Aku dan Ana: Terbanglah, An!

by membualsampailemas


“Ayo kita nonton!”, kataku.

“Ayuk..”, jawabnya sambil memegang lengan kiriku. Matanya menatapku lekat, dan tatapan itu lagi.

Malam itu kami nonton film berdua, aku masih ingat film itu kami pilih dengan asal karena kami tidak tahu apa yang benar-benar kami ingini untuk ditonton. Sepanjang film diputar, dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Kurasa dia tak benar-benar memerhatikan film itu. Grace Kelly dan Prince of Monaco yang diceritakan memang tak terlalu menarik jika tidak benar-benar memerhatikan dialognya, sedangkan dialognya cukup sulit dimengerti. Jemarinya dan jemariku begitu pas, kami menggenggam satu sama lain.

“Ini ceritanya bagaimana sih, Mas?”, tanyanya polos.

“Ssst! Kamu tidak perhatikan? Kamu lihat film atau lihat aku sih sedari tadi?”

“Lihat Mas.”, celetuknya sambil membenarkan sandarannya di bahuku.

Dan begitulah sampai film usai.

“An, kita jalan-jalan sebentar yuk di sini”. Dan dia mengangguk, masih sambil menggandeng tanganku.

Di beberapa toko, dia memilih pernak-pernik yang tak pernah aku mengerti apakah itu bagus atau tidak karena aku memang tak begitu tertarik dengan pernak-pernik perempuan. Sampai akhirnya dia melihat sepasang anting. Dia memutuskan untuk membeli itu dan langsung memakainya.

“Harusnya rambutmu kamu kuncir ke belakang biar kelihatan.”

“Seperti ini?”, katanya sambil memperagakan kuncirannya. Tapi dia mengurungkan tangannya itu. Rambutnya tetap terurai dan itu malah membuatku semakin takjub. Ah engkau ini, An. “Mas, ada kembang api di luar!”

“Benarkah?”

“Ayok kita lihat!!”

Malam itu benar-benar berkesan buatku. Kami menonton kembang api begitu lama dan begitu dekatnya, serta cerita kesana-kemari. Dan aku enggan untuk mengakhiri malam itu. Dia bersandar pada tubuhku ketika melihat kembang api. Malam itu begitu indah, sangat indah, bagaikan tiada lagi yang lebih indah.

“Kembang api itu, dia terbang ke langit lalu meledak di sana. Dia rela meledakkan dirinya buat menjadi keindahan di mata kita.” Celetuknya. “Dia terbang begitu tinggi sebelum musnah menjadi cahaya berwarna-warni dan asap-asap. Mereka indah ketika mereka hilang. Kan iya, Mas?”

Aku mengangguk tanpa melihat sorot matanya yang dia tujukan padaku. Sampai kapan rasa ini akan terus ada, aku tak tahu, tapi aku menikmatinya. Akankah Ana pergi dariku? Aku berharap tidak akan pernah dan tidak akan ingin. Maka aku mendekapnya makin erat, sangat erat, aku tidak ingin salah satu dari kami pergi dari keadaan ini.

“Aku mencintaimu, An.”, kataku pelan.

“Aku juga, Mas.”

**

“Ayo terbang, An!”, kataku sambil melambai-lambai dari atas. Tubuhku melayang layang beberapa meter dari tanah dengan bebas. Selayaknya superman yang bisa terbang bebas, aku kesana kemari tanpa alat bantu apa pun, seperti ikan yang berenang di laut lepas, hanya saja ini di udara.

“Tidak ah. Aku tidak bisa, Mas.”, jawabnya sambil merengut.

“Kamu bisa..aku yakin itu. Yang kamu butuhkan cuma niat dan keyakinan yang kuat kalau kamu bisa. Setiap orang bisa, An.”

“Tidak. Aku takut Mas. Jika aku terbang, aku ingin serius untuk terbang, bukan sekejap terbang sekejap berjalan.”

Aku kadang tak mengerti, beberapa kali kulihat dirinya terbang seperti aku, hanya saja dia mungkin malu-malu untuk melakukannya. Kini dia sama sekali tidak mau, padahal dia bisa. Kami memang bisa terbang, seperti manusia lainnya. Mungkin beberapa orang akan heran jika melihat, karena mereka tidak pernah yakin mereka bisa terbang beberapa meter di atas tanah. Aku tak pernah terbang terlalu tinggi, tapi juga tak terlalu rendah, dan tidak setiap saat aku terbang tentunya.

“Maksudmu?”, tanyaku masih sambil melayang-layang, kini aku mendekat padanya yang duduk di sitje di bawah sebuah pohon.

“Ya, aku ingin jika aku terbang, selamanya aku akan terbang..Kecuali jika memang harus berjalan, di rumah misalnya. Makanya aku tidak ingin main-main jika aku terbang. Aku tidak bisa dipaksa, Mas.”, jawabnya ketus.

“Terserah kamu, An.”, celetukku. Kami diam sesaat. “Aku yakin sekarang pun kamu bisa, tapi kamu enggan entah kenapa. Kamu bakal terlihat seperti bidadari jika terbang, An. Percayalah padaku. Aku pernah melihatmu terbang, An.”

“Tidak, Mas.”

“An.. Kalau kamu memiliki potensi untuk terbang sekarang, mengapa kamu harus menundanya sampai besok-besok yang entah kapan itu? Ayolah terbang bersamaku..”, bujukku.

Tapi Ana tetap terdiam dan membuang muka. Mungkin dia sedikit kesal karena aku memaksanya.

“An.. Kamu marah?”

“Iya.”, jawabnya singkat.

Lalu aku turun ke tanah dengan perlahan. Sejenak aku memandangi dirinya yang menumpuk kaki kirinya pada kaki kanannya, tangannya melipat satu sama lain, dan dia membuang muka dariku. Nampaknya dia benar-benar kesal. Perlahan aku mendekatinya dan duduk di sitje bersamanya.

“Maafkan aku, An.”, kataku. Tak ada yang bisa aku katakan lagi jika dia sedang marah seperti ini. Aku benar-benar tersiksa jika seperti ini. Pernah suatu ketika aku sampai membujuknya begitu lama ketika dia marah, tapi giliran aku marah, dia dengan kerlingan matanya itu langsung bisa meluluhkanku. Aku begitu lemah terhadapnya, tapi dia nampaknya tidak.

Sore itu, kami berdua berdiam-diaman beberapa lama di sitje, sampai marahnya sedikit reda karena aku membelikannya jus alpukat. Ah engkau ini, An…