Aku dan Ana: Percakapan Malam itu

by membualsampailemas


“An, senyummu itu…”

“Kenapa, Mas?”, Dia masih bertanya dengan senyuman itu. Aku ingin mengatakan padanya bahwa senyumannya itu sungguh membuatku tak berdaya. Begitu manis dan memesona, sampai-sampai aku lumpuh di depannya. Bulan sabit pun akan kalah dengan senyuman itu.

“Tidak apa-apa.”, kataku singkat.

Kami saling duduk berhadapan di sebuah café, kami memesan 2 cangkir kopi yang aku tahu dia tak akan meminum yang ada di cangkirnya itu. Dia tidak suka kopi, tapi memaksaku pergi berdua ke café ini. Katanya, kopi membuat pertumbuhan wanita terhambat, entahlah aku tidak terlalu peduli. Katanya pula, dia pernah bercerita pada suatu waktu bahwa kopi membuatnya tidak bisa tidur semalaman walau dia meminum sedikit saja. Dan dia masih di depanku, berhadapan denganku dengan secangkir kopi di depannya pula. Tangannya dibuat untuk menyangga dagunya yang lancip itu, bibirnya senantiasa melengkungkan senyuman andalannya, dan alisnya yang panjang seperti lengkungan bulan sabit itu begitu menyihirku.

“Mas.. habiskan kopimu..”, katanya sambil menunjuk cangkirku dengan matanya yang hitam itu.

“Masih panas.”, aku membalas senyumannya itu. “Kopi ini, kamu tahu, An, dia berasal dari bahasa arab, qahwah,..”, kataku mulai bercerita. Dia menatapku dengan pandangan yang menarik diriku untuk jatuh ke dalam dirinya. Biasanya dia akan memperhatikanku dengan seksama ketika aku bercerita begini, matanya akan terus melekat pada mataku ketika aku memulai cerita.

“Orang Turki memiliki lidah yang agak lain dengan orang arab, maka mereka menyebut qahwah dengan sebutan kahveh. Kala kekaisaran ustmani dulu, kopi dibawa sampai ke Eropa, sampai ke Belanda dia disebut sebagai koffie. Orang Eropa begitu terkesan pada kopi. Qahweh pun disebut sebagai kopi pada akhirnya oleh kita.”

Ana masih saja memandangiku dan itu membuat konsentrasiku dalam bercerita agak pudar, padahal aku baru sedikit bicara.

“Kan kamu tak suka kopi, An?”, tanyaku sambil memicingkan alis. Ana mengangguk dengan semangat dan cepat seperti anak kecil dan membuat poninya bergoyang-goyang. “Kenapa kamu pesan kopi?”

“Biar sama kayak Mas.”, celetuknya dengan senyuman. Masih senyuman itu. Aku bisa gila karena ini.

“Hmm.. Kamu tahu, minuman ini supaya terasa nikmat harus diseduh dengan air yang bagus, suhunya harus 100 derajat.”.

“Harus pas? Tidak kurang?”

“Iya, harus pas..kalau perlu pakai termometer!”

“Kalau lebih panas gimana?”

“Gelasnya bisa pecah, An.. kalau sudah diseduh kopi itu dengan air panas, jangan langsung diminum.”, kataku menjelaskan. Sontak dia tertawa.

“Ya tentu lah, Mas.. bibirmu mau jadi seperti apa kalau langsung kamu minum?”, katanya masih sambil tertawa.

“Monyong.”, sahutku ketus. “Sebaiknya didiamkan 2-3 menit an dulu biar suhunya turun sekitar 90 an derajat. Menuangkan airnya pun tidak boleh satu gelas langsung lho. Caranya, pertama ¼ gelas lantas didiampak sekira 45 detik, lalu masukkan air lagi sampai cukup secara perlahan. Aduk, lalu tunggu 3-4 menit baru diminum.”

“Mas pintar berteori.”

“Tentu..!”

“Tapi prakteknya: nol!”

“Kamu tak pernah lihat aku menyeduh kopi?”

Dan Ana menggeleng lagi, poninya masih bergoyang-goyang. Aku membantunya memotong poninya sendiri kemarin lusa, dan dia senang akan hal itu. Entahlah.

“Coba kamu minum, An.”

“Enggak. Nanti aku tak bisa tidur.”

“Lalu kenapa kamu pesan?”

“Buat Mas saja.”

Aku menghela nafas. Bingung dengan apa yang dia pikirkan sekarang.

“Mas..”

“Apa?”

“Aku cuma ingin memanggilmu saja.”, matanya menatapku lekat-lekat, seolah berusaha memelukku dengan pandangan itu. Lalu dia menunduk, mengaduk-aduk kopi yang ada di depannya itu, walau tak dia minum. Tak ada yang bisa kulakukan selain menghadirkan senyuman di bibir lagi.