The Subejo

Mlaku Bareng-bareng

Mata Rantai dan Ketidaktahuan

Dalam berbagai kesempatan, aku berusaha untuk menjadi sebuah “mata rantai” informasi yang mengalir. Ya, mata rantai adalah satu hal yang menghubungkan ujung dengan ujung, sedangkan informasi mungkin tiada akan berujung kecuali pada yang lupa atau dilupakan. Dia datang dan pergi silih berganti, mengarungi pikiran untuk sasaat lagi kembali pergi entah kemana. Mungkin begitulah informasi dewasa kini.

Aku tidak dapat membayangkan betapa kemajuan umat manusia begitu pesat sejak dimulainya era komputer pribadi yang kini menjadi barang yang biasa setelah sebelumnya pernah menjadi barang yang mewah. Hampir segala pengetahuan bisa didapatkan melalui interkoneksi antar komputer pribadi, aliran data dan informasi mengalir terus menerus bahkan berputar dari satu tempat di belahan bumi lain ke belahan bumi sini. Dengan sangat cepat, begitu cepat, bagaikan cahaya, dia sampai melalui hantaran jari jemari kita yang menempel pada tuts kibor komputer maupun mouse, sekehendak kita, umat manusia, yang menggunakan internet untuk membagikan berbagai peristiwa yang dialami secara pribadi maupun tidak.

Mata rantai memang selalu dan pastilah bertugas untuk menyambungkan dan menyusun, tanpanya maka tidak ada rantai. Di sinilah kita berada, setidaknya dalam satu perspektif ini. Bagaikan instalasi listrik, manusia memasuki peran sebagai kabel, dan informasi menjadi arusnya.

Namun pernahkah kita berpikir pula bahwa sebagai pribadi, sebagai manusia, kita adalah mata rantai yang sangat berguna bagi kelestarian spesias kita: manusia. Orang tua kita adalah mata rantai umat manusia yang sudah dimulai sejak dahulu kala sejak nabi Adam tercipta, manusia pertama yang ada di bumi ini, dan kita adalah ujung mata rantai itu selama belum lagi memiliki keturunan. Jika saja kita telah memiliki keturunan kelak, maka tugas kita sebagai mata rantai kehidupan dan keberlangsungan spesies manusia telah berjalan dengan baik. Asalkan tidak meninggal di usia muda sebelum memiliki keturunan atau mandul, manusia adalah mata rantai, bukan ujung daripada rantai.

Tanpa terlalu banyak dipikirkan oleh sebagian besar orang, kita telah membentuk cabang-cabang kehidupan yang rumit dan saling melilit yang sulit untuk diurai kembali asal muasalnya. Oleh karenanya, manusia berusaha untuk menemukan siapa sebenarnya dirinya sejak dahulu kala hingga kini. Secara ilmu eksak, sepanjang pengetahuan saya, umat manusia belum menemukan bagaimana spesies kita dapat memulai kehidupan yang begitu canggih dan rumit seperti sekarang ini. Yang sebagaian orang percayai adalah bahwa melalui petunjuk Tuhan, manusia pertama di muka bumi adalah Adam dan Hawa.

Sifat dasar manusia adalah salah satunya keingintahuannya yang tinggi terhadap sesuatu hal, diantaranya adalah asal usulnya di muka bumi ini. Apakah kita sama dengan hewan lain yang berdampingan dengan kita? Keingintahuan manusia bukanlah hal yang tabu untuk diungkapkan, termasuk ingin mengetahui asal muasal kehidupan. Karena ingin tahu itu sendiri berasal dari pancaran sinar Tuhan yang ada di otak kita.

Saya sendiri penasaran, bagaimana semua ini bisa dimulai dan prosesnya yang menakjubkan itu bagaimana? Namun, sementara ini (dan bisa saja selamanya) saya hanya menemui kebuntuan dalam berpikir tentang hal itu. Karena ketidaktahuan manusia adalah wilayah dimana Tuhan bersemayam, artinya sebagai manusia, kita akan terus bergantung dan mempercayai Tuhan karena ketidaktahuan kita akan segalanya.

Hal tersebut di atas bukan berarti wilayah yang manusia ketahui bukanlah tempat Tuhan bersemayam, ketahui adalah tempat pencerahan Tuhan terhadap kehidupan dunia. Ilmu dan pemikiran, serta rasa keingintahuan yang memuncak daripada umat manusia sejatinya hanyalah pancaran sinar Tuhan semata, untuk menunjukkan keberadaanNya. Itu adalah salah satu caraNya menunjukkan eksistensi kepada manusia jika dia berpikir dan memikirkan segalanya dengan runut.

Mikro-Makro

Inilah perpisahan antara aku dan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya

Begitulah kata-kata yang disampaikan Khidr pada Musa tatkala mereka hendak berpisah. Musa-yang selalu mempertanyakan tingkah laku Khidr sejak pertemuan mereka-telah diingatkan sebelumnya bahwa ia takkan kuat bersama Khidr, tapi Musa bersikeras.
Kisah itu diabadikan dalam Al Quran di surat Al-Kahfi, yang membuat kita berpikir ulang bahwa kehendak Allah tidak dapat kita (manusia biasa) terka dan seketika diterima. Bahwa Allah ternyata memiliki sekenario makro tanpa mengesampingkan hal-hal yang mikro.
Untuk saya pribadi, kisah antara Khidr dan Musa memiliki pelajaran tersirat yang lain: Ketidaktahuan manusia akan suatu skenario besar; dan Manusia selalu terlibat dalam skenario kecil. Makro-Mikro. Ketika kita berbicara tentang Makro, kita tidak bisa berbicara tentang Mikro. Teori Makro itu untuk hal yang makro, begitu juga dengan teori mikro.
Hal yang sama tergambar dalam film Hyena Road; ketika Mitchell-sang intel-menyuruh seorang tentara untuk tidak menembak para penculik anak-anak di Afghanistan yang notabene akan menjual mereka. Tentara itu yang sudah siap menarik pelatuk senapan runduknya hanya bisa melihat dengan getir adegan penculikan itu tanpa mampu berbuat apa pun. Mitchell memiliki skenario lain, skenario yang lebih besar dari yang dipikirkan oleh “pemain lapangan” seperti si tentara tadi. Dan memang pada akhirnya, anak-anak itu berhasil diselamatkan.
Kisah-kisah itu, dan mungkin banyak lagi kisah-kisah lain, mengajarkan pada kita bahwa seharusnya manusia itu berpikir menyeluruh tentang suatu kejadian dan tidak terpaku pada realita yang hanya ada di depan mata kepalanya saja. Karena sejatinya realita itu ada tidak hanya di depan mata kita, tapi juga ada di belakang, di samping, di atas, atau di bawah kepala kita. Realita ada di mana-mana. Persoalannya adalah kita tidak tahu realita lain selain yang kita lihat ada di depan mata kepala kita. Persoalan lainnya yang muncul adalah: mau tidaknya kita untuk mengerti dan memaklumi skenario besar yang sedang terjadi dengan kadang “mengabaikan” hal yang terjadi di depan mata kepala kita. Tapi, mampukah kita demikian?
Jawabannya kadang bisa, kadang tidak. Memang sangat sulit untuk memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi secara menyeluruh.
Ketika para warga Dukuh Paruk hancur secara fisik maupun mental akibat terseret arus konflik tahun 1965 dan mereka divonis sebagai pengkhianat negara; mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang bisa diketahui oleh orang-orang di Dukuh Paruk, sebuah wilayah terpencil yang jauh dari Ibu Kota (meski masih satu pulau). Mereka tidak tahu apa pun tapi mau tak mau ikut menanggung derita itu. Mereka adalah skenario kecil yang terombang-ambing pada skenario besar.
Pada konteks Indonesia, kitakah demikian?

Penting

Negara ini kacau, jika masalah-masalah yang kurang terlalu penting malah dijadikan penting, dan sebaliknya yaitu masalah yang penting malah dikesampingkan. Mungkin sudah beberapa tahun belakangan ini sejak dunia pertelevisian membebaskan dirinya untuk berekspresi, walau dia bodoh, karena ada kebebasan berkespresi itu, maka awam mulai bias untuk membedakan mana masalah penting dan masalah yang tidak penting, mana yang substansial, dan mana yang tidak substansial. Ternyata kita memang benar-benar sial.

Bagaimana mungkin kita sial? Kita hidup di negara yang gemah ripah loh jinawi , yang begitu kaya akan segala sumber daya alam, tanahnya subur dan penduduknya “berpotensi” makmur. Saya tambahkan kata “berpotensi”, karena masih ada yang belum makmur sepertinya, atau mungkin juga yang ‘merasa’ belum makmur. Kita sial karena kebanyakan dari kita sudah susah membedakan mana hal yang penting atau tidak penting. Susah memprioritaskan masalah mana dulu yang hendak diselesaikan. Susah mengambil keputusan mana yang lebih bernilai dibanding yang lain.

Mari kita cari tahu penyebabnya. Menurut subejo, ini hanya dikarenakan tontonan yang makin tidak bermutu. Kita ambil contoh, ada seorang yang maruk mengambil peran sebagai eksekutif, padahal dia hanya memiliki ranah legislatif. Mungkin orang tersebut memang maruk atau mungkin dia juga adalah korban. Korban dari ketidaktahuannya akan hal yang penting dan hal yang tidak penting, atau hal yang menjadi tugasnya dan hal yang bukan tugasnya. Tesis subejo mengarah pada hal yang kedua, karena negeri ini memang sedang dilanda rantai ketidaktahuan antara hal penting dan tidak penting.

Itu baru satu contoh kasus, masih ada rentetan lainnya yang menyambung kepada kasus legislator tersebut, yaitu tatkala ada seorang eksekutif yang melaporkan kepada mahkamah kehormatan dewan tentang percakapan antara sang legislator dengan pengusaha pertambangan yang isinya (katanya) seputar papa minta saham, maka ada kawan dari legislator ini yang entah bagaimana pikirannya malahan mempermasalahkan siapa yang merekam pembicaraan tersebut, dan menyalahkan si perekam karena tidak meminta izin kepada si terekam. Hal tersebut (katanya) bisa dipidanakan.

Lha ini kan juga lucu? Kawan legislator yang sama-sama legislator itu seolah-olah (atau memang) mengabaikan kesalahan koleganya yang telah mengambil peran eksekutor. Padahal si legislator tersebut sudah mengakuinya, lha kok malah kawannya malah mempermasalahkan rekaman tersebut, bukan menyelidiki atau mencari tahu lebih lanjut apa motif sebenarnya dibalik percakapan yang ada di rekaman tersebut (atau dia sudah tahu motifnya).

Contoh lain adalah perihal masalah keartisan. Hal yang berhubungan dengan artis itu sepertinya asyik untuk dibicarakan oleh infotainmen karena sepertinya mencerminkan kepribadian masing-masing kita (atau beberapa diantara kita?). soal ustadz (atau yang katanya ustadz?) berpoligami lalu mencampakan salah satu istrinya, soal artis bertengkar dengan pacarnya di media sosial beberapa hari menjelang pernikahannya, dan sebagainya.. subejo pun sebenarnya kurang tahu masalah yang sebenarnya.

Apakah itu semua penting? Nnah, sepertinya kita harus membuat definisi masalah yang penting itu yang seperti apa, karena sebenarnya arti penting itu sendiri sangat subjektif dan terlalu melekat pada kepentingan orang, sedangkan masing-masing orang memiliki kepentingan berbeda. Ke-PENTING-an yang berbeda itu lah yang memaksa orang-orang yang tidak memiliki kepentingan malah terlibat dalam tetek bengek masalah.

Masalah membedakan penting dan tidak penting itu sendiri adalah penting menurut Subejo, dan begitukan menurut kalian? Atau ini juga sebenarnya tidak penting? Kalau sudah menyangkut banyak orang, apakah itu akan lebih penting dan begitu juga sebaliknya?

SEMBOJAN (TIGAPAGI)

Sudah sejak era album Roekmana’s Repertoire, saya telah jatuh cinta pada Tigapagi. Grup musik yang terdiri dari trio pemuda sunda yang jenius dalam bermusik ini telah begitu lihai mengerjakan sebuah karya yang baik dan bagus untuk disimak.

Mungkin masih banyak diantara kalangan muda yang kurang mengenal mereka karena memang bukan jalan musik populer yang mereka tempuh, tapi musik Indie. Hanya beberapa kalangan yang mengenal grup musik ini dan bersedia membeli CD mereka.

Ketika Roekamana’s Repertoire muncul yang menggabungkan seluruh lagu menjadi satu, kali ini sebuah Entitas Pendek (EP) dari Tigapagi disusun dengan cara yang sama: dirangkai. Judul EP itu adalah Sembojan (Semboyan/Motto) yang terdiri dari 3 buah lagu yang dirangkai jadi satu dan nyaris tidak tahu di detik mana pemisah antar lagu.

Nuansa khas Tigapagi muncul sejak pertama hingga akhir, yaitu alunan nada pentatonis sunda dan petika rumit gitar yang tidak biasa dan terangkai dengan indah. Alunan melodinya sepintas mengandung kegetiran dan kepahitan akan suatu peristiwa. Ya, memang yang ditonjolkan disini (diangkat) adalah peristiwa G30S/PKI.

Untuk yang belum mendengarkan Tigapagi, sangat direkomendasikan buat mendengarkan Sembojan ini karena dijamin akan menemukan sesuatu yang baru. Selamat mencoba!!

Kotor

Pernah suatu ketika, saya ingat, ketika itu saya masih SMA dan sedang dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, guru saya menanyakan di depan kelas tentang: apa itu politik?

Saya lupa menjawab apa persisnya tapi kurang lebih saya sempat mengutarakan pendapat saya di depan kelas bahwa politik itu sudah kodratnya kotor. Kala itu saya belum terlalu dalam mengenal politik. “Politik itu kotor”, benarkah politik itu selalu kotor? Apa itu politik sampai-sampai orang yang awam pun mengatai demikian, termasuk saya kala itu.

Belakangan saya lebih paham tentang apa itu dan bagaimana itu dunia perpolitikan. Untuk menggapai tujuan, diperlukanlah politik, dan politik itu adalah alat itu sendiri. Dalam perkembangan pemikiran saya, yang mana saya bukan mahasiswa fisip, politik memang ternyata sudah kodratnya untuk selalu ada kekotoran di dalamnya.

Yaitu adalah “kehormatan”, bahan pertaruhan di dalam berpolitik – dalam mencapai tujuan. Poin utama dari berpolitik agaknya adalah pencapaian tujuan, bukan proses dari bagaimana mencapai tujuan itu. Tesis saya tersebut tentu dapat dibantah mentah-mentah oleh para ahli politik, bahkan mungkin oleh mahasiswa ilmu politik tingkat awal pun.

Bukannya tidak memiliki tempat, tapi kehormatan dan kekonsistenan adalah hal yang belakangan terlihat langka di dalam dunia perpolitikan, atau mungkin sepanjang sejarah perpolitikan. Hanya segelintir orang yang mampu bertahan dengan kekonsistenan mereka dalam dunia politik, atas ucapan, perbuatan, dan integritas mereka, sisanya tersingkir karena konsisten, dan dengan itulah mereka mendapat kehormatan. Kekonsistenan dalam ucapan maupun perbuatan tentu bukan harga mutlak, karena kita tak memungkiri perubahan pikiran dan wawasan seorang yang berkecimpung dalam politik yang akan mengubah perbuatannya, kan iya?

Janji, adalah salah satu yang membuat manusia mempertaruhkan kehormatannya. Pernah suatu ketika saya menonton serial Game of Thrones saat berkisah tentang hari pemenggalan Ned Stark yang selalu menjaga janji dan kehormatannya serta keluarganya dalam menjadi the King’s Hand. Kehormatan membuatnya mati dan tersingkir dari cerita, sementara sisanya yang bertahan kebanyakan adalah orang yang lebih bisa diajak berkompromi, bisa dikatakan yang munafik.

Namun dari situlah orang mendapatkan apa itu yang dinamakan kehormatan, kewibawaan, kebesaran, kebijaksanaan di atas orang-orang lain. Semua orang sadar bahwa itu adalah suatu penghargaan, termasuk musuh politiknya sendiri. Musuh-musuh Ned Stark sadar bahwa kehormatanlah yang membunuh Ned, dan mengakui bahwa ia adalah seorang yang lebih terhormat daripada dirinya sendiri.

Persepsi. Perbedaan persepsi dari tiap orang lah yang membuat orang lebih memilih mempertahankan kehormatan atau tidak dalam mencapai tujuan. Pentingkah mempertahankan kehormatan dalam mencapai tujuan? Selera. Tapi secara umum, mayoritas manusia menghargai kehormatan dan benci akan ketidakkonsistenan seseorang dalam berucap maupun berbuat.

Pada akhirnya, politik memanglah dikodratkan tidak terlepas dari kekotoran jiwa orang-orang yang bermain di dalamnya. Terlalu fokus pada tujuan yang ingin dicapai dan mengabaikan nilai-nilai moral sudah seolah-olah lazim di dalam politik.

Cara terbaik menolong orang mungkin bukan duduk di belakang meja, tapi itu mungkin dengan bertindak mengotori tanganmu dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan.” – Ser Davos Seaworth

“Melakukan apa yang seharusnya dilakukan”. Lantas, sudahkah kita tahu apa yang seharusnya kita lakukan?

Jika sudah tahu apa tujuan, hendaknya tahu apa yang perlu dan apa yang tidak perlu dilakukan.

Bogor, 19 April 2015

Setyoko Andra Veda

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.137 pengikut lainnya