Satu Alternatif Pemikiran tentang Ketentuan

by membualsampailemas


Suatu kali aku pernah bingung tentang seperti apa itu takdir. Bapak selalu mengatakan bahwa kita baru tahu sesuatu yang terjadi itu adalah takdir tatkala sesuatu itu sudah terjadi. Artinya, jika kita melihat masa lalu, maka itu adalah takdir, ketentuan yang semestinya dan itu tidak bisa diubah lagi. Kan mengubah masa lalu hanya ada dalam cerita-cerita fiksi di novel maupun pancaran sinar di layar (TV, Film, Bioskop, dll).
Betapa inginnya kita, sebagai manusia biasa, mengubah masa lalu, ketika kita tahu kita telah berbuat salah. Tidak semua manusia ingin mengubah masa lalunya tentu, tapi pada dasarnya, jika pengetahuan kita sama rata seperti saat kita berusia 10 tahun dan belum tahu apa pun tentang kompleksitas agama, dunia, dan sosial, tentu kita berkeinginan mengubah masa lalu jika itu memang bisa. Sayangnya, itu tidak pernah terjadi, karena masa lalu adalah takdir, sebuah ketentuan yang mesti terjadi, sebagaimana pengandaian kita yang sudah kita lakukan hari ini saat ini juga.
Sebagai orang yang beriman (Godly Man), theis, yang beragama Islam pula, wajar saja pernah menanyakan pada diri sendiri atau orang lain tentang takdir itu. Dikatakan dalam kitab Al-Qur’an Al-Kariim bahwa,”tiada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya (Allah), tiada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)”. Masih banyak petkan-petikan ayat lain yang seperti ayat 59 surah Al-An’am itu, yang menerangkan tentang sebuah “kitab” yang di dalamnya tertulis takdir-takdir, ketentuan-ketentuan tentang semuanya. Guru-guru pula pernah bilang, bahwa dengan berimannya kita bukan berarti kita berhenti mencari tahu (walau tak akan pernah mendapatkan pengetahuan yang cukup) dan pasrah akan keadaan.
Lantas pernah suatu ketika saya menanyakan pada diri sendiri, bagaimana saya ini dalam berbuat atau bertindak? Tidakkah saya memiliki kebebasan dalam bertindak? Apakah 10 detik lagi jika saya mau ngupil itu sudah ada catatannya di Lauh Mahfuz? Bagaimana peranan usaha saya di dunia nyata, bagaimana peranan pemikiran saya dan perasaan saya ketika sebelum bertindak seperti sekarang ini, dan bagaimana peranan do’a-do’a saya? Seperti apa sih tulisan di sana itu? Apakah tertulis seperti cerita novel? Atau komik? Atau cerpen? Atau dialog? Atau bagaimana itu sih? Sepertinya tidak ada dan belum pernah ada yang menjelaskan pada saya tentang bagaimana ketentuan-ketentuan itu di tulis.
Hingga suatu saat saya datang pada sebuah majelis yang insyaAlloh baik. Di dalam majelis itu, kita semua sama rata, yang (pura-pura atau merasa atau memang) pekok boleh ngomong seenaknya dan yang (merasa dirinya atau pura-pura atau memang) pintar harus mendengarkan sampai selesai, demikian juga sebaliknya, yang pintar boleh ngomong dan yang pekok juga harus mendengarkan. Tidak ada bantah-bantahan, tidak ada adu argumen yang akan mengakibatkan konfrontasi mental atau fisik, tidak ada debat kusir, yang ada hanyalah rekonsiliasi pemikiran dan perasaan. Semua disampaikan dan didengarkan/diterima dengan hati terbuka, pikiran terbuka, dan kesadaran bahwa manusia di dunia ini bermacam-macam jenis latar belakang dan sifatnya. Di dalam majelis itu ada yang menanyakan tentang hal yang sama mengenai takdir. Sama seperti yang pernah saya tanyakan dulu.
Alhamdulillahirobbil’alamin, Segala puji buat Allah, ternyata saya diperdengarkan tentang suatu “alternatif pemikiran” dari seorang Sabrang (Noe Letto) yang kebetulan juga hadir dalam majelis tersebut dan berkesempatan menjawab pertanyaan tentang takdir itu. Alternatif pemikiran itu tentu hanya alat kecil untuk memahami sesuatu yang sukar dipahami oleh awam, semisal analogi, atau suatu gambaran sederhana. Alternatif pemikiran itu belum tentu suatu hal yang memang benar tepat, tapi setidaknya itu membantu, suatu penawaran yang boleh diterima dan boleh tidak diterima.
Memang kita tidak pernah tahu seperti apa ketentuan-ketentuan Allah itu tertulis. Apakah novel atau komik atau seperti bait-bait. Apakah yang dimaksud dengan tertulis itu juga memang benar-benar seperti persepsi kita orang awam ditulis dengan pena pada buku besar—tidak ada yang tahu melainkan Allah sendiri. Tapi pernahkah kita main suatu permainan dalam sebuah komputer semacam Mario Bros atau PES (Pro Evolution Soccer) atau Ragnarok atau DoTA dan lain sebagainya itu? Kita bisa mengumpamakan tertulisnya ketentuan-ketentuan di kitab yang nyata itu adalah seperti tertulisnya program dalam sebuah permainan virtual. Program itu ditulis dalam bahasa logika yang rumit. Rumit karena kita belum pernah belajar tentang bagaimana programming itu sendiri. Bahasa logika, secara mudahnya saya gambarkan seperti jika kita menuliskan sebuah rumus di dalam Microsoft Excel, misal — =if(A12=>6,”lulus”,”tidak”) – yang jika dibahasakan secara verbal berarti jika cell A12 nilainya lebih dari atau sama dengan 6, maka tulislah “lulus”, jika tidak maka tulislah “tidak”. Tentu itu baru rumus IF yang paling sederhana, kita tahu bahwa ada macam-macam rumus IF dan bisa juga rumus itu bertingkat-tingkat. Semakin panjang rumus itu, semakin kompleks, semakin rumit, variabel dan pertimbangan-pertimbangan untuk mengeluarkan hasilnya makin banyak. Pernahkah kita berpikir demikian?
Jika dalam rumus Microsoft Excel kita menjumpai rumus untuk mengolah karakter angka dan huruf, bagaimana dengan programming permainan semacam PES, FIFA atau Mario Bros yang lebih rumit? Dalam bermain PES saja, jika pemain satu memilih Chelsea dan pemain kedua memilih Barcelona dan mereka bermain lebih dari satu kali, niscaya hasil skor akhirnya akan berbeda-beda. Kalau hasil skornya sama pun, alur permainannya dan cara gol-nya berbeda-beda, pemain bola yang mengegolkan akan berbeda, siap yang assist, siapa yang mengegolkan akan berbeda-beda pada tiap pertandingan. Dalam bermain Mario Bros, apakah si Mario akan menabrak kura-kura pada level 1 atau level 2 kita tak tahu pasti, tergantung keahlian kita sebagai pemain Mario Bros. Apakah lompatan si Mario bisa melewati celah lantai, apakah bisa sampai di awan dan memanjat pohon ajaib di pipa ke berapa pun kita tidak tahu pasti akan ada di waktu mana, walau pun kita berkali-kali main Mario Bros. Padahal dunia game itu hanya sebesar harddisk komputer kita, atau di dalam kaset permainan kita. Di dalam kaset itulah si programmer, si pembuat game, menulis program-program yang menyusun permainan itu. Di dalam kaset itu ada “ketentuan-ketentuan” si programmer dengan cara ditulis dalam bahasa program yang khusus. Apakah programmer itu harus menulis setiap-setiap apa yang akan dilakukan Messi, Ronaldo, Rakitic, Rooney, Costa, Mario Bros, tersebut? Tentu tidak. Mereka menulis antara lain dengan rumus semacam rumus IF pada Excel dan dikombinasikan dengan rumus lain. Sebagai manusia nyata, kita berhak mengatur karakter di dalam sebuah permainan itu sesuai apa yang kita inginkan, tapi kadang juga bisa Game Over karena kalah (tidak sesuai dengan keinginan). Letak Game Over itu sendiri tidak mesti pada setiap ronde permainan yang kita mainkan.
Pernahkan berpikir demikian? Tentu ada beberapa yang pernah dan ada yang belum pernah. Sekali lagi, itu hanyalah alternatif pemikiran, bisa juga analogi, perumpamaan, yang membuat kita sedikit memahami bagaimana ketentuan Allah itu. Kurang lebih hal di atas itulah yang disebut sunnatulloh. Sunnatulloh bukan melulu hukum alam semacam hukum fisika, kimia, biologi, bahwa benda yang dilemparkan ke atas akan kembali jatuh ke bumi, tapi juga tentang ketentuan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan dengan memakai banyak variabel, perasaan, logika, latar belakang, dan lain sebagainya secara bertumpuk sehingga terlihat sangat kompleks. Dari situlah manusia itu diberi kebebasan untuk bertindak dan berdoa. Doa itu semacam effort atau usaha untuk mengubah programming dalam kaset permainan. Dari sebuah doa, dapat pula muncul yang disebut inayatulloh. Inayatulloh inilah tempatnya Allah untuk “beraksi”, berkehendak semau-mauNya, kan Dia yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Semacam Laura Lazarus, Vesna Vulovic, awak-awak pesawat yang selamat dari kecelakaan maut. Bagaimana bisa seseorang yang jatuh dari ketinggian pesawat karena kecelakaan bisa tetap hidup? Kan tidak tinemu ngakal (masuk akal).. Dan tentu setiap-setiap orang pernah mendapat cerita atau mengalami peristiwa yang tidak tinemu ngakal lainnya.
Sunnatulloh dan Inayatulloh hanya merupakan istilah pula untuk kita dalam memahami ketentuan Allah dan KemahakuasaanNya. Itulah yang saya dapatkan dari majelis itu dimana Mas Sabrang menjelaskan dan memberi gambaran-gambaran alternatif pemikiran yang tidak langsung mengecap bahwa pemikiran semacam itulah yang benar, tapi mempersilakan bagi yang mau mengambil atau mau menolak pemikiran semacam itu tentang takdir dari Allah yang telah “tertulis” di Lauh Mahfuz.
Tidak luput dari kesalahan melainkan manusia biasa karena pengetahuan dan angan-angannya yang terbatas, maka dari itu saya sampaikan permohonan maaf yang tulus dan kesediaan untuk berdiskusi serta merekonsiliasi pemikiran bagi yang kurang berkenan dengan tulisan yang memuat alternatif pemikiran ini.

Jakarta, 15 Februari 2015

Setyoko Andra Veda

Iklan