Ana

by membualsampailemas


Suara dering itu selalu kutunggu. Dering yang memberikanku harapan dan kebahagiaan. Dering yang spesial untuk menandakan seseorang yang spesial menghubungiku. Pukul 23.00, dering itu berbunyi nyaring. Aku memang belum tidur sedari pulang kuliah sore tadi, sengaja aku untuk menunggu dering itu berbunyi.

“Halo…?”

“Halo..”, sahut suara di seberang sana. Suaranya sedikit melengking namun sungguh elok kudengar. Suara itu yang selalu membuatku membayangkan sesosok wanita cantik di sampingku. Suara itu yang selalu membuatku bersemangat setiap waktu. Dia adalah Ana.

“Mas..”, katanya terpotong. Sengaja terpotong untuk membuatku penasaran. Dan aku suka itu.

“Iya? Ada apa?”

“Tak ada apa-apa.”

“Hmm?”, Tanyaku mulai penasaran.

“Pengen manggil Mas aja..”

Dan percakapan panjang yang luar biasa terjadi malam itu, seperti malam-malam sebelumnya.

***

Kadang kala, aku dan Ana pergi kencan berdua. Tidak terlalu sering kami pergi berdua, karena dia cukup sibuk dengan berbagai organisasinya di kampus, bukan karena aku yang sibuk. Aku adalah mahasiswa biasa yang terlalu biasa. Mungkin apatis.

“Mas..”, ucapnya. Aku selalu suka caranya memanggilku seperti itu. Nada bicaranya, kerlingan matanya, raut keningnya, dan bibir itu sungguh indah. Waktu itu aku dan Ana duduk di sebuah bangku taman di malam hari.

“Apa?”, tanyaku. Aku bertanya seolah mengharapkan jawaban, tapi sesungguhnya aku tahu bahwa jawaban itu tak akan pernah aku peroleh dari perkataannya yang memanggilku demikian. Dia terlihat sedih hari ini. Entahlah, aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Maaf..”

“Kenapa?”

Kemudian mata air di sela kedua matanya yang bulat itu mengucurkan sungai yang membelah pipinya yang lembut. Dia menangis tertahan.

“Jangan kamu menangis, An.”, kataku berusaha menenangkan namun tampaknya aku takkan bisa.

Ana menggeleng perlahan dalam tangisnya yang tertahan. Dia menunduk, pundaknya menggigil dalam kesedihannya itu, dan aku masih tidak tahu apa yang terjadi. Baru kali ini dia seperti ini.

Kepala itu menyandar pada pundakku, dan perlahan tangannya mendekapku dalam hening. Makin lama makin erat peluknya, dan aku masih belum mengerti apa yang terjadi.

“Kamu…”, kataku tertahan, “kenapa?”

Lalu Ana masih menggeleng dalam pelukku.

“Tak apa-apa, Mas”, katanya lirih.

Malam itu, tubuhnya tidak dapat jauh dariku. Tangan itu selalu meremas tanganku lebih erat dari biasanya, dan aku masih buta.

***

Dua minggu berlalu, sejak Ana menangis malam itu. Mulutnya semakin malu jika aku bertanya tentang hal itu. Tapi ada hal lain yang berbeda, dia semakin jarang menghubungiku. Firasatku tidak enak. Maka ketika aku mendapatkan kesempatan, aku bertanya padanya.

Pagi itu dia datang ke kostku.

“Kamu kenapa belakangan ini lain, An?”, tanyaku. Aku memandangnya dengan penuh heran.

“Aku? Lain? Bagaimana?”

“Ya, kamu…. Kamu kelihatan beda..”

Ana diam sejenak dan mengalihkan pandangan. Tiada senyum manis yang biasa kulihat dari wajahnya itu.

“Hmm? Aku biasa aja kok”, selorohnya tanpa memandangku.

Kami terdiam lagi.

“Begitukah?”

“Mas kenapa?”

Aku mengawasi tiap kata-katanya kali ini. Nada bertanyanya kini seperti menusuk. Aku harus lebih berhati-hati dalam bicara. Firasatku semakin tidak enak.

“Aku merasa kamu berbeda…An”

“Maksudmu, Mas?”

“Kamu akhir-akhir ini jadi sering keluar malam, dan bersama teman-temanmu yang itu?”

“Kamu cemburu, Mas.”, katanya. Aku enggan menanggapi pernyataan itu walau mungkin itu benar. Tentu aku cemburu, karena belakangan ini memang dia tak pernah keluar bersamaku. “Teman-temanku yang mana? Memangnya salah? Teman-temanku baik kok.”, lanjutnya.

“Begitukah? Mungkin aku terlalu sentimentil belakangan.”, kataku.

Entahlah, hari ini berbeda dari hari-hari yang biasanya kami lalui. Ada perasaan tak menentu di antara kami. Nampaknya dia menyembunyikan sesuatu dariku, dan cepat atau lambat pasti aku akan mengetahuiku. Kewaspadaanku bertambah seiring larutnya kami dalam diam. Aku selalu menanti kata-kata yang keluar dari bibirnya yang sering berbisik itu. Dan..

“Mas..”, dia memulai.

“Iya?”

“Aku memang..”, katanya tertahan. Oh Tuhan! Jangan-jangan ini?! “Mungkin memang aku berubah, tidak seperti kemarin lagi.”, lanjutnya.

Kata-kata itu begitu terlintas cepat seperti kilat, walau ia mengatakannya dengan perlahan. Aku hampir tak percaya dia mengatakan demikian dengan nada yang tidak biasa. Tidak ada rasa manja lagi di dalamnya. Dan apa yang akan terjadi nampaknya aku sudah tahu.

“Hmm?”

“Aku tak tahu ini waktu yang tepat atau tidak, tapi..”, dia mengekang kalimatnya lagi, dan itu membuatku makin tersiksa. Kenapa tak dikatakannya sekaligus? Entahlah. “Aku tak ingin memendamnya lebih lama.”, lanjutnya. Oh God! Suasana bertambah malu, matanya semakin sayu dan bibirnya semakin kehilangan rona merah alami. Pucat. Mungkin mukaku tak kalah pucat.

“Kamu ingin mengatakan sesuatu?”, kataku memecah keheningan. Aku ingin keluar dari suasana seperti ini dengan segera, walau aku tahu ini tidak akan berakhir baik.

Ana masih terdiam, dia sengaja menahan bibirnya untuk mengucapkan kata-kata yang sudah ada ditenggorokannya itu. Ada keraguan di bibir itu. Dan aku masih begitu mencintai Ana saat ini. Mengapa kamu tega, An? Ah entah.

“Biarkan aku mencintaimu dulu, An. Setidaknya sampai hari ini usai.”, lanjutku. Aku sengaja mengucapkan itu semata-mata karena aku takut dengan kata-kata yang sudah sampai belakang lidahnya, sedangkan bibirnya masih ragu.

Mendengar itu, dia semakin menunduk dan menahan air matanya untuk menetes, tapi sungguh dia tak kuasa. Dalam hening, dia meneteskan air itu.

Aku menggeser dudukku ke sampingnya, dan dengan canggung, aku memeluknya.

“Maafkan aku.”, suaraku terdengar parau. Tak ada air mata di celah mataku, bukan berarti aku tak sedih, hanya saja aku tak sanggup lagi menambahi kesedihan Ana.

“Mas tak salah..”, sahutnya, “aku lah yang harusnya minta maaf.”, dan dia masih berurai air mata dalam pelukku. Kami terdiam sejenak.

“Terima kasih, An.”

“Aku bingung dengan diriku sendiri, Mas.”, katanya dengan nada ragu.

Dan hari itu, kami lalui dengan berat.

***

Beberapa minggu berlalu. Tidak ada lagi telepon di malam hari, tidak ada lagi sapaan manja itu. Dan dengan terkejut aku menyaksikan, yang sebenarnya aku tak ingin lihat, Ana menggandeng tangan seseorang sambil berjalan santai, dia adalah teman sekelasku. Ana kini lebih cerah daripada terakhir kali aku bersamanya. Entahlah. Perasaan memang tak bisa dipaksa, lebih dari itu, nyaman adalah sesuatu yang berharga.