Daun Terakhir

by membualsampailemas


aku selembar daun terakhir, yang ingin menyaksikanmu bahagia, ketika sore tiba.

Itulah yang dikatakan Sapardi Djoko Darmono beberapa tahun lalu. Beliau mengumpamakan dirinya sebagai daun, lebih tepatnya “daun terakhir”. Daun terakhir itu adalah daun yang rontok paling akhir di musim kemarau pada sebuah pohon.
Tentunya dengan mengingat sebuah kutipan lain dari Goenawan Mohamad, bahwa sebuah fiksi seringkali dibebani tafsir yang tak diniatkannya sendiri, maka dengan puisi dari Sapardi Djoko Darmono ini pula kemungkinan besar saya membebani tafsir yang tidak diniatkan oleh si empunya puisi.
Tulisan itu, tepatnya pada bait itu, adalah tentang seseorang yang memperjuangkan sesuatu hingga titik terakhir dimana ia ingin melihat kekasihnya tersenyum persis tatkala dirinya “habis”. Sore menggambarkan akhir, ketiadaan cahaya yang diwujudkan dengan memudarnya mentari di ufuk barat, sedangkan akhir itu sungguh begitu syahdu, begitu khusyuk untuk sang aku.
Dalam penantian akan senyum kekasihnya itu, sang aku melewati berbagai rintangan yang sukar untuk bertahan hingga ia menjadi sang terakhir yang benar-benar bisa melihat senyuman magis itu. Belaian lembut angin, goyangan pohon, usia tua, dan beberapa lainnya yang sanggup ia taklukkan untuk menjadi akhir.
Saya secara pribadi salut pada sang aku yang hanya diungkap dalam 11 kata, akan kesanggupannya menanti kekasihnya hingga tersenyum, sedangkan kekasihnya itu tiada pernah tahu sebelumnya, dalam penantian sang aku itu dia tidak tahu.