Kotor

by membualsampailemas


Pernah suatu ketika, saya ingat, ketika itu saya masih SMA dan sedang dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, guru saya menanyakan di depan kelas tentang: apa itu politik?

Saya lupa menjawab apa persisnya tapi kurang lebih saya sempat mengutarakan pendapat saya di depan kelas bahwa politik itu sudah kodratnya kotor. Kala itu saya belum terlalu dalam mengenal politik. “Politik itu kotor”, benarkah politik itu selalu kotor? Apa itu politik sampai-sampai orang yang awam pun mengatai demikian, termasuk saya kala itu.

Belakangan saya lebih paham tentang apa itu dan bagaimana itu dunia perpolitikan. Untuk menggapai tujuan, diperlukanlah politik, dan politik itu adalah alat itu sendiri. Dalam perkembangan pemikiran saya, yang mana saya bukan mahasiswa fisip, politik memang ternyata sudah kodratnya untuk selalu ada kekotoran di dalamnya.

Yaitu adalah “kehormatan”, bahan pertaruhan di dalam berpolitik – dalam mencapai tujuan. Poin utama dari berpolitik agaknya adalah pencapaian tujuan, bukan proses dari bagaimana mencapai tujuan itu. Tesis saya tersebut tentu dapat dibantah mentah-mentah oleh para ahli politik, bahkan mungkin oleh mahasiswa ilmu politik tingkat awal pun.

Bukannya tidak memiliki tempat, tapi kehormatan dan kekonsistenan adalah hal yang belakangan terlihat langka di dalam dunia perpolitikan, atau mungkin sepanjang sejarah perpolitikan. Hanya segelintir orang yang mampu bertahan dengan kekonsistenan mereka dalam dunia politik, atas ucapan, perbuatan, dan integritas mereka, sisanya tersingkir karena konsisten, dan dengan itulah mereka mendapat kehormatan. Kekonsistenan dalam ucapan maupun perbuatan tentu bukan harga mutlak, karena kita tak memungkiri perubahan pikiran dan wawasan seorang yang berkecimpung dalam politik yang akan mengubah perbuatannya, kan iya?

Janji, adalah salah satu yang membuat manusia mempertaruhkan kehormatannya. Pernah suatu ketika saya menonton serial Game of Thrones saat berkisah tentang hari pemenggalan Ned Stark yang selalu menjaga janji dan kehormatannya serta keluarganya dalam menjadi the King’s Hand. Kehormatan membuatnya mati dan tersingkir dari cerita, sementara sisanya yang bertahan kebanyakan adalah orang yang lebih bisa diajak berkompromi, bisa dikatakan yang munafik.

Namun dari situlah orang mendapatkan apa itu yang dinamakan kehormatan, kewibawaan, kebesaran, kebijaksanaan di atas orang-orang lain. Semua orang sadar bahwa itu adalah suatu penghargaan, termasuk musuh politiknya sendiri. Musuh-musuh Ned Stark sadar bahwa kehormatanlah yang membunuh Ned, dan mengakui bahwa ia adalah seorang yang lebih terhormat daripada dirinya sendiri.

Persepsi. Perbedaan persepsi dari tiap orang lah yang membuat orang lebih memilih mempertahankan kehormatan atau tidak dalam mencapai tujuan. Pentingkah mempertahankan kehormatan dalam mencapai tujuan? Selera. Tapi secara umum, mayoritas manusia menghargai kehormatan dan benci akan ketidakkonsistenan seseorang dalam berucap maupun berbuat.

Pada akhirnya, politik memanglah dikodratkan tidak terlepas dari kekotoran jiwa orang-orang yang bermain di dalamnya. Terlalu fokus pada tujuan yang ingin dicapai dan mengabaikan nilai-nilai moral sudah seolah-olah lazim di dalam politik.

Cara terbaik menolong orang mungkin bukan duduk di belakang meja, tapi itu mungkin dengan bertindak mengotori tanganmu dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan.” – Ser Davos Seaworth

“Melakukan apa yang seharusnya dilakukan”. Lantas, sudahkah kita tahu apa yang seharusnya kita lakukan?

Jika sudah tahu apa tujuan, hendaknya tahu apa yang perlu dan apa yang tidak perlu dilakukan.

Bogor, 19 April 2015

Setyoko Andra Veda

Iklan