Peran

by membualsampailemas


Dalam sebuah cerita kehidupan, kita tidak bisa memandang seorang manusia itu berperan antagonis maupun protagonis. Anti maupun Pro nya seorang tersebut pada suatu jalan cerita tertentu, adalah pandangan yang, dalam pemahaman saya, sangat subjektif.

Tatkala sudah berbicara tentang kehidupan, yang mana tiap-tiap manusia memilikinya, maka kita tidak bisa membakukan jalan cerita. Dunia ini seperti sebuah pentas drama yang besar, dengan masing-masing makhluk sebagai pemeran utamanya, tentu di dalam pendangan tiap-tiap manusia sendiri. Saya menganggap bahwa diri saya adalah pemeran utama, tapi mungkin pembaca menganggap pandangan saya agak keliru karena sebenarnya pembaca-lah si pemeran utama. Lantas, “perebutan” karakter sebagai pemeran utama inilah yang mengakibatkan konflik yang nyata di dunia fana ini. Saling bentur pandangan, tindakan, ucapan, dan segala yang melekat pada pribadi membuat drama ini makin seru. Itulah subjektifitas.

Tiap-tiap manusia adalah tokoh utama, pemeran yang nomor satu, setidaknya itu yang saya pahami dari cerita George RR Martin yang diadopsi dalam sebuah drama berjudul Game of Thrones. Kita yang sudah didoktrin semenjak kecil untuk mencintai tokoh utama (lakon) dalam suatu cerita, akan dibolak-balik perasaannya ketika tokoh yang kita cintai itu ternyata mati. Setiap orang memiliki kepentingan dan pandangan tentang suatu jalur cerita kehidupan. Nyaris setiap orang pula ingin menakhodai alur cerita tersebut agar sesuai dengan keinginan pribadinya. Itulah tadi yang saya sebutkan sebagai konflik.

Indonesia sebagai sebuah sistem pemerintahan, sedang mengalami suatu pergolakan yang canggih, lebih canggih dari tahun-tahun belakangan yang telah lewat karena kali ini lebih banyak orang yang terlibat, lebih banyak “pemeran utama”, sehingga orang-orang yang di luar konflik itu tidak tahu lagi mana yang memang pemeran utama dan mana yang bukan. Sekarang dan dulu adalah suatu waktu saja, dulu informasi tidak semudah sekarang dalam menyebar, menyublim di udara dan dapat sampai ke mana saja. Dulu informasi terbatas pada sekitaran pusat, maka dari itu orang-orang di daerah merasa adem-ayem, tidak berkonflik dan tidak turut ikut campur dalam tetek bengek kenegaraan. Bandingkan dengan sekarang, dimana informasi dapat begitu menggila dan menyebar kemana-mana setiap detik dengan lebih banyak pemeran utama yang terlibat. Informasi adalah kekuasaan, kekuatan juga adalah kekuasaan, semakin banyak informasi dan kekuatan yang dimiliki, semakin besar pula kekuasaan. Apalagi jika dipertegas dengan sebuah aturan yang rigid.

Pernah suatu ketika seorang teman saya bertanya, mana yang lebih dulu antara Realistis dan Idealis. Dengan sekenanya saya menjawab tentu Realistis yang lebih dulu. Dari kenyataan yang terjadi yang benar-benar ada, kita membentuk suatu keadaan ideal, bukan sebaliknya. Ideal yang mendahului realitas adalah angan-angan manusia. Mungkin itu yang memulai suatu ideologi semacam kapitalis maupun komunis (yang mana kemudian saya sadar, dari teman blogger saya, bahwa keduanya memilliki potensi penindasan manusia pada manusia sama besarnya). Maka dari itu, Pancasila, sebagai sebuah ideologi adalah lahir dari suatu angan-angan pula. Angan-angan untuk memajukan bangsa Indonesia dengan tanpa komunisme maupun kapitalisme. Sekali lagi, itu hanya angan-angan, cita-cita. Perkara bagaimana realita yang ada adalah untuk nanti. Mengapa demikian? Karena sebelum Pancasila lahir, tidak ada keadaan ideal, yang ada hanya realitas di tempat. Bagaimana mungkin sesuatu bisa dikatakan ideal sedangkan peraturan atau kesepakatan tentang hal yang ideal itu belum lahir, bahkan belum ada bahkan belum terpikirkan?

Kesetimbangan baru akan selalu muncul, seperti halnya teori ekonomi kemukakan. Maka hal ini saya anggap sebagai suatu pencarian kesetimbangan, keadaan ideal, bagi bangsa Indonesia. Proses yang dibutuhkan akan memakan waktu yang tidak sebentar. Perebutan kekuasaan demi mencapai kepentingan yang tiap-tiap golongan (bahkan tiap-tiap manusia) memandang bahwa “alur cerita” yang dimilikinya adalah alur terbaik bagi bangsa dan negara akan terus terjadi. Pertanyaannya hingga kapan proses ini akan terjadi? Bilamana keadaan ideal itu muncul?

Pada akhirnya, kesadaran akan keinginan menjadi bangsa yang baik adalah kuncinya. Ingin tapi tidak berusaha adalah percuma. Ingin lantas berusaha adalah persoalan baru, karena usaha pun akan menimbulkan konflik.

Tapi, coba kita pikirkan sekali lagi tentang bab “pemeran utama” dalam sebuah cerita kehidupan ini. Bagaimana jika kita berusaha untuk tidak menjadi pemeran utama, malahan mengikhlaskan peran itu pada orang lain. Saya pikir, hal semacam itu akan membuat si pemeran utama yang sebenar-benarnya akan mewujud tanpa ia berkehendak mewujud, karena dengan tidak berkehendak akan pemeran utama, manusia menjadi terlepas dari segala keinginan dan berpaling pada kepasrahan. Pasrah akan tetek bengek yang melekat pada pemaksaan kehendak, pemaksaan alur cerita. Jika setiap orang seperti itu, alur cerita macam apa yang akan terjadi? Siapa pemeran utamanya nanti? Pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya tatkala hal itu sudah terlaksana, alias menjadi realitas. Saya ogah berangan-angan walaupun saya ingin. Angan-angan mendahului realitas, tapi angan-angan itu perlu untuk memacu perbuatan yang baik. Tanpa angan-angan, tidak akan ada tujuan.

Tanpa tersadar, sebenarnya saya sendiri telah berangan-angan. Berangan-angan bahwa idealnya kita tidak berambisi menjadi pemeran utama.

 

Bintaro, 4 November 2014
Setyoko Andra Veda

Iklan