Before

by membualsampailemas


Dia mengotak-atik dompet panjangnya itu. Di dalamnya tak tertata rapi, kadang memang dia ceroboh, dan dalam kecerobohannya itu aku menyukainya apa adanya. Tiket-tiket itu begitu banyak dan terlihat memenuhi dompetnya.

“Kamu terlalu sering menonton, An.” Kataku. Kami berhadapan di meja panjang putih di suatu tempat makan.

“Tidak.” Jawabnya singkat.

“Itu?” mataku menunjuk pada tiket-tiket yang sangat bertumpuk.

“Ini..ini iseng aja, Maaaas..” katanya sambil melirik diriku, dia tersenyum.

“Coba aku lihat..” tanganku bernada meminta padanya, tapi dia buru-buru menarik dompetnya memberi isyarat bahwa aku tidak boleh sama sekali. “Pelit kamu.” Celetukku.

“Biar..hihihi” dia tertawa kecil dan masih sambil berusaha merapikan isi dompet panjangnya itu.

Aku masih memerhatikan dirinya yang sibuk sendiri itu, bibirnya, alisnya, hidungnya. Ah engkau ini. Lalu aku teringat akan sebuah film.

“Kamu pasti sudah banyak menonton film. Coba aku tanya, apa kau pernah menonton Before Sunrise?”

“Film apa, Mas?” dia sejenak berhenti merapikan dompet panjangnya itu.

“Before Sunrise!”

“Sepertinya pernah dengar” katanya sambil menyelesaikan pekerjaannya.

Aku memicingkan mataku, menyelidik padanya. Kebanyakan orang memang suka mengada-ada.

“Kamu belum pernah nonton film itu di bioskop, An.”

“Tapi pernah dengar aku, Mas.”

“Itu film tahun 1995, Jesse dan Celine tokohnya. Kamu tahu?” tanyaku menegaskan. Dia menggeleng perlahan. Dan memang sebenarnya dia tidak tahu, sudah aku duga. “Ya, before. Kata ini begitu asing buat kita karena kita bukan penutur bahasa Inggris.” Kataku memulai. Seperti biasa, dia memerhatikanku sambil menyedakukan kedua tangannya di atas meja. Menatap mataku lekat-lekat. “Aku sangat tertarik dengan kata ‘before’ ini, An. Tau kamu kenapa aku begitu terpesona dengan kata Before ini?”, dia menggeleng lagi.

“Enggak.”

“Segala cerita, An, setidaknya dalam pemahamanku, terkekang dalam suatu waktu yang dibatasi kata Sebelum atau kata Before ini. Seperti cerita kita ini, cerita kita berdua, cerita yang sedang kita perankan, kamu dan aku.”

“Maksudmu, Mas?” dia sedikit tidak mengerti sepertinya. Dan aku berusaha menjelaskan lagi.

“Setiap cerita memiliki awal kan, An. Begitu cerita dimulai, dia telah memiliki awal, dan cerita itu akan berjalan dengan sendirinya dalam alur yang terserah, bisa berunut maupun acak. Semisalnya itu tadi, cerita kita berdua ini,” aku menahan kalimat selanjutnya untuk memerhatikan mata Ana lekat-lekat. “cerita kita berdua dimulai sejak kita berkenalan beberapa bulan yang lalu, dan cerita kita ini sedang berjalan terserah.”

“Hmm.. kita sudah berapa lama kenal ya, Mas?”

“Mungkin 5 atau 6 bulan, An.”

“Dan sudah seperti ini?”

Kami berdua tertawa bersamaan.

“Tapi, An, pada akhirnya kita akan menjumpai sebuah akhir daripada sebuah cerita, kan iya? Itu pasti. Dan akhir cerita itu akan dihentikan oleh kata Sebelum atau Before tadi. Cerita adalah tentang Sebelum, tentang Before, karena setelah kata itu semuanya sudah selesai dan berubah.” Kataku sambil mengelus-elus bibir gelas yang ada di depanku. Dia memerhatikan tanganku itu. “Semisal kita berdua ini, An, akan menjadi cerita tatkala kita membatasinya dengan suatu Sebelum. Kita ambil contoh: mati. Cerita manusia adalah sebelum dia mati, karena setelah dia mati maka sudah tidak ada lagi cerita.”

“Dan untuk kasus kita berdua?” tanyanya menyergahku.

“Kita berdua? Kita berdua akan menjadi cerita tatkala kita berdua berakhir. Aku ingin kita berdua menjadi sebuah cerita indah dengan suatu batas yang jauh, masih sangat jauh, mungkin…kematian yang akan membuat kita jadi cerita. Aku tak ingin ini menjadi cerita seperti hanya di Before Sunrise itu. Cerita tentang satu malam”

“Apa sih cerita Before Sunrise itu, Mas?”

” Cerita sederhana tentang pertemuan seorang pemuda Amerika bernama Jesse yang sedang berwisata di Eropa dengan seorang pemudi Prancis bernama Celine yang baru saja mengunjungi neneknya. Mereka bertemu di dalam sebuah kereta ekspres. Mereka berkenalan, mereka berbincang. An, mereka berbicara dengan dialog yang duoton, hanya mereka, sepanjang film itu! Dan itu begitu mengasyikkan.

Hampir masing-masing dari kita pernah merasakan itu, berbicara dengan seorang yang kita sukai berlama-lama, seperti kita ini, apapun topik pembicaraannya, pembicaraan yang berlarut-larut dan bertele-tele dapat menjadi sangat menyenangkan. Jesse pun mengajak Celine ke gerbong restorasi untuk makan dan bercerita, hampir sepanjang jalan, tentang segala sesuatu. Tidak disangka, mereka sangat cocok menjadi teman bercerita sepanjang perjalanan, hingga pada pemberhentian stasiun di Wina, tempat tujuan Jesse untuk berwisata sebelum ia kembali ke Amerika, Jesse nekad mengajak Celine untuk turun bersamanya di Wina dan menunda perjalanannya kembali ke Paris esok pagi.

Celine pada awalnya nampak ragu, tapi karena sudah nyambung dan memiliki chemistry, dia pun nekad menyanggupinya. Dan mereka berdua pun “nggelandang” pada hari itu sampai dengan menghabiskan malam di kota Wina, berjalan-jalan sesuaka mereka, mengobrol, dan melakukan hal-hal menyenangkan sebelum matahari terbit keesokan harinya karena Jesse harus kembali ke Amerika dan Celine harus kembali ke Paris.”

“Mereka berpisah di pagi hari?”

“He’em..” aku mengangguk. “Dan karena di tahun 1995 belum ada ponsel, maka mereka tidak memberi kontak satu sama lain?”

“Haa?”

“Mereka saling suka, An. Hanya dalam waktu semalam! Bayangkan, pembicaraan semalaman yang membuat mereka berdua saling tertarik! Kamu harus menontonnya. Dan, bagian akhir ini yang paling aku suka, walau sedih, bahwa mereka berdua bersepakat tidak memberi alamat satu sama lain, tapi bersepakat untuk kembali lagi ke Wina 6 bulan setelah hari itu, yaitu pada musim dingin Desember tanggal 6. Romantis bukan?”

“Waaah..kita bisa begitu, Mas!” Ana begitu semangat mengatakannya.

“Aku tak mau! Aku tak mau berpisah dengan kamu, An.”

“Meski sebulan?” tanyanya.

“Meski sebulan!” aku menegaskan. Aku memang benar-benar merasa tidak bisa jauh darinya.

“Mereka akhirnya beneran bertemu 6 bulan kemudian, Mas? Jesse dan Celine?” tanya Ana dengan sangat penasaran, dan dia memegang lenganku.

“Hmm.. Menurutmu?”

“Menurutku, jika mereka sudah benar-benar saling mengerti hanya dalam semalam, saling menyukai…atau…..saling mencintai mungkin, mereka akan datang lagi ke Wina setelah 6 bulan. Kecuali salah satu di antara keduanya tidak serius.”, dia mengetuk-ngetuk jarinya ke meja sesekali. Aku tersenyum.

“Sayangnya Before Sunrise itu tidak bercerita tentang 6 bulan setelahnya. Cerita mereka berakhir setelah datang Sunrise, An. Kan sudah aku katakan, bahwa cerita itu selesai tatkala dibatasi kata Sebelum, Before. Dan itu adalah tentang Before Sunrise, dan apa-apa setelah Sunrise tidak ada dalam film itu, apa lagi 6 bulan setelahnya.”

“Yaaaaah!!”, Ana menggoyang-nggoyang lenganku.

“Tapi masih ada sekuel lanjutnya, An.. Kamu harus lihat Before Sunset dan Before Midnight.”

“Ada kelanjutannya??”

“Tontonlah..”

“Mas punya?” tanyanya mengharap.

“Tentu! Mau?”

“Iyaaap! Aku mau!”

Dan percakapan kami berlarut lagi malam itu di sebuah warung kopi. Seperti Jesse dan Celine, kami berbincang bertele-tele tapi sungguh sangat mengasyikkan. Aku merindukanmu, An.