Sebuah Percakapan Weni dan Laras

by membualsampailemas


Suasana ramai di pinggir jalan kecil di tengah kota yang cukup bersih, membuat 2 orang wanita memutuskan untuk duduk di bangku sebuah restoran di pinggir jalan. Langit sudah tiada terlalu gahar, karena mentari telah merayapinya menuju ke barat saat ini.

“Ini seperti di jalanan kota Paris.” Kata wanita yang rambutnya digerai sebahu.

“Kita masih ada di Jakarta, Wen.” Sahut temannya yang dikuncir kuda.

“Kamu pintar cari tempat.”

“Seperti biasa.” Lalu mereka tertawa.

“Pesan apa, mbak?” tanya seorang pelayan yang seketika datang menghampiri tak lama setelah mereka duduk. Mereka memesan beberapa camilan untuk sekadar teman mengobrol.

Yang rambutnya dikuncir kuda itu adalah Laras, dia hampir selalu memakai jeans kemanapun pergi, terlihat agak tomboi, tapi sebenarnya dia sangat feminin. Sedangkan yang digerai rambutnya itu Weni yang suka memakai rok, teman semasa kuliahnya. Mereka bercerita tentang kehidupan masing-masing. Weni seorang ibu rumah tangga, sedangkan Laras adalah wartawati di sebuah kantor berita ternama. Dan tiada lain yang mereka bicarakan di sana melainkan masalah percintaan.

“Ras, kamu harus tahu. Aku sudah bosan dengan kehidupanku yang datar-datar begini.”

“Kamu? Jadi istri seorang pejabat eselon 3 dan bosan? Minta duit lah buat senang-senang.”

“Aku kadang pengen jadi seperti kamu, orang yang bebas dan lepas dari segala tetek bengek rumah tangga.”

“Justru aku yang iri dengan kamu, kamu sudah punya suami sedangkan aku pacar saja tak punya.”

“Ya tapi HP mu bunyi terus kan, Ras.”

“Bunyi dari hongkong?! Yang ngontak ya si bos, suruh sana sini. Hahaha.” Mereka tertawa. Semanjak kuliah kehidupan memang menjadi terasa berbeda. Kehidupan kuliah penuh dengan bahagia, tawa, canda, begitu wisuda semuanya mulai jelas bahwa hidup itu tak sekedar kampus dan kos.

“Tapi aku serius, Ras. Kadang aku menyesal memilih menjadi seperti ini.” Raut muka Weni berubah jadi galau. Sungguhpun tak berkurang kecantikannya dengan ekspresi semacam itu.

“Maksudnya?” Laras menaikkan alis kanannya. “Kamu sudah dikaruniai suami yang begitu baik, Wen. Kurang apa dia? Atau jangan-jangan dia…..mandul?”

“Hus! Bukan begitu! Kami memang belum berencana punya momongan. Mungkin tahun depan.”

“Lantas?”

Denting lonceng dari gereja di seberang blok berbunyi nyaring, menandakan pukul 5 sore talah datang. Weni mendongak melihat langit. Birunya mulai menghitam. Tak selamanya bercerita itu mudah, terkadang sulit terasa, dan itulah yang dialami Weni sekarang ini. Orang-orang berlalu lalang di jalanan kecil itu, di sela-sela gedung tinggi di kawasan Kebon Sirih.

“Wen?” celetuk Laras. Dia sepertinya mahfum jika temannya itu sedang gelisah. “Kalau memang susah buat cerita, tak apalah. Jangan dipaksa.”

“Kamu ingat Farhan?” tanya Weni tiba-tiba. Mendengar itu, Laras sedikit terkejut dan mengernyitkan dahi.

“Tentu. Farhan yang itu, yang..yang teman kita waktu kuliah dulu.”

“Iya. Belakangan aku berpikir ternyata dia itu orang yang paling mencintai aku.” Kali ini Weni meletakkan Hpnya yang sedari tadi dipegangnya. Sepertinya ia ingin berkata serius.

“Hah? Jangan ngawur deh kamu, Wen. Kamu sudah punya suami. Ingat itu!” Laras jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu, saat Weni bercerita kalau dia menolak Farhan.

“Iya, aku sadar. Bukan itu maksudku. Maksudku itu, aku..aku memang sudah menyakiti Farhan sampai begitu, tapi dia itu masih saja baik sama aku.”

“Udah lah Wen. Yang lalu biar berlalu.”

“Gini, Ras. Orang yang paling mencintai kita mungkin sebenarnya bukan orang yang berada di sisi kita sekarang ini, tapi bisa saja dia adalah orang yang sedang berada di suatu tempat dan merelakan kita berbahagia terlepas dari dirinya.”

“Ribet kamu, Wen. Aku tak terlalu paham.” Mereka sejenak terdiam. Weni mengelus elus pinggiran meja untuk menyalurakan kegundahannya itu. “Wen, apa yang membuat kamu berpikir demikian?” lanjut Laras dengan pertanyaan yang menghujam, khas wartawan.

Weni tersenyum simpul. Dia enggan berkata-kata lagi sebenarnya, namun demi sahabatnya itu dia berkata:

“Aku hanya merasa saja, Ras. Farhan telah melakukan banyak hal. Belakangan aku mencoba menjelma jika aku menjadi orang lain. Jika aku jadi kamu, jadi suamiku, jadi Farhan, jadi ibuku, bapakku, mertuaku, dan sebagainya. Aku memiliki kesan masing-masing terhadap jelmaan itu. Mungkin ini sedikit membungungkan, hanya saja aku ingin merasai menjadi orang lain ketika memandang diriku sendiri. Sejatinya, aku ingin memahami bagaimana orang lain bisa menerima diriku dan bagaimana diriku di mata orang lain. Walau memang beberapa orang tidak merasa perlu atau merasa penting memerhatikan pandangan orang lain terhadap dirinya, tapi aku merasa perlu untuk itu karena aku sendiri secara pribadi selalu memandang orang lain, termasuk kamu, dengan sedikit kecurigaan dan prasangka. Tentu aku mengendalikan semua itu dalam skala wajar.”

Laras menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menjatuhkan pandangan pada kumpulan sendok di tengah meja.

“Aku tak menyangka kamu bisa berpikiran demikian, Wen.”

“Aku pun tak menyangka aku seperti ini. Tapi, aku mengalami kesan tersendiri ketika aku mencoba merasai menjadi Farhan, ada banyak kata ‘mungkin’ ketika aku mencobai menjelma menjadi dirinya. Mungkin dia begini, mungkin dia begitu, dan semua ‘mungkin’ itu membuatku lebih tersadar bahwa banyak dari diriku yang sepertinya kurang berkenan. Dari situ aku belajar memaafkan orang lain, tapi kendala lain timbul: aku mulai terus menyalahkan diri sendiri.”, Weni menatap mata Laras lekat-lekat, seolah sesuatu itu harus benar-benar dipahami sahabatnya.

“Menyalahkan diri sendiri?” Itu tidak baik, Wen. Kamu sahabatku, aku mengakui kalau masing-masing dari kita pasti berbuat salah, tapi menyalahkan diri sendiri itu tidak selalu diperllukan.”

“Bukan itu, Ras. Maksudku, aku selalu, setidaknya kali ini, menganggap diriku adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian yang berkaitan denganku.”

“Setiap manusia memiliki peran.”

“Kamu betul, tapi..”

“Sudah, Ras.. aku tahu arah pembicaraan ini ke mana. Kamu rindu Farhan. Kamu menyalahkan dirimu atas penderitaannya dengan segala kata ‘mungkin’mu.”

“Aku mengakui itu. Hanya saja aku tak tahu apa cara terbaik yang harus aku lakukan saat ini.”

“Realistis. Itu yang terbaik. kamu harus realistis. Aku yakin kamu paham itu.”

Dan pembicaraan mereka berdua berlanjut hingga malam. Mengalir bagai sungai kata yang bermuara pada lautan makna.

 

Kebumen-Bintaro,

September-November 2014