Mikro-Makro

by membualsampailemas


Inilah perpisahan antara aku dan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya

Begitulah kata-kata yang disampaikan Khidr pada Musa tatkala mereka hendak berpisah. Musa-yang selalu mempertanyakan tingkah laku Khidr sejak pertemuan mereka-telah diingatkan sebelumnya bahwa ia takkan kuat bersama Khidr, tapi Musa bersikeras.
Kisah itu diabadikan dalam Al Quran di surat Al-Kahfi, yang membuat kita berpikir ulang bahwa kehendak Allah tidak dapat kita (manusia biasa) terka dan seketika diterima. Bahwa Allah ternyata memiliki sekenario makro tanpa mengesampingkan hal-hal yang mikro.
Untuk saya pribadi, kisah antara Khidr dan Musa memiliki pelajaran tersirat yang lain: Ketidaktahuan manusia akan suatu skenario besar; dan Manusia selalu terlibat dalam skenario kecil. Makro-Mikro. Ketika kita berbicara tentang Makro, kita tidak bisa berbicara tentang Mikro. Teori Makro itu untuk hal yang makro, begitu juga dengan teori mikro.
Hal yang sama tergambar dalam film Hyena Road; ketika Mitchell-sang intel-menyuruh seorang tentara untuk tidak menembak para penculik anak-anak di Afghanistan yang notabene akan menjual mereka. Tentara itu yang sudah siap menarik pelatuk senapan runduknya hanya bisa melihat dengan getir adegan penculikan itu tanpa mampu berbuat apa pun. Mitchell memiliki skenario lain, skenario yang lebih besar dari yang dipikirkan oleh “pemain lapangan” seperti si tentara tadi. Dan memang pada akhirnya, anak-anak itu berhasil diselamatkan.
Kisah-kisah itu, dan mungkin banyak lagi kisah-kisah lain, mengajarkan pada kita bahwa seharusnya manusia itu berpikir menyeluruh tentang suatu kejadian dan tidak terpaku pada realita yang hanya ada di depan mata kepalanya saja. Karena sejatinya realita itu ada tidak hanya di depan mata kita, tapi juga ada di belakang, di samping, di atas, atau di bawah kepala kita. Realita ada di mana-mana. Persoalannya adalah kita tidak tahu realita lain selain yang kita lihat ada di depan mata kepala kita. Persoalan lainnya yang muncul adalah: mau tidaknya kita untuk mengerti dan memaklumi skenario besar yang sedang terjadi dengan kadang “mengabaikan” hal yang terjadi di depan mata kepala kita. Tapi, mampukah kita demikian?
Jawabannya kadang bisa, kadang tidak. Memang sangat sulit untuk memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi secara menyeluruh.
Ketika para warga Dukuh Paruk hancur secara fisik maupun mental akibat terseret arus konflik tahun 1965 dan mereka divonis sebagai pengkhianat negara; mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang bisa diketahui oleh orang-orang di Dukuh Paruk, sebuah wilayah terpencil yang jauh dari Ibu Kota (meski masih satu pulau). Mereka tidak tahu apa pun tapi mau tak mau ikut menanggung derita itu. Mereka adalah skenario kecil yang terombang-ambing pada skenario besar.
Pada konteks Indonesia, kitakah demikian?

Iklan