Aku dan Ana: Dongeng Malam Itu

by membualsampailemas


Lampu pijar tak hentinya mengisi ruangan kerjaku dengan sinarnya yang kuning temaram itu. Sengaja aku menaruhnya tepat di atas meja kayu besarku, tempat di mana aku biasa menulis jika malam hari. Dari meja itu, goresan-goresan tinta yang berasal dari penaku muncul menapaki jejak pada kertas-kertas yang entah nanti akan kukirim ke berbagai tempat. Dari situ, semua kuatur.

Pukul sembilan tepat, saat jam bandul di ruang tengah telah berbunyi sembilan kali pula, aku masih menulis tiada henti. Namun tiba-tiba, daun pintu kamarku membuka pelan, ada sesosok wanita cantik dari luar sana yang muncul. Ana.

“Mas?” sapanya.

“Bukannya jam sembilan tepat kamu harus berbaring sudah di ranjang, An. Kamu baru bangkit dari sakit.”

“Tidak!” ia memberengut. “Tak mau tidur aku jika Mas tidak lagi menulis di kamarku tidur.”

“An, jangan manja. Aku butuh konsentrasi.” dan aku yakin dokter tak akan mampu mengurus pasien seorang yang sulit ini. Aku tahu betul, Ana benar tak akan tidur sebelum kehendaknya dipenuhi sepenuhnya. Lantas Ana menghampiri mejaku dan menarik tanganku.

“Mari naik. Ceritai aku sampai tertidur seperti biasanya.” Katanya tersenyum. Ah senyuman itu, An.

“Baiklah. Tapi ceritaku sudah habis, An.”

“Jangan bikin aku tak bisa tidur, Mas.”

“Banyak buku di kamarmu.” Kataku berkilah.

“Ceritamu selalu lebih bagus,” lalu dia menutup semua buku dan kertasku, serta ditariknya aku berdiri.

Dokter yang patuh pada pasien ini mengikuti tarikannya, meninggalkan persada, naik ke lantai atas. Beberapa hari belakangan ini sudah tak lagi ia kuselimuti dan klambunya tidak kuturunkan. Begitu dia nampak semakin sehat, dia harus lakukan sendiri.

Dia langsung naik ke ranjang, membaringkan badan, dan berkata:

“Selimuti aku, Mas.”

“Masa kamu akan terus jadi manja begini?” protesku.

“Pada siapa lagi dapat bermanja kalau bukan padamu? Nah berceritalah sekarang, jangan berdiri begitu saja. Duduk lah sini seperti biasa.” Katanya sambil menepuk tepi ranjang. Dan duduklah aku di tepi kasur, tak tahu apa harus kuperbuat di dekat dewi kecantikan yang mulai sehat ini. “Ayo, ceritanya dimulai saja, cerita yang indah. Lebih bagus dari Pulau Mas dan Terculik itu, mereka tidak bersuara, Mas.”

Betapa aku memang harus mengalah pada dewi ini.

“Cerita macam apa yang kamu ingini, An?

“Maumu sajalah. Aku rindukan suaramu, kata-katamu, yang diucapkan dekat kuping, hingga terdengar bunyi nafasmu.” Dia menatapku lekat, sangat lekat dan memohon.

“Kamu mau diceritai bahasa apa? Jawa? Indonesia?”

“Sekarang kamu sudah bawel jadinya, Mas. Sudah ceritai saja.”

Lantas aku mulai mencari-cari cerita. Tak ada sama sekali persiapan olehku. Tak bisa datang begitu saja dalam pikiran ini. Pada mulanya teringat olehku kisah perang bubat itu, atau di lain belahan kisah raden Sukra. Sayang terlalu mengerikan dan pasti tidak baik untuk kesehatannya yang baru bangkit itu. Dokter selalu berpesan: Kau harus ceritai dia yang bagus, yang tak ada kengerian di dalamnya. Aku membatin, kecantikan seperti ini tak boleh padam karena sehabis jatuh sakit. Maka mulailah aku bercerita sekena-kenanya. Bagaimana dongen ini akan berakhir pun aku tak tahu, semua kujambret sembarangan untuk bercerita.

“Di suatu negeri yang jauh, sangat sangat jauh..” kataku memulai, “Kan kamu tidak digigiti nyamuk, An?” tanyaku menyela.

“Tidak! Mengapa nyamuk dimasukkan di negeri yang jauh itu?” dia tertawa dan giginya gemerlapan kena sinar lampu pijar di pinggir kasur, sedangkan suaranya mendering lepas.

“Di negeri yang jauh, sangat jauh itu, tak ada nyamuk seperti di sini. Juga tak ada cicak merangkak pada dinding untuk menyambarnya. Bersih. Sangat bersih. Negeri itu benar-benar bersih, bagaikan tiada lagi yang lebih bersih daripada negeri itu.”

Seperti biasanya, pandangan Ana tumpah padaku. Matanya gilang gemilang bintang kejora, mengimpi.

“…Negeri itu begitu subur dan selalu hijau. Segala apa ditanam maka akan tumbuh, akan jadi. Hama tidak pernah ada. Tak ada penyakit, tak ada kemiskinan. Semua orang hidup senang dan berbahagia. Setiap orang pandai dan suka menyanyi, gemar menari. Setiap orang punya kudanya sendiri: putih, merah, hitam, coklat, kuning, biru, kelabu, seekor pun tiada yang belang.”

“Hihihihi,” Ana menahan tawa kikiknya. “Ada kuda biru, merah,” katanya pada diri sendiri,

“Dan, di negeri itu, ada seorang putri nan cantik jelita tiada bandingan. Kulitnya laksana beledu putih-gading. Matanya gilang gemilang seperti sepasang kejora. Tak bakal kuat orang memandangnya terlalu lama. Sepasang alis melindungi sepasang kejora itu, lebat seperti punggung bukit sana. Bentuk badannya idaman setiap pria. Maka seluruh negeri sayang padanya. Suaranya lunak, memikat hati barangsiapa mendengarnya. Kalau dia tersenyum, tergoncanglah iman setiap dan semua pria. Dan kalau tertawa, gigi putihnya nampak gemerlapan memberi pengharapan pada semua pemuja. Kalau dia marah, pandangnya terpusat, dan darah tersirat pada mukanya, merona .. herannya, dia semakin cantik menawan… Pada suatu hari, dia berkeliling di taman, naik seekor kuda putih….” Dan tiba-tiba Ana menyela:

“Siapa namanya, Mas? Putri itu siapa namanya?”

Sebenarnya aku belum lagi dapatkan nama yang tepat, karena memang aku hanya sebarang, dan aku melanjutkan saja:

“…. Semua bunga menunduk, meliukkan tangkau, malu karena kalah cantik. Mereka jadi pucat kehilangan seri dan warnanya. Jikalau sang putri itu telah lewat, beru bunga-bunga itu tegak kembali, menengadah pada langit dan mengadukan perihalnya. Wahai Dewata, mengapa kami diperlakukan begini memalukan? Bukankah kami dititahkan turun kebumi sebagai makhlukMu yang tercantik di seluruh alam? Dan Kau tugaskan kami mempertindah kehidupan manusia? Mengapa sekarang ada yang lebih cantik daripada kami?! . ..

…Langit pun tetap terdiam mendengar pengaduan para bunga-bunga, dan segera menyelimuti dirinya dengan awan putih. Angin menembus, menggoyangkan semua bunga yang pada murung bersedih hati, tak lama kemudian hujan jatuh membikin daun daun bunga layu… Sementara sang putri meneruskan perjalanannya tanpa mengindahkan apa yang terjadi di belakangnya. Hujan dan angin memang tak sampai hati mengganggunya. Maka sepanjang jalan, orang memerlukan berhenti untuk mengaguminya … ”

Kulihat Ana telah memejamkan mata. Kuambil sapu ranjang dan kuusir nyamuk untuk kemudia menurunkan kelambu.

“Mas..” panggilnya, dia membuka mata dan memegangi tanganku. Aku duduk lagi. Cerita itu sempat terputus, maka aku menjadi gagap-gagap mencari sambungannya.

“Hmm.. sang putri, dia masih terus berkendara di atas kudanya. Semua orang yang memerhatikan merasa, betapa mereka akan bahagia andai saja menjadi kuda sang putri. Tapi putri itu sendiri tak tahu perasaan mereka. Dia merasa dirinya tak beda dari yang lainnya. Dia tak pernah merasa cantik, apalagi cantik luar biasa tanpa tandingan.”

“Siapa nama putri itu?” tuntutnya.

“Ya?”

“Namanya, Maaas… namanyaaa…,” ia makin mendesak. “Tidakkah nama putri itu adalah Ana?” katanya.

“Ya.. ya-ya-ya, Ana namanya,” lalu ceritaku berbelok pada dirinya.”Pakaiannya macam-macam dan bagus”

“Ah!”

“Sang putri merindukan percintaan yang indah, lebih indah daripada yang pernah dimasyhurkan terjadi antara para dewa-dewi di kahyangan. Dia merindukan datangnya seorang pangeran yang gagah, ganteng, perwira, lebih agung daripada para dewa…

…dan pada suatu hari, terjadilah. Seorang pangeran yang dirindukannya benar-benar datang. Dia memang ganteng dan juga gagah. Hanya saja dia tidak memiliki kuda, tidak memiliki kendaraannya sendiri, malah dia sering pinjam dari teman-temannya.”

Ana mengikik geli, dia tertawa.

“Ia datang pada putri itu dengan kuda pinjaman yang pelan. Kadang kuda itu mogok tidak mau jalan. Maka sang putri terpaksa mengampirinya dengan kuda putihnya. Padanya tidak ada pedang, atau keris pun tidak ada, yang ada hanya pensil, pena, dan kertas.”

Ana tertawa lagi, kali ini dia sedikit menahannya.

“Mengapa tertawa, An?”

“Kamukah pangerannya itu, Mas?”

“Memang.”

Ana menutup mata. Tangannya tetap memegangi lenganku, takut aku tinggalkan.

“Sang pangeran itu datang, mengajak sang putri untuk pergi berdua makan di malam hari saat bulan tidak kelihatan, dan bintang-bintang pada malu karena ada kejora yang lebih indah dari mereka di bumi. Mereka berdua pun bercengerama, sang putri segera jatuh cinta padanya setelah beberapa pertemuan. Tidak bisa lain”

Ana memukul-mukul tanganku.

“Tidak. Bohong, ah bohong kamu, Mas. Cerita awalnya tidak seperti itu.” Ditariknya lenganku keras-keras, memprotes jalannya kebenaran yang tidak tepat.

Dan terjatuhlah aku dalam kelunakan pelukannya. Jantungku mendadak berdebaran begitu kencang, ibarat laut diterjang angin barat. Semua darah tersembur ke atas pada kepala, merenggutkan kesadaran dan tugasku sebagai dokter buatnya. Dengan sendirinya, aku membalas pelukannya. Dan aku dengar ia terengah-engah. Juga nafasku sendiri, atau barangkali hanya aku sendiri yang demikian, sekalipun tak kusadari. Dunia, alam, terasa hilang dalam ketiadaan. Yang ada hanya dia dan aku yang diperkosa oleh kekuatan yang mengubah kamu menjadi sepasang binatang purba.

Lalu kami tergolek tanpa daya, berjajar, kehilangan sesuatu. seluruh alam mendadak menjadi sunyi tanpa arti. Sekarang tiada gumpalan hitam di antariksa hatku. Dan kami berpelukan seperti boneka kayu.

 

 

Kebumen, 9 Oktober 2014

Terimakasih Pramoedya Ananta Toer atas Bumi Manusia-mu.
dengan gubahan sedikit,
Setyoko Andra Veda