Penting

by membualsampailemas


Negara ini kacau, jika masalah-masalah yang kurang terlalu penting malah dijadikan penting, dan sebaliknya yaitu masalah yang penting malah dikesampingkan. Mungkin sudah beberapa tahun belakangan ini sejak dunia pertelevisian membebaskan dirinya untuk berekspresi, walau dia bodoh, karena ada kebebasan berkespresi itu, maka awam mulai bias untuk membedakan mana masalah penting dan masalah yang tidak penting, mana yang substansial, dan mana yang tidak substansial. Ternyata kita memang benar-benar sial.

Bagaimana mungkin kita sial? Kita hidup di negara yang gemah ripah loh jinawi , yang begitu kaya akan segala sumber daya alam, tanahnya subur dan penduduknya “berpotensi” makmur. Saya tambahkan kata “berpotensi”, karena masih ada yang belum makmur sepertinya, atau mungkin juga yang ‘merasa’ belum makmur. Kita sial karena kebanyakan dari kita sudah susah membedakan mana hal yang penting atau tidak penting. Susah memprioritaskan masalah mana dulu yang hendak diselesaikan. Susah mengambil keputusan mana yang lebih bernilai dibanding yang lain.

Mari kita cari tahu penyebabnya. Menurut subejo, ini hanya dikarenakan tontonan yang makin tidak bermutu. Kita ambil contoh, ada seorang yang maruk mengambil peran sebagai eksekutif, padahal dia hanya memiliki ranah legislatif. Mungkin orang tersebut memang maruk atau mungkin dia juga adalah korban. Korban dari ketidaktahuannya akan hal yang penting dan hal yang tidak penting, atau hal yang menjadi tugasnya dan hal yang bukan tugasnya. Tesis subejo mengarah pada hal yang kedua, karena negeri ini memang sedang dilanda rantai ketidaktahuan antara hal penting dan tidak penting.

Itu baru satu contoh kasus, masih ada rentetan lainnya yang menyambung kepada kasus legislator tersebut, yaitu tatkala ada seorang eksekutif yang melaporkan kepada mahkamah kehormatan dewan tentang percakapan antara sang legislator dengan pengusaha pertambangan yang isinya (katanya) seputar papa minta saham, maka ada kawan dari legislator ini yang entah bagaimana pikirannya malahan mempermasalahkan siapa yang merekam pembicaraan tersebut, dan menyalahkan si perekam karena tidak meminta izin kepada si terekam. Hal tersebut (katanya) bisa dipidanakan.

Lha ini kan juga lucu? Kawan legislator yang sama-sama legislator itu seolah-olah (atau memang) mengabaikan kesalahan koleganya yang telah mengambil peran eksekutor. Padahal si legislator tersebut sudah mengakuinya, lha kok malah kawannya malah mempermasalahkan rekaman tersebut, bukan menyelidiki atau mencari tahu lebih lanjut apa motif sebenarnya dibalik percakapan yang ada di rekaman tersebut (atau dia sudah tahu motifnya).

Contoh lain adalah perihal masalah keartisan. Hal yang berhubungan dengan artis itu sepertinya asyik untuk dibicarakan oleh infotainmen karena sepertinya mencerminkan kepribadian masing-masing kita (atau beberapa diantara kita?). soal ustadz (atau yang katanya ustadz?) berpoligami lalu mencampakan salah satu istrinya, soal artis bertengkar dengan pacarnya di media sosial beberapa hari menjelang pernikahannya, dan sebagainya.. subejo pun sebenarnya kurang tahu masalah yang sebenarnya.

Apakah itu semua penting? Nnah, sepertinya kita harus membuat definisi masalah yang penting itu yang seperti apa, karena sebenarnya arti penting itu sendiri sangat subjektif dan terlalu melekat pada kepentingan orang, sedangkan masing-masing orang memiliki kepentingan berbeda. Ke-PENTING-an yang berbeda itu lah yang memaksa orang-orang yang tidak memiliki kepentingan malah terlibat dalam tetek bengek masalah.

Masalah membedakan penting dan tidak penting itu sendiri adalah penting menurut Subejo, dan begitukan menurut kalian? Atau ini juga sebenarnya tidak penting? Kalau sudah menyangkut banyak orang, apakah itu akan lebih penting dan begitu juga sebaliknya?