Dua Detik sebelum Pukul 23.00

by membualsampailemas


Cerpen ini terinspirasi dari Seperseribu Detik Sebelum Pukul 16.00 oleh SGA.

 

Konon katanya, beberapa tahun lalu, waktu pernah berhenti untuk beberapa saat. Busyet! Bagaimana waktu bisa berhenti beberapa saat, sedangkan “saat” itu sendiri adalah waktu? Di kala itu, waktu terbagi menjadi 2, yaitu waktu yang tak terbendung dengan waktu yang terbendung, tergantung kepada orang yang mengalami itu. Semua itu terjadi gara-gara sepasang kakek dan nenek yang telah terpisah selama 60 tahun, tapi mereka harus berpisah saat pukul 16.00. dan tepat seperseribu detik sebelum pukul 16.00 itu, waktu berhenti mengalir, orang-orang masih sadar sedangkan benda-benda di sekitarnya dan tubuh mereka berhenti semua.

Sendok yang terjatuh dari meja terlihat mengambang di awang-awang dan berhenti tepat sebelum menyentuh lantai. Orang kehausan yang sedang bersiap untuk minum, dan air dari botolnya yang hendak ia teguk itu berhenti tepat sebelum masuk kerongkongan. Sopir truk yang tinggal beberapa inci lagi menabrak pengendara motor pun berhenti seperti patung beserta truknya dan pengendara motor yang hendak tertabrak itu. Mereka semua sadar, dan akan tetap sadar, tapi tidak dapat bergerak dan tidak dapat berbuat apa pun selain berbicara dalam pikirannya. Orang yang nyaris mati tertusuk pisau harus menahan rasa takutnya lebih lama karena kematiannya tak kunjung datang, begitu pula dengan pengendara motor tadi yang belum tertabrak truk dan ia tahu ia akan mati beberapa detik lagi jika waktu telah mengalir kembali. Pesawat pun berhenti di angkasa dan tidak bergerak, bahkan tidak jatuh sama sekali, burung-burung pun demikian, air di sungai bahkan di air terjun semua berhenti bergerak. Keterbendungan waktu membuat kacau orang-orang, banyak yang menggerutu dalam hati karena mereka sama sekali tidak dapat bergerak karena waktu telah terbendung dan berhenti mengalir, padahal banyak orang-orang yang hendak melakukan sesuatu yang penting dan perlu seperti mencuci, mandi, bershampo, sikat gigi, bahkan buang hajat! Bisa dibayangkan mereka semua mematung karena waktu terbendung namun mereka tetap sadar bahwa tidak dapat bergerak sama sekali. Waktu telah membeku, sedangkan kesadaran manusia timbul di dalam masa yang berbeda dengan waktu yang utama.

Beginilah keadaannya jika yang tersisa hanya kesadaran manusia akan ketidakmampuannya mengatasi keterbendungan waktu yang membeku entah sampai berapa lama, padahal “lama” sendiri adalah kata yang mewakili sebagian waktu. Busyet!

Hanya gara-gara sepasang manusia, kakek dan nenek, yang tidak menginginkan perpisahan setelah 60 tahun berpisah dan mereka baru sadar bahwa masing-masing dari mereka selama ini saling menanti dan saling mencintai.

“Tidak! Aku tidak mau berpisah!”

“Tidak akan, kita tidak akan berpisah!”

“Jangan! Jangan pergi..!”

“Tidak boleh pergi!”

Dan dalam ketidaksadaran mereka, waktu benar-benar berhenti karena menuruti keinginan mereka sendiri, waktu yang mengalir itu sudah berhenti, terbendung seketika karena harapan dan keinginan. Lantas saat mereka sadar bahwa telah membekukan seisi bumi, bahkan mungkin jagad raya, maka mereka menikmati perjumpaan abadi yang begitu lama.

“Apa yang terjadi?”

“Apa?”

“Aku tidak tahu, entahlah..”

“Aku juga.”

“Tapi mereka semua terdiam seperti patung!”

“Iya, mereka seperti patung..”

“Dan hanya kita yang bisa bergerak sekarang!”

Dan keduanya menoleh-noleh sekitar..

“Lihat! Jam itu tidak berdetak!”, kata sang nenek menunjuk jam dinding. Dan memang jam dinding itu tidak berdetak walau sedetik pun. Busyet!

“Arlojiku juga berhenti, dan pesawat itu juga masih di sana, tidak kunjung naik sedari tadi. Tidak ada suara lain selain suara kita!”

Mereka lantas menikmati keterbendungan waktu di dalam waktu yang tidak terbendung. Konon mereka menghabiskan 50 tahun kebersamaan dalam waktu yang berhenti itu hingga puas tanpa pernah memerhatikan makian orang-orang yang seperti patung. Dalam waktu yang lama di antara keberhentian waktu yang utama, mereka memadu kasih.

Maka aku, kali ini ingin sangat mencobanya. Aku ingin mencoba membendung waktu saat ini saja, saat aku menatap Ana untuk terakhir kalinya malam ini, karena setelah ini kami benar-benar harus berpisah. Benar-benar berpisah karena Ana telah berkeputusan untuk meninggalkan diriku dan memilih pria lain yang lebih dicintainya menurut perasaannya. Tapi dia juga mencintaiku dan aku sadar aku tidak akan pernah dipilihnya jika Ana harus memilih. Jika saja ia tak harus memilih, mngkin dia akan menggapai 2 pria sekaligus. Dia enggan berpisah dan berharap aku menghentikan waktu agar kami dapat menukmati keterbendungan waktu bersama. Bersama-sama dalam keterbendungan waktu yang utama dengan sangat lama hingga puas, hingga kami bosan, sebelum dia pergi meninggalkan diriku.

“Mas..!”

“An!”

“Mas pernah bercerita padaku,” katanya sesenggukan “Mas harus melakukannya sekarang!”

“Aku tidak bisa, An. Itu hanya dongeng. Seandainya aku bisa tentu sudah aku lakukan sedari tadi. Tidak ada yang dapat membendung waktu, An!”

“Tapi kita akan berpisah jika begini, dan aku tidak mau..”, dia memelukku.

“Aku juga tak mau!”

“Jangan,. Jangan pernah pergi!, Mas!”

“Tidak, aku tidak pergi….”, kata-kataku terhenti sejenak, “Mengapa tidak kamu pilih aku saja daripada dia..??!”

“Tidak bisa, Mas. Tidak bisa..!”

“Mengapa?”

“Tidak tahu.”

Aku bingung dengan wanita ini, tapi aku begitu mencintainya, sangat mencintainya..

“Tapi, katanya kamu tidak ingin berpisah denganku?”

“Iya, aku tidak ingin berpisah, Mas!”

“Aku lebih tidak ingin..!”

Heran, begitu heran diriku. Aku seperti dipermainkannya kini. Dia bilang tidak ingin meninggalkanku dan tidak ingin berpisah, tapi dia tidak memilihku dan malah memilih yang lain. Tapi cintaku membikin diriku meraba-raba dalam kebutaan logika, dan semuanya terlihat menjadi benar karenanya. Lantas aku menuruti apa yang dia inginkan karena aku juga menginginkan kebersamaan.

Kami berdua lantas terus berpelukan erat sebelum menjelang pukul 23.00 malam itu. Dan aku menyadari bahwa Ana sesenggukan menangis, dia menangis begitu kencang dalam pelukanku, menyembunyikan mukanya di sela-sela dadaku.

“Tidak, aku tidak ingin berpisah, Mas. Mas jangan pergi!”, katanya.

“Aku tak ingin, tapi kamu memaksaku pergi, An.”

“Tidak!”

“Iya..”

“Coba hentikan waktu, Mas. Aku ingin seperti ini yang lama, sangat lama, begitu lama bersamamu hingga puas.”

“Aku juga. Tapi aku tak bisa! Aku tak bisa.”

Kami terdiam lagi dalam keadaan berpelukan itu. Aku memandangi arlojiku dari belik punggungnya sambil masih memeluk Ana.

“Satu menit lagi menjelang jam 23.00, An.”

“Tidak!”

“45 detik lagi..”

“Mas..!”

“30 detik lagi…..”

“Mas…!!”, teriaknya sambil memelukku lebih kencang.

“15 detik lagi… sudah, An. Kita tidak bisa…”

“Kita bisa..! kita bisa, Mas..”, dia makin meraung menangis.

Aku memandangi arloji itu di balik punggung Ana, perlahan namun pasti, sejak detik ke 50, jarum detik semakin melambat dan terasa semakin lambat, makin lambat hingga aku memerhatikan tatkala detik ke 58 tepat. Perasaanku bergetar! Dan arlojiku benar-benar berhenti. Aku masih tidak percaya apa yang aku lihat. Sementara Ana masih menangis sesenggukan dalam pelukku. Maka aku memerhatikan sekitar yang telah sepi. Tidak ada motor lewat, sehingga aku sulit memastikan apakah waktu memang telah terbendung atau tidak.

“An..!”, kataku sambil melepaskan pelukan lalu menunjukkan arlojiku, “Lihat! Lihat! Detik ini berhenti di 58! Tepat 2 detik sebelum pukul 23.00!!!”

Ana lantas tersenyum gembira dalam sisa tangisnya itu

“Kita, berhasil! Kita berhasil, Mas..!”, lalu dia memelukku lagi.

“Kita pastikan dulu kalau ini memang benar-benar berhenti.”

“Iya..”

“Ayo!”

Kami pun pergi berjalan-jalan di keheningan malam. Hanya ada suara kami di tengah malam itu, sehingga aku semakin yakin bahwa waktu telah terbendung, berhenti. Aku melihat ke sekeliling, jam dinding di sebuah toko yang masih buka pun berhenti, ada orang yang terdiam seperti patung di dalam toko itu. Waktu benar-benar berhenti!! Busyet!

Aku memandang Ana yang tersenyum dengan sisa-sisa tangis di wajahnya. Kami berpelukan lama, lama sekali, sangat lama, begitu lama. Di malam itu menjelang pukul 23.00, kami memutuskan untuk bersama menikmati keberhentian waktu untuk waktu yang tak berhingga hingga kami puas. Entah sampai kapan kami akan menikmati ini.

“An, Aku mencintaimu!”

“Aku lebih mencintaimu, Mas..”. Kami pun berciuman hingga puas.

–**–

 

Setyoko Andra Veda
Senen – Jakarta, 27-28 November 2014
Untuk seseorang yang pantas