Sebuah Pernyataan Raras

by membualsampailemas


Sebuah colekan kecil mendarat di perut kanan seorang pria, dan itu membuatnya geli. Perempuan itu tak tahu betapa gelinya colekan itu, dan dia tersenyum senang karenanya.

Bangku panjang membisu, ketika dua orang manusia duduk di atasnya. Mereka berteduh dari teriknya mentari sore yang sudah tua.

Sambil memandangi taman bermain, anak-anak, penjaja makanan, para orang tua yang menunggu, mereka menengadah ke atas sesekali untuk melihat awan yang berjalan perlahan. Sore belum terlalu sore, matahari masih merayap di dinding langit perlahan tanpa perhatian, membiarkan dirinya terbakar untuk menerangi manusia-manusia di bumi. Dan dua orang itu di bangku panjang, bercerita sepanjang perjalanan.

Si perempuan bernama Raras, memakai baju terusan dibawah lutut berwarna krem, rambutnya dibiarkan tergerai. Dan lelaki yang bersamanya itu bernama Logan, mengenakan kaos biru dan jeans sambil memegang sebuah gelas minum. Dan mereka masih memandangi awan.

“Logan, kenapa awan menggantung di langit?”, tanya Raras sambil memandangi awan di langit. Mukanya menengadah dan tangan kirinya memayungi kedua mata hitam yang penuh pesona itu.

“Kata siapa mereka menggantung? Mereka melayang-layang di atas sana, Ras.”, sahut logan sambil memandangi Raras yang masih menengadah itu, lalu ia ikut memandang awan di langit.

“Tapi mereka terlihat seperti menggantung buatku.”, Raras menoleh pada Logan. Sejenak mereka berpandangan.

Gelas minum berwarna merah itu ia daratkan ke bibir, Logan meminumnya lagi seteguk.

“Itu dari pandanganmu. Kalau aku melihat mereka, mereka itu melayang-layang bebas, Ras”, kali ini Logan menyandarkan tangannya pada punggung bangku.

“Serius?? Ah, kurasa mereka menggantung.”, Raras menengadahkan mukanya lagi, kali ini tanpa memayungkan tangannya pada kedua matanya yang hitam itu.

“Mana? Tidak ada talinya, tidak ada tempat untuk digantungi oleh awan-awan.”

“Kamu hanya tidak melihatnya, Logan. Mereka menggantung di atap langit yang berubah-ubah warnanya, terkena lampu disko. Kadang biru, karang merah. Mereka tidak butuh tali, memangnya menggantung itu melulu memakai tali? Tentu tidak. Bisa saja memakai sesuatu yang panjang selain itu, yang penting ada cantolannya. Mereka mencantol dengan atap langit.”, kata Raras bersemangat.

“Dengan ketiadaan maksudmu, Ras.” sahut Logan cepat-cepat. “Atap langit itu tidak pernah ada. Langit tidak benar-benar ada. Maksudku, kita bisa melihat langit, tapi tak bisa menggapainya, karena langit itu memang tidak ada. Langit hanya ruang kosong yang diisi oleh udara yang begitu banyak dan makin menipis ketika kamu makin ke atas, di aliri sinar matahari yang membuatnya berwarna-warni tergantung waktu. Langit itu tidak ada.”

“Kamu terlalu naif.”, kata Raras sambil sengaja menyenggol pundak Logan di sampingnya, “Jangan termakan oleh apa-apa yang diajarkan guru dan dosen di jenjang pendidikan formil. Aku tak yakin mereka itu benar. Karena aku yakin dengan apa yang aku percayai.”

Logan tersenyum, “Kita menganggap sesuatu itu benar bukan karena itu memang benar, tapi karena kita percaya sesuatu itu memang benar.”, katanya.

Raras membalas senyuman itu sambil memandangi mata Logan yang cokelat itu, “begitukah?” tanyanya memastikan. “Aku memang percaya awan itu menggantung pada atap langit. Mereka timbul dan menghilang dalam ketidakmauan mereka, atau dalam kata lain, mereka ini tidak pernah mengingini mereka ada dan tidak berharap mereka tiada. Mereka hanya menggantung di atap langit. Itu saja. Awan tidak pernah berharap ingin terus menjadi awan, suatu saat ia harus luruh menjadi hujan dan bertemu dengan kekasihnya, bumi.” lanjutnya.

Dengan masih tersenyum, Logan meneguk lagi minuman yang ada di gelasnya itu. “Baiklah kalau itu maumu,” jawabnya. “Aku tentu akan sangat bahagia. Kamu tahu, aku selalu ingin pergi ke atas sana, terbang di antara awan-awan. Coba saja jika manusia bisa terbang bebas.”

Perempuan berbaju krem itu menyenggol Logan lagi dengan sengaja. “tentu kamu bisa! Kamu bisa, Logan!” celetuknya cepat. “Kamu bisa terbang di sela-sela awan itu, menyentuhnya. Tapi awas jangan terlalu tinggi, nanti kamu menabrak atap langit. Hihihi.” Dia tertawa kecil sambil menutupi gigi-giginya.

Logan membalas tawanya, “Haha. Iya, tentu aku tidak akan terlalu tinggi.”, katanya sambil memandangi langit lagi. “Kamu bisa terbang, Ras?”

“Aku?”, tanyanya berlagak terkejut. “Tentu aku bisa. Kita semua bisa terbang! Tidak kah kamu tahu, Logan?”

“Tidak, aku tidak tahu. Selama ini aku berjalan saja.”, dengan sedikit terkejut, ia memandang Raras. Raras pun balik memandangnya.

“Konyol. Buat apa terus-menerus jalan, mending terbang. Jika kamu terbang, kamu bisa lihat macam-macam. Ada kemacetan di mana kamu bisa lihat, ada pemandangan apa yang bagus, kamu bisa lihat. Bahkan kamu bisa ngintip orang mandi di kali. Kamu tahu, yang paling aku suka tatkala aku terbang adalah memandang matahari tenggelam bersama-sama dengan awan-awan. Kamu percaya?”, Perempuan berbando putih mulai membual.

“Tentu aku percaya. Aku percaya denganmu, Ras.”, dan pria di sebelahnya meniyakan bualan itu.

“Kamu percaya aku?”

“Tentu. Tentu saja!”, nada Logan menegaskan.

“Kalau aku katakan sekarang ada capung di rambutmu, kamu percaya?”, kata Raras sambil menunjuk rambut Logan. Ia reflek mengusap rambutnya sendiri.

“Mana?”

“Tadi aku melihatnya.”, celetuk Raras sambil mengalihkan pandangannya pada taman bermain.

“Benarkah? Baiklah aku percaya.”, kata Logan sambil tersenyum memandang Raras yang membuang muka.

Perempuan itu tersenyum lagi, kali ini sambil menunduk. “Kalau aku katakan, aku mencintaimu,….. kamu percaya?”

Mereka hening sejenak. Bangku panjang itu masih mendengarkan dalam keramaian. Angin bertiup perlahan mengusap perlahan rambut Raras. Logan hanya tertegun sambil memandang Raras yang masih tidak membalas pandangannya itu.

“Bagaimana?”, tanyanya, kali ini sambil memandang Logan.

“Ras, kamu serius?”

Raras tersenyum manis, “Kamu tidak percaya?”

Hela napas itu datang diiringi gelengan kepala Logan. Ia memandang tanah.

“Tidak percaya?”, lanjut Raras.

Logan menggeleng lagi, “bukan, Ras.”, jawabnya. “Bukannya aku tidak percaya…. Aku hanya..”

“Aku tahu kamu tidak bisa mencintaiku, Logan.”, potong Raras sebelum Logan menyelesaikan kalimatnya. “Biarkan aku saja yang mencintaimu.”, lanjutnya sambil tersenyum.

Lalu mereka tenggelam dalam diam. Di sela-sela hidung dan pipi Raras, mengalir sebuah sungai air mata. Bibir merah kecilnya tersenyum mengiringi sungai itu.

 

Setyoko Andra Veda

Kebumen, 25 September 2014