kepada pasangannya, bisa demi dirinya sendiri atau demi keutuhan hubungan mereka. Bohong dilakukan untuk pembelaan, entah itu terhadap diri kita sendiri ataupun orang lain. Apakah berbohong itu buruk ataukah baik? Saya selalu suka jawaban dari orang Madura menurut Cak Nun: “Dak Tentu” (tidak tentu). Jawaban yang tengah-tengah, tidak memihak dan kondisional.

Untuk apa berbohong jika kita bisa jujur? Untuk apa jujur jika kita bisa bohong? Berkata bohong itu ibarat membuang kotoran, tentu hal tersebut tidak dapat dilakukan di sebarang tempat. Mirip dengan mengumpat, berbohong pun itu ibarat kita membuang hajat (Buang Air Besar). Tentu tidak di setiap tempat kita boleh dan bisa membuang hajat, misalnya kita buang hajat di toilet tentu akan berbeda dengan buang hajat di tempat umum. Demikian halnya dengan berkata bohong. Berkata bohong di sebarang tempat sama artinya kita membuang hajat di sebarang tempat.Dan dunia ini tidak melulu terisi dengan “tempat” atau dimensi ruang, tapi dimensi waktu juga ikut andil.

Buanglah hajat di tempat dan di waktu yang tepat, serta hanya jika perlu/butuh. Jika tidak perlu/butuh/kebelet tapi kita memaksa buang hajat, bisa-bisa ambein melanda. Tentu itu tidak baik untuk kesehatan. Itulah bohong. Bohong adalah sesuatu yang kotor, menjijikkan, dan selalu berkonotasi negatif. Namun di sisi lain terdapat sisi humanisme dan suatu kebutuhan tertentu akan perbuatan tercela yang tidak sepenuhnya dapat dikatakan selalu tercela.

Manusia, seberapapun keras berusaha memandang segala peristiwa dari segala sisi, tetaplah tidak dapat memandang secara menyeluruh peristiwa itu. Selalu ada sisi terlewat yang tidak terperhatikan. Sisi itulah yang dapat diisi dengan kebohongan.

Bukan mengajarkan untuk bohong, hanya mengingatkan bahwa hendaklah buang hajat di tempat dan waktu yang tepat, serta merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. Tiada yang dapat membenarkan suatu kebohongan karena kebohongan itu sendiri adalah suatu kesalahan. Namun terkadang kita harus berbuat “salah” untuk bersikap “benar”.

 

Setyoko Andra Veda

3 Juni 2014